ThePhrase.id – Rancangan kereta cepat untuk koridor Jakarta-Surabaya diperkenalkan melalui Product Reveal KSTI 2026 pada 22/10. Dikembangkan oleh tim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan PT Industri Kereta Api (INKA) Persero, desain kereta bernama Hi-Speed Train ini ditargetkan mampu melaju hingga 290 kilometer per jam (km/jam) dengan kapasitas mencapai 600 penumpang.
Melalui postingan tersebut, rancangan kereta cepat ini mengusung konsep transportasi masa depan yang menitikberatkan pada kecepatan, kapasitas, kenyamanan, dan efisiensi perjalanan antarkota. Hi-Speed Train dirancang memiliki kecepatan maksimum 290 km/jam dan kecepatan operasional 250 km/jam.
Dengan kecepatan tersebut, kereta ini ditargetkan mampu melayani perjalanan Jakarta-Surabaya dalam waktu 3 jam 40 menit dengan kapasitas hingga 600 penumpang. Sementara, jumlah rangkaian kereta yang direncanakan mencapai 12 rangkaian atau trainset dengan dimensi desainnya adalah panjang 1.600 milimeter, lebar 600 milimeter, dan tinggi 600 milimeter.
Meski demikian, angka kecepatan dan durasi perjalanan tersebut masih merupakan target dalam rancangan yang diperkenalkan, bukan waktu tempuh layanan kereta cepat Jakarta-Surabaya yang telah beroperasi.
Pengembangan desain kereta cepat Jakarta-Surabaya sejalan dengan kebutuhan konektivitas antara dua kota besar di Indonesia. Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut membahas peluang dan tantangan pengoperasian kereta cepat pada koridor tersebut melalui webinar bertajuk “Peluang dan Tantangan Pengoperasian Kereta Api Cepat Koridor Jakarta-Surabaya”.
BRIN menyoroti pentingnya kajian komprehensif yang mencakup kesiapan teknologi, regulasi, pendanaan, hingga pengembangan jalur sebelum pengoperasian kereta cepat dapat direalisasikan. Pengalaman pengoperasian kereta cepat Jakarta-Bandung juga dinilai dapat menjadi salah satu referensi dalam pengembangan koridor baru.
“Penerapan kereta cepat ini membutuhkan kajian komprehensif terkait peluang dan tantangan yang dapat mengantisipasi pertumbuhan pergerakan orang. Selain aspek teknis, kebijakan yang mendukung penerapannya juga harus disiapkan untuk membawa dampak positif bagi perekonomian nasional dan kualitas lingkungan hidup,” jelas Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur, Cuk Supriyadi Ali Nandar, melansir laman BRIN.
Namun, pemilihan teknologi dan perencanaan jalur Kereta Cepat Jakarta-Surabaya tetap membutuhkan kajian yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi di Indonesia. Selain aspek teknis, kesiapan industri dalam negeri turut disoroti oleh PT INKA, termasuk kemampuan manufaktur lokal dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. [fa]