
ThePhrase.id - Bagi sebagian besar masyarakat, membeli BBM di SPBU atau memperoleh LPG di pangkalan terdekat mungkin menjadi hal yang biasa. Energi hadir setiap hari dan menjadi bagian penting yang menggerakkan berbagai aktivitas, mulai dari bekerja, menjalankan usaha, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Namun, di negara kepulauan seperti Indonesia, menghadirkan energi hingga ke tangan masyarakat bukanlah perkara sederhana. Dengan lebih dari 17 ribu pulau dan kondisi geografis yang beragam, distribusi BBM dan LPG membutuhkan jaringan logistik yang mampu menembus lautan, pegunungan, hingga wilayah terpencil yang sulit dijangkau.
Karena itu, ketahanan energi nasional tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya atau kapasitas produksi, tetapi juga kemampuan memastikan energi dapat diakses secara merata oleh seluruh masyarakat. Di balik setiap liter BBM dan tabung LPG yang diterima, terdapat rantai pasok panjang yang bekerja secara terintegrasi, mulai dari pengolahan di kilang, penyimpanan, pengangkutan, hingga penyaluran ke berbagai daerah.
Sepanjang tahun 2025, Pertamina melalui Subholding Downstream menyalurkan 18,23 juta kiloliter Solar Subsidi, 28,06 juta kiloliter Pertalite, 507,94 ribu kiloliter minyak tanah, serta 8,52 juta metrik ton LPG Tabung 3 Kg kepada masyarakat di seluruh Indonesia.
Penyaluran tersebut didukung oleh infrastruktur yang tersebar dari kota besar hingga wilayah terpencil. Hingga akhir 2025, Pertamina mengoperasikan 15.380 titik penyaluran BBM dan 273.388 pangkalan LPG di 38 provinsi yang menjadi tulang punggung distribusi energi nasional.
Di daerah yang belum terjangkau SPBU, kehadiran Pertashop turut memperluas akses masyarakat terhadap energi. Sebanyak 6.703 Pertashop telah beroperasi untuk melayani kebutuhan warga, terutama di kawasan pedesaan dan wilayah dengan keterbatasan infrastruktur.
Upaya pemerataan akses energi juga diwujudkan melalui program BBM Satu Harga. Sejak 2017 hingga 2025, sebanyak 588 lembaga penyalur telah dibangun di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), sehingga masyarakat di berbagai daerah dapat memperoleh BBM dengan harga yang setara.

Sementara itu, distribusi LPG bersubsidi terus diperluas melalui Program One Village One Outlet (OVOO). Program ini telah menjangkau 70.451 desa dan kelurahan atau sekitar 96,3 persen wilayah Indonesia, sehingga masyarakat semakin mudah mendapatkan LPG Tabung 3 Kg, termasuk di wilayah pelosok.
Kelancaran distribusi energi antarpulau juga ditopang oleh 481 armada kapal yang beroperasi sepanjang 2025. Armada tersebut terdiri atas 110 kapal tanker, satu unit Floating Storage Offloading (FSO), dan 370 marine support vessel yang memastikan pasokan energi dapat dikirim secara aman dan tepat waktu ke berbagai daerah.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan bahwa ketahanan energi tidak hanya bergantung pada kecukupan pasokan, tetapi juga kemampuan menghadirkan energi hingga ke seluruh penjuru negeri.
Menurutnya, penguatan jaringan distribusi dan infrastruktur menjadi bagian penting untuk memastikan masyarakat memperoleh akses energi di mana pun mereka berada, termasuk di wilayah 3T yang memiliki tantangan geografis lebih besar.
Kehadiran energi yang merata menjadi salah satu kunci untuk menjaga roda perekonomian dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, penguatan infrastruktur serta jaringan distribusi menjadi langkah penting agar setiap wilayah memiliki akses energi yang sama.
Dengan dukungan sistem yang terintegrasi, masyarakat di kota besar maupun daerah terpencil dapat terus memperoleh pasokan BBM dan LPG secara aman, terjangkau, dan berkelanjutan untuk menunjang aktivitas sehari-hari. [nadira]