sportLiga Champions Eropa

Dari Klub Bangkrut hingga Liga Champions, Bagaimana Como 1907 Membidik Valuasi Rp17 Triliun

Penulis Rangga Bijak Aditya
Sep 13, 2026
Como 1907 tengah menikmati perubahan besar dalam waktu kurang dari satu dekade setelah klub asal Italia tersebut diambil alih Djarum Group pada 2019. (Foto: Instagram Como 1907)
Como 1907 tengah menikmati perubahan besar dalam waktu kurang dari satu dekade setelah klub asal Italia tersebut diambil alih Djarum Group pada 2019. (Foto: Instagram Como 1907)

ThePhrase.id - Como 1907 tengah menikmati perubahan besar dalam waktu kurang dari satu dekade setelah klub asal Italia tersebut diambil alih Djarum Group pada 2019 ketika nilainya masih kurang dari Rp20,4 miliar. 

Akan tetapi, kini Como 1907 telah berkembang hingga tampil di level Eropa dan bahkan memasang target valuasi yang dapat menembus Rp20,4 triliun.

Perjalanan itu membawa Como dari klub kecil yang pernah dua kali mengalami kebangkrutan hingga kembali ke Serie A pada 2024 dan kemudian finis di posisi keempat musim lalu, sekaligus mengantarkan ke Liga Champions untuk pertama kalinya.

Presiden Como, Mirwan Suwarso, sebenarnya tidak datang dengan rencana membangun kekuatan sepak bola besar karena awalnya ia bersama sejumlah koleganya di Mola TV hanya ingin membuat dokumenter sepak bola di Italia.

Akan tetapi, pertemuannya dengan Como ketika menjelajahi Milan justru membuka jalan bagi proyek yang kemudian berkembang jauh lebih besar.

"Saya pikir temanya akan familiar bagi penonton, mengingat popularitas Serie A yang sangat besar di Indonesia pada 1990-an," tegas Mirwan dilansir Goal.

Ketika Djarum Group mengambil alih, tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan dana karena pemiliknya adalah Budi dan Bambang Hartono. Melainkan bagaimana mengelola investasi tersebut dengan tepat sehingga Suwarso kemudian meminta bantuan mantan pemain Chelsea dan Timnas Inggris, Dennis Wise, yang awalnya berstatus konsultan sebelum menjadi CEO dan presiden klub.

"Saya mengambil kendali penuh atas klub sepak bola, dari atas sampai bawah, dengan mempekerjakan setiap orang di gedung tersebut, ketika saya datang, klub bahkan tidak memiliki tempat latihan sendiri, hanya menyewa dari tahun ke tahun, bahkan mereka sudah dua kali bangkrut dan jumlah penonton hanya sekitar 800 orang," beber Mirwan.

Wise berupaya membangun kembali fondasi Como melalui peningkatan jumlah suporter, penguatan komunitas, pembangunan tempat latihan, serta pengembangan akademi yang sebelumnya dikelola pihak lain.

Sementara keterbatasan dana transfer membuat klub harus mengandalkan berbagai kesepakatan termasuk penggunaan banyak pemain pinjaman sebelum perlahan berkembang.

"Saat itu tidak terlalu banyak perhatian dari luar dan Mirwan benar-benar membiarkan saya bekerja dengan cara saya, saya tidak pernah memiliki banyak uang untuk dibelanjakan di bursa transfer sehingga saya harus mencoba mendapatkan kesepakatan yang sangat bagus," ucapnya.

"Kami sempat memiliki 14 pemain pinjaman, semuanya tentang menyaring pemain yang masuk dan keluar karena tidak ada uang untuk dibelanjakan, lalu tiba-tiba semuanya mulai berkembang," lanjutnya.

Dari Klub Bangkrut hingga Liga Champions  Bagaimana Como 1907 Membidik Valuasi Rp17 Triliun
Como 1907 telah berkembang hingga tampil di level Eropa dan memasang target valuasi yang dapat menembus Rp20,4 triliun. (Foto: Instagram Como 1907)

Pada 2021, Como kembali ke Serie B dan setahun mendatangkan Cesc Fabregas sebagai pemain sekaligus pemegang saham.

Suatu langkah yang memperlihatkan ambisi pemilik klub, sebelum mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu menjadi sosok sentral dalam proyek tersebut dan mengantarkan Como kembali ke Serie A pada 2024.

"Saya tidak peduli dengan uang, saya hanya ingin bergabung dengan sebuah proyek yang membuat saya bersemangat, saya melihat masa depan jangka panjang untuk klub ini," ungkap Fabregas.

Strategi Como berlanjut dengan investasi besar untuk membangun skuad kompetitif, dengan Football Benchmark mencatat biaya operasional klub mencapai Rp1,06 triliun berbanding pendapatan operasional Rp204,1 miliar ketika promosi dari Serie B.

Sementara neraca transfer bersih Como berada di kisaran minus Rp1,91 triliun pada musim pertama di Serie A dan hampir minus Rp2,22 triliun pada musim berikutnya.

"Kami tidak menetapkan target olahraga yang spesifik, kami berusaha untuk tidak berpikir seperti itu, kami melihat semuanya dari sisi profitabilitas, jika kami dapat mengelola anggaran dengan benar dan menjaganya pada tingkat yang berkelanjutan, kami yakin dapat memperoleh keuntungan dalam dua hingga tiga tahun," ucap Mirwan.

Selain sepak bola, Como juga mengembangkan potensi komersial dari nama Danau Como dengan membangun bisnis merchandise, lisensi, toko, hingga klub privat dengan biaya keanggotaan tahunan sekitar Rp91,9 juta.

Sementara keberadaan sejumlah selebritas dunia di Stadion Sinigaglia turut memperkuat citra eksklusif yang ingin dibangun klub tersebut, dan di sisi olahraga Fabregas menjadi figur utama yang mengembangkan identitas permainan menyerang sekaligus menghubungkan sepak bola dengan sektor pariwisata.

"Dia sangat penting dalam menjalankan rencana yang telah diberikan dewan kepadanya, berbeda dengan klub lain, kami tidak hanya mengandalkan pelatih dan direktur olahraga," imbuhnya.

"Kami memiliki dewan sepak bola yang lebih luas yang mencakup Cesc dan stafnya, serta semua komponen lain dalam manajemen sepak bola, ditambah CFO kami dan saya sendiri yang mewakili pemilik, kami berusaha membuat keputusan sebagai sebuah komite dengan menggunakan DNA yang telah kami bangun sebagai pedoman, tetapi Cesc sangat fundamental dalam membangun DNA tersebut," lanjutnya.

Langkah Como menuju valuasi Rp20,4 triliun masih membutuhkan perjalanan panjang karena pendapatan klub pada 2024-2025 berada di sekitar Rp1,02 triliun.

Tetapi Football Benchmark menilai nilai skuad mereka telah meningkat menjadi sekitar Rp11,93 triliun dari Rp5,88 triliun pada September tahun sebelumnya, sehingga kombinasi performa olahraga, pengembangan stadion, aktivitas komersial, perdagangan pemain, serta kekuatan merek Danau Como.

Menurut Football Benchmark, pendapatan Como juga berpotensi meningkat setelah tampil di Liga Champions, dengan proyeksi pemasukan sekitar Rp612,4 miliar hingga Rp816,6 miliar hanya dari partisipasi di kompetisi tersebut.

Meski target valuasi Rp20,4 triliun tetap dinilai ambisius karena nilai sebuah klub sangat bergantung pada konsistensi prestasi olahraga, perkembangan stadion, pendapatan komersial, serta kemampuan mempertahankan posisi di level tertinggi. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic