
ThePhrase.id - Mengurangi emisi di sektor energi tidak lagi hanya soal seberapa banyak karbon yang dapat ditekan dari kegiatan operasional. Ketika energi yang lebih bersih mulai digunakan untuk menyediakan air bersih, menggerakkan usaha masyarakat, hingga mengurangi ketergantungan terhadap energi impor, agenda dekarbonisasi mulai memiliki dampak yang lebih luas.
Hal tersebut tercermin dari capaian PT Pertamina (Persero) sepanjang semester I 2026. Program dekarbonisasi Pertamina Group mencatat capaian sebesar 118% dari target yang ditetapkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026. Pada periode yang sama, pengembangan bisnis rendah karbon juga mencapai 101% dari target RKAP.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa upaya transisi Pertamina tidak hanya diarahkan untuk mengurangi emisi dari kegiatan bisnis yang sudah berjalan, tetapi juga mulai diterjemahkan melalui pengembangan sumber energi dan model bisnis yang lebih rendah karbon.
Sejumlah inisiatif seperti biofuel, bioethanol, dan efisiensi energi menjadi bagian dari langkah tersebut. Di sisi lain, pendekatan serupa mulai diterapkan melalui program yang membawa energi bersih lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Salah satunya terlihat melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB). Di Kampung Posa, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, PLTS berkapasitas 3,3 kWp digunakan untuk menggerakkan sistem Solar Water Treatment yang menyediakan air bersih bagi masyarakat.
Sebelumnya, warga harus mengandalkan air hujan atau mengambil air dari Sungai Klasafet yang letaknya cukup jauh dari permukiman. Kini, keberadaan pembangkit surya membuat akses terhadap air bersih menjadi lebih mudah, sementara masyarakat setempat turut dilibatkan untuk memastikan fasilitas tersebut dapat terus beroperasi.
Hingga kini, Program DEB Pertamina telah menjangkau 262 desa dan memberikan manfaat kepada 283.841 jiwa. Program tersebut juga menciptakan nilai ekonomi sekitar Rp5,65 miliar per tahun melalui pemanfaatan energi terbarukan dan pemberdayaan masyarakat.

Jika di tingkat desa energi bersih dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar dan menggerakkan aktivitas ekonomi, dalam skala nasional transisi energi juga diarahkan untuk memperkuat ketahanan energi. Melalui implementasi biodiesel B50, pemanfaatan sumber daya domestik diproyeksikan dapat mengurangi impor solar sekitar 18 juta kiloliter pada 2026, setara sekitar 310 ribu barel per hari.
Dengan begitu, pengembangan energi rendah karbon tidak hanya berkaitan dengan upaya menurunkan emisi, tetapi juga dengan bagaimana Indonesia memenuhi kebutuhan energinya dengan memanfaatkan sumber daya dalam negeri.
Langkah tersebut juga berjalan bersama penerapan prinsip environmental, social, and governance (ESG) melalui sejumlah inisiatif, mulai dari sustainable procurement dan sustainability budget tagging hingga program pemberdayaan masyarakat. Secara keseluruhan, kinerja pada aspek tata kelola dan sosial tersebut mencapai 102% dari target yang ditetapkan.
“Keberhasilan ini mencerminkan pelaksanaan program yang efektif terutama pada aspek tata kelola, sosial, dan sistem pendukung keberlanjutan,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron.
Pada akhirnya, capaian dekarbonisasi sebesar 118% bukan hanya menunjukkan bahwa target pengurangan emisi berhasil dilampaui. Capaian tersebut menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar, ketika upaya menekan emisi mulai berjalan beriringan dengan pengembangan bisnis rendah karbon dan pemanfaatan energi untuk kebutuhan masyarakat. Transformasi tersebut menjadi bagian dari langkah Pertamina menuju sistem energi yang lebih rendah karbon sekaligus mendukung target Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060. [nadira]