
ThePhrase.id - Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, dawet dikenal sebagai hidangan manis yang menyegarkan, terutama saat dinikmati di tengah cuaca panas. Namun, bagi masyarakat Kulon Progo, dawet hadir dalam bentuk yang berbeda. Disajikan secara unik, dawet sambel menawarkan perpaduan cita rasa manis, gurih, dan pedas yang khas.
Hidangan khas Kulon Progo diperkirakan sudah ada sejak awal 1950an dan berusia sekitar 70an tahun yang berasal dari eksperimen sederhana penjual dawet dan pecel keliling di pasar tradisional desa. Lalu pada tahun 2019, dawet sambel resmi dinobatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai salah satu warisan budaya takbenda.
Seperti namanya, dawet sambel memiliki cita rasa pedas yang berasal dari sambal. Meski terdengar tak lazim, hidangan ini pada dasarnya serupa dengan dawet pada umumnya, namun dilengkapi topping khas berupa sambal.
Tak hanya itu, isiannya pun berbeda. Dawet sambel disajikan dengan taburan tauge, potongan tahu, serta siraman bumbu kacang pedas yang dipadukan dengan sedikit gula jawa. Sambal yang digunakan dibuat dari irisan kelapa yang disangrai, lalu ditumbuk bersama cabai merah, bawang putih, gula pasir, garam, dan terkadang ditambahkan sedikit terasi.
Perpaduan bahan-bahan tersebut menghasilkan cita rasa gurih, manis, dan pedas yang unik, sehingga memberikan daya tarik tersendiri, terutama bagi penikmat kuliner yang ingin merasakan sensasi manis, pedas, dan asin dalam satu sajian.
Menurut sejumlah sumber, keunikan hidangan ini berawal dari kreasi penjual dawet dan pecel di Desa Jatimulyo. Saat itu, penjual mendapat masukan dari pembeli untuk mencampurkan dawet dengan pecel. Tak disangka, perpaduan tersebut justru diminati masyarakat dan permintaannya terus meningkat, hingga hidangan ini dikenal dengan sebutan dawet pecel. Meski demikian, masyarakat Kulon Progo lebih akrab menyebutnya sebagai dawet sambel.
Bukan sekadar hidangan yang unik, dawet sambel juga mengandung makna filosofis yang menggambarkan kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Dalam satu porsi dawet sambel terdapat beberapa komponen utama yang melambangkan keberagaman.
Perbedaan tersebut dianalogikan sebagai realitas dalam kehidupan sosial, di mana masyarakat membutuhkan sebuah wadah untuk menyatukan perbedaan, sehingga tercipta keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Selain itu, perpaduan rasa pedas, manis, dan gurih yang menyatu dalam dawet sambel menggambarkan kebersatuan dan pembauran, di mana setiap unsur melebur tanpa lagi menyisakan perbedaan. [Syifaa]