
ThePhrase.id - Langit kelabu menghiasi sore itu. Di bawah rintik hujan yang perlahan membasahi tubuh tersimpan tawa dan harapan. Hamparan rumput yang luas menjadi saksi pengorbanan. Air sungai yang mengalir pelan itu seakan menghanyutkan kenangan yang tidak ingin diulang.
Sekolah, bukan hanya menjadi tempat untuk belajar. Sekolah bagai rumah kedua yang seharusnya tercipta lingkungan yang menyenangkan. Setiap sudutnya memiliki rangkaian kisah yang ingin diulang, bukan dilupakan. Kisah itu seharusnya mengukir kenangan yang berkesan. Namun, hal ini berbanding terbalik jika sudut sekolah dipenuhi dengan rona muram. Sampah berserakan, tanah yang gersang, dan pohon yang seolah segan untuk berkembang.
Mungkin sebagian orang melupakan bahwa lapangan dengan hamparan rumput yang luas merupakan bagian dari lingkungan sekolah. Bagian yang seharusnya menjadi tempat untuk mengenal alam. Bagian yang seharusnya nyaman untuk belajar. Bagian yang seharusnya aman untuk berlarian tanpa takut tertusuk benda tajam dan bagian yang seharusnya juga memiliki kenangan.
Ibarat peribahasa air susu dibalas air tuba. Alam memberikan sesuatu yang indah, namun manusia merusaknya dengan sampah. Seperti itulah gambaran sudut lapangan sekolah kala itu. Melansir thephrase.id, menyebarkan kesadaran tentang isu lingkungan dapat dilakukan dalam bentuk apa pun dan oleh siapa pun. Kesadaran bukan hanya milik orang dewasa, bukan hanya milik para petinggi negara, dan bukan hanya milik orang ternama. Gen-Z yang sering dianggap generasi stroberi alias generasi lemah pun punya kontribusi yang sama. ‘Yakin' menjadi kunci utama memerangi tumpukan sampah di sudut sekolah.
Berawal dari tumpukan sampah pada sudut lapangan di sekolah yang dilatarbelakangi oleh kebiasaan warga sekitar membuang sampah sembarangan tanpa adanya penanganan lanjutan. Saskiya Galuh Nurishya (17), ketua Kader Adiwiyata SMA Negeri 1 Bobotsari mengusung kegiatan kreatif menyelamatkan bumi. Jika banyak orang memandang Gen-z sebagai generasi stroberi, Saskiya membantah stigma masyarakat dengan aksinya.
Mengutip thephrase.id, inisiatif merupakan solusi inovatif. Bersama segenap pembina dan tim kader Adiwiyata, Sakiya membangkitkan rasa percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari mana saja. Ia membuat kegiatan dengan memberikan ruang kreasi dan inovasi. "Lomba taman ini awalnya dicetuskan oleh pembina Kader Adiwiyata dalam rangka memperingati hari menanam nasional", ucap Saskiya dengan antusias. Berdasarkan rekomendasi pembina, Saskiya dan timnya merencanakan dengan matang hingga dicetuskan "Lomba Taman" sebagai aksi bagi gen-z untuk menyelamatkan planet bumi.
Menginisiasi suatu kegiatan bukan langkah yang mudah. Saskiya mengalami berbagai tantangan. Namun, tantangan tersebut bukan menjadi hambatan dalam menggerakkan aksinya. Bersama tim kader Adiwiyata SMA Negeri 1 Bobotsari, Saskiya bekerja sama untuk menyelamatkan planet bumi. Kondisi lahan yang kotor, dipenuhi sampah limbah rumah tangga yang bercampur dengan limbah bangunan yang tertimbun menjadi salah satu tantangan dalam kegiatan ini. Terlebih keterbatasan waktu, tenaga, dan peralatan semakin menyulitkan proses pembersihan dan penataan taman. Namun, dengan kerja sama dari berbagai pihak, Saskiya berhasil memimpin kegiatan dengan baik.

Bayangkan jika lapangan yang awalnya hanya hamparan rumput dengan pemandangan sampah di sudutnya berubah menjadi taman bunga yang indah, tetapi tetap tidak menghilangkan fungsi utamanya. Bayangkan jika pulang bukan sekadar mengistirahatkan pikiran, namun menjadi waktu untuk mengukir harapan dan kenangan. Mungkin hanya angan-angan yang tidak pernah menjadi nyata. Tetapi, SMA Negeri 1 Bobotsari berhasil mengubahnya menjadi realita.
Hamparan rumput kini sudah memiliki warna di sudutnya. Warna yang tercipta tidak hanya dari daun dan bunga, tetapi tawa yang kian datang dari aksi kecil siswa. Dari sinilah semua kenangan itu tercipta.
“Awalnya mikir cape karena harus mulai dari awal, potong rumput, ngeratain tanah, mikir konsep, nanem, tapi ternyata ada hikmahnya jadi bisa buat taman sendiri dan pengalaman baru, memacul yang sebelumnya belum biasa dilakukan. Intinya seru," tegas Assyifa salah satu partisipan lomba.
Merawat lingkungan ternyata tidak semenyeramkan yang dibayangkan. Mungkin alasan belum adanya kesadaran lingkungan adalah adanya stigma "kotor, bau, dan bakteri". Namun, sebenarnya tidak demikian. Dari Assyifa kita belajar bahwa pengalaman merawat lingkungan ternyata bisa menyenangkan. "Aku senang karena banyak manfaatnya, siswa jadi lebih melek lingkungan, terus bagian hias taman juga ada nilai estetikanya, termasuk bagian dari melestarikan lingkungan juga," tutur Naufal dengan serius memaparkan partisipasinya pada kegiatan lomba taman. Kesadaran lingkungan bukan hal yang mudah ditanamkan dalam diri setiap individu, tetapi dengan tekad dan semangat berhasil membentuk kesadaran lingkungan mulai dari lingkungan terdekat.
Kala itu, pulang adalah waktu berkesan. Setiap kelas berbondong-bondong membuat taman secantik mungkin untuk memikat hati juri. Seolah tidak ada beban pikiran, mereka tertawa tidak peduli panas ataupun hujan. Di bawah langit yang terkadang terik dan mendung itu mereka membuat satu minggu menjadi kenangan seumur hidup dan pengabdian sepanjang masa. "Momen bercanda bareng teman waktu buat pagar kayanya jadi momen yang belum pernah aku dapat di mana pun," ucap Assyifa dengan senyum yang terukir di wajahnya. Ini menjadi bukti bahwa melestarikan lingkungan tidak hanya membawa dampak bagi lingkungan itu sendiri, tetapi kepuasan diri. Melihat sudut lapangan yang kini nyaman di pandang dan waktu-waktu tidak terlupakan menjadi hal yang berkesan.
“Melalui lomba taman ini, harapannya kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat dihentikan. Saya dan tim Kader Adiwiyata meyakini jika lahan dikelola dengan baik dan dijadikan taman yang bersih, indah, serta rindang, maka fungsi lahan akan berubah menjadi fasilitas yang bermanfaat dan tidak lagi digunakan sebagai tempat pembuangan sampah," jelas Saskiya.
Lomba membuat taman ini merupakan langkah konkret yang mencerminkan kepedulian Gen Z terhadap permasalahan lingkungan. Melalui kegiatan menanam dan merawat taman, kami ikut berkontribusi dalam mengurangi polusi, memperbaiki kualitas lingkungan, serta menciptakan ruang hijau yang mendukung ekosistem.
Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal kecil di sekitar kita. Dengan aksi tersebut, manfaat tidak hanya terasa bagi lingkungan sekolah, tetapi juga bagi lingkungan masyarakat. "Cukup disayangkan kontribusi dari masyarakat sekitar sangat minim padahal seharusnya masalah sampah tersebut menjadi tanggung jawab bersama," ucap Saskiya menambahkan.
Akan tetapi, hal tersebut bukan masalah yang besar bagi Saskiya. Ia percaya bahwa melalui gerakan kecil akan perlahan mengubah cara pandang masyarakat. Dari aksi Gen-Z menyelamatkan bumi, diharapkan generasi lainnya pun akan turut serta dan sadar terhadap planet tempat tinggal kita. "Melalui kegiatan menanam dan merawat taman, kami ikut berkontribusi dalam mengurangi polusi, memperbaiki kualitas lingkungan, serta menciptakan ruang hijau yang mendukung ekosistem. Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal kecil di sekitar kita," tutur Saskiya menjelaskan manfaat kegiatan yang ia gagas bersama.

Memulai bukanlah hal yang mudah, namun dengan memulai kita bisa perlahan menemukan jalan yang mudah. Siapa sangka, sudut lapangan yang penuh dengan tumpukan sampah bisa berubah menjadi taman bunga yang indah? Dari Saskiya kita belajar bahwa mengubah cara pandang harus dimulai dari diri sendiri, memberikan contoh, dan mengajak khalayak. Meskipun dimulai dari lingkungan terdekat, namun langkah besar tidak akan terjadi jika tidak langkah kecil terabaikan dan tindakan sederhana akan memiliki dampak yang besar jika dilakukan bersama-sama. Saskiya berharap agar Gen Z dapat terus menjaga lingkungan. "Bagi teman-teman yang masih kurang peduli terhadap lingkungan saya ingin menyampaikan bahwa lingkungan adalah tanggung jawab semua orang bukan hanya petugas kebersihan, jika bukan kita yang menjaga lingkungan kita sendiri, maka tidak ada lagi yang kita harapkan untuk masa depan," ucapnya dengan penuh harapan. Generasi yang hebat bukan yang paling cepat membawa perubahan, tetapi yang memiliki kesadaran pada hal-hal kecil yang perlu dibenahi di sekitar.