
Thephrase.id - Perjalanan Timnas Maroko di Piala Dunia 2026 terus berlanjut dengan nuansa yang berbeda dari empat tahun lalu. Kemenangan 3-0 atas Timnas Kanada pada babak 16 besar di Houston menunjukkan mereka kini mampu meraih hasil maksimal bahkan tanpa harus menampilkan permainan yang memikat.
Kemenangan atas salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 tersebut diraih melalui cara yang jauh dari kata atraktif, karena Timnas Maroko hanya mencatatkan lima percobaan tepat sasaran.
Jumlah paling sedikit yang pernah dibukukan tim pemenang dalam babak gugur Piala Dunia, sementara babak pertama pertandingan itu juga menjadi yang pertama dalam sejarah turnamen dengan jumlah kartu kuning lebih banyak daripada jumlah tembakan.
Terlepas dari cara meraih kemenangan, Timnas Maroko kini semakin sulit dipandang sekadar kejutan karena mereka tidak hanya belum terkalahkan sepanjang Piala Dunia 2026.
Meskipun catatan tersebut masih menyertakan kemenangan administratif atas Timnas Senegal pada final Piala Afrika 2026 yang saat ini masih dalam proses gugatan hukum.
Sementara kekalahan terakhir Timnas Maroko terjadi saat tumbang 0-1 dari Timnas Kenya pada African Nations Championship pada Agustus 2025.
Setelah sempat berada di bawah tekanan pada 15 menit awal pertandingan ketika Bono menggagalkan peluang Jonathan David dan Tani Oluwaseyi serta Maroko kembali gagal mencatatkan sentuhan di kotak penalti lawan pada seperempat jam pertama untuk laga kedua berturut-turut, Atlas Lions secara bertahap mampu mengendalikan jalannya pertandingan hingga akhirnya memegang kendali penuh.
Dalam pertemuan dua negara yang sama-sama tengah menikmati generasi emas sepak bola, Timnas Maroko bermain lebih efektif dengan berhasil meredam distribusi bola Stephen Eustaquio, meminimalkan pengaruh Jonathan David, serta memanfaatkan absennya Alphonso Davies yang hanya bisa menyaksikan dari bangku cadangan akibat cedera.
"Mereka sedikit tertekan, tetapi mereka tidak sampai runtuh," kata pelatih Timnas Kanada, Jesse Marsch, dilansir BBC.
Sementara Timnas Kanada kesulitan menemukan ritme permainan, kapten Timnas Maroko, Achraf Hakimi, terus menghadirkan ancaman baik saat menguasai bola maupun dalam duel-duel fisik, sedangkan Brahim Diaz kembali menunjukkan perannya sebagai kreator utama dengan menyumbangkan dua assist yang membuat total catatannya di Piala Dunia menjadi empat, terbanyak sepanjang sejarah untuk pemain Afrika.
"Babak pertama berjalan sangat intens, ada beberapa penyesuaian yang harus dilakukan saat jeda pertandingan, dan kami tidak pernah benar-benar aman dari tekanan," kata pelatih Timnas Maroko, Mohamed Ouahbi.
"Yang terpenting adalah kami tidak mengubah identitas kami, kami tidak mengubah filosofi permainan kami, ada banyak ide yang muncul dan kami memilih yang terbaik," lanjut Ouahbi.
"Kami bermain di Piala Dunia, yang berarti akan selalu ada momen-momen sulit, dan yang terpenting adalah ketika kami tidak berada dalam performa terbaik, kami harus tetap tangguh serta mengingat untuk siapa kami bermain dan apa tujuan kami bermain," tegas Ouahbi.
Keberhasilan melangkah ke perempat final untuk dua edisi Piala Dunia secara beruntun membuat Timnas Maroko kini telah memenangi empat pertandingan babk gugur sepanjang sejarah Piala Dunia, dua pada 2022 dan dua pada 2026, atau setara dengan total kemenangan seluruh negara Afrika lainnya.
Ini sekaligus menempatkan Timnas Maroko hanya satu kemenangan lagi untuk menyamai pencapaian bersejarah di Qatar 2022 ketika menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal.
Perjalanan Timnas Maroko menuju posisi sebagai salah satu kandidat kuat juara dunia tidak dibangun dalam waktu singkat karena setelah sempat mengalami periode tanpa lolos Piala Dunia selama dua dekade seusai tampil tiga kali dari empat edisi antara 1986 hingga 1998.
Investasi jangka panjang yang didukung Raja Mohammed VI melalui pembangunan akademi sepak bola pada 2009 dan kompleks pelatihan senilai 65 juta dolar AS (Rp1,1 triliun) pada 2019 memungkinkan merekrut talenta diaspora seperti Achraf Hakimi dan Brahim Diaz yang lahir di Spanyol, sekaligus membangun fondasi yang kini menjadikan Maroko sebagai negara dengan peringkat tertinggi di Afrika.
"Semua yang terjadi dalam sepak bola Maroko saat ini adalah berkat Mohammed VI karena beliau telah berinvestasi sangat besar dalam beberapa tahun terakhir, terutama untuk akademi ini," imbuh Ouahbi.
"Ini bukan lagi sebuah kejutan karena sekarang ketika orang berbicara tentang Maroko, mereka membicarakan kandidat juara yang sesungguhnya dan sebuah kekuatan besar sepak bola, dan kami berharap perjalanan seperti ini bisa terus berlanjut selama bertahun-tahun karena kami tidak ingin berhenti," tutur Ouahbi.