
ThePhrase.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan sebanyak 1.178 orang meninggal dunia, sementara 148 orang masih hilang akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir November 2025 lalu.
Data terbaru merujuk pada Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera 2025, yang dipublikasikan melalui website Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Bencana (Pusdatin BNPB), dan telah diperbarui pada Rabu (7/1) pagi.
“Rekapitulasi terdampak bencana, update data per 7 Januari 2026; Meninggal 1.178 jiwa, hilang 148 jiwa,” demikian keterangan BNPB, yang dipantau ThePhrase.id.
Dari ketiga provinsi tersebut, sebanyak 53 kabupaten/kota terdampak bencana. BNPB mencatat, saat ini total 175.126 rumah warga rusak, dengan rincian 53.432 rumah rusak berat, 45.106 rumah rusak sedang, dan 76.588 rumah rusak ringan.
Kerusakan akibat banjir dan longsor itu tidak hanya menimpa hunian, tetapi juga berbagai fasilitas umum (fasum) seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, hingga jembatan yang menjadi penghubung wilayah sat uke wilayah lainnya.
“Kerusakan fasum; 3.188 fasilitas pendidikan rusak, 803 rumah ibadah rusak, dan 215 fasilitas kesehatan rusak,” jelas BNPB, sementara data kerusakan fasilitas kantor dan jembatan putus belum dapat diakses.
Selain itu, BNPB juga mencatat total sekitar 242.000 warga mengungsi. Berdasarkan data di kabupaten/kota, warga yang mengungsi paling banyak berada di Aceh Tamiang, yakni sekitar 74.700 pengungsi. Kemudian 67.900 di Aceh Utara, 19.900 pengungsi di Gayo Lues, dan lainnya.
Berdasarkan data tersebut, jumlah warga yang mengungsi telah menurun, dari yang sebelumnya pengungsi berada di angka 614.000 jiwa, sebagaimana data per 15 Desember 2025
Adapun BNPB menegaskan bahwa data mengenai korban dan kerusakan infrastruktur akan terus diperbarui dan ada kemungkinan bertambah maupun berkurang, seiring berjalannya proses penanganan darurat di lapangan. (Rangga)