
Thephrase.id - Pertandingan Premier League 2025-2026 antara Manchester City melawan Wolverhampton Wanderers di Etihad Stadium pada Sabtu, 24 Januari 2026 menjadi saksi bisu ketegasan wasit berusia 32 tahun, Farai Hallam, yang menunjukkan mental baja dalam debutnya.
Mantan pemain profesional yang pernah membela akademi Stevenage ini langsung mendapatkan sorotan tajam setelah ia menolak memberikan penalti kepada tuan rumah meski telah didesak oleh intervensi teknologi VAR.
Insiden tersebut bermula saat Omar Marmoush meyakini bahwa bek Wolves, Yerson Mosquera, telah melakukan pelanggaran tangan di dalam kotak penalti saat Manchester City sudah unggul satu gol di babak pertama.
Meski Hallam awalnya mengabaikan tuntutan tersebut, petugas VAR kemudian memanggilnya untuk meninjau ulang kejadian melalui monitor di pinggir lapangan yang biasanya berujung pada perubahan keputusan wasit.
Secara mengejutkan, Hallam justru memilih untuk tetap pada keputusan aslinya setelah melihat beberapa tayangan ulang dan mengabaikan tekanan dari ribuan pendukung Manchester City yang sudah bersiap merayakan penalti.
Keputusan yang dianggap sangat berani bagi seorang debutan ini langsung ia umumkan melalui pengeras suara stadion untuk memberikan kejelasan bagi para penonton dan pemain di atas lapangan.
"Setelah peninjauan ulang, bola mengenai lengan pemain Wolves yang berada dalam posisi alami sehingga keputusan di lapangan tetap berlaku," tegas Farai Hallam melalui pengeras suara stadion.
Mantan asisten wasit Premier League, Darren Cann, memberikan pembelaan dengan menyatakan bahwa tindakan Hallam tersebut merupakan sebuah keputusan yang sangat tepat secara hukum pertandingan.
"Hallam, yang memimpin pertandingan Premier League pertamanya, membuat keputusan yang luar biasa dan berani untuk tetap pada keputusan di lapangan yaitu tidak ada pelanggaran tangan; ini tanpa ragu merupakan keputusan yang tepat karena lengan Yerson Mosquera berada dalam posisi yang wajar dan bola mengenai lengannya dari jarak yang sangat dekat;sebuah keputusan berani dan benar secara hukum dari wasit yang sangat dihormati dalam debutnya di Premier League," beber Darren Cann dilansir BBC Sport.
Manajer Wolves, Rob Edwards, turut memberikan apresiasi atas keberanian sang wasit namun ia mengkritik efisiensi penggunaan teknologi VAR yang dianggapnya terlalu banyak membuang waktu pertandingan.
"Saya pikir lengannya berada dalam posisi alami dan itu sangat dekat, apresiasi bagi Farai di pertandingan pertamanya karena telah membuat keputusan tersebut; saya pikir itu adalah keputusan yang tepat, namun kekhawatiran saya adalah VAR membuatnya harus memeriksa hal itu dan hanya membuang waktu empat atau lima menit," tutur Rob Edwards.
Sementara itu, Pep Guardiola selaku pelatih Manchester City memberikan tanggapan yang jauh lebih dingin dan sarkas dengan menyebut bahwa mulai saat ini semua orang akan mengenal nama sang wasit karena keputusannya yang dianggap tidak lazim.
"Wasit melakukan debut yang besar, sekarang semua orang akan mengenalnya; saya pikir ini pertama kalinya mereka melihat TV dan membatalkan apa yang merupakan posisi lengan 'normal'; saya yakin Howard Webb besok akan muncul di media untuk menjelaskan mengapa itu bukan penalti dan apa yang dia lakukan terhadap United," tegas Guardiola.
"Seolah-olah itu pertama kali dia melakukannya karena ada sedikit keraguan; itulah mengapa Jeremy Doku tidak bisa bermain di Norwegia karena aksi dari Dalot, tapi tidak apa-apa, saya menunggu besok; jangan menunggu hari Rabu karena kami ada Liga Champions dan kami sibuk, Howard Webb silakan datang besok dan jelaskan mengapa itu bukan penalti," pungkasnya kecewa.