
ThePhrase.id - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Arifah Fauzi angkat bicara atas pernyataannya yang menimbulkan kegaduhan di masyarakat. Netizen mengkritik Arifah terkait penempatan gerbong khusus perempuan di bagian tengah rangkaian kereta, sementara laki-laki di ujung depan dan belakang.
Melalui akun Instagram resmi Kementerian PPPA (@kemenpppa), Arifah menyampaikan dukacita mendalam atas insiden kecelakaan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat yang menimbulkan sebanyak 16 korban jiwa dan puluhan luka-luka.
“Terkait pernyataan saya pasca insiden kecelakaan kereta di Bekasi Timur, saya menyadari bahwa pernyataan tersebut kurang tepat. Untuk itu saya memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat khususnya kepada para korban dan keluarga korban yang merasa tersakiti atau tidak nyaman atas pernyataan tersebut,” ucap Arifah melalui video yang diunggah pada Rabu (29/4).
Arifah mengaku sadar bahwa keselamatan setiap nyawa merupakan prioritas mutlak di atas segala diskursus kebijakan. Ia menjadikan insiden ini sebagai bahan evaluasi mendalam, khususnya dalam berkomunikasi dengan masyarakat.
Ia juga memahami bahwa dalam situasi duka, yang menjadi fokus utama adalah penanganan bagi para korban baik yang meninggal dunia maupun luka-luka, serta empati kepada seluruh keluarga yang terdampak.
“Tidak ada maksud dari saya untuk mengabaikan keselamatan penumpang lainnya. Kita semua sepakat bahwa keselamatan seluruh masyarakat adalah prioritas nomor satu, baik perempuan maupun laki-laki,” tukasnya.
Terkait penanganan tersebut, Arifah memastikan bahwa pihaknya tidak akan mengabaikan hak bagi seluruh korban dan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya dalam insiden tersebut, sebagaimana arahan Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Kementerian PPPA berkomitmen memberikan pendampingan psikologis, perlindungan, serta dukungan yang diperlukan khususnya bagi anak-anak dan keluarga korban yang mengalami trauma akibat peristiwa ini,” tandasnya.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk turut memfokuskan perhatian kepada penanganan dan doa kepada korban, serta upaya perbaikan sistem keselamatan transportasi publik demi mencegah tragedy serupa kembali terjadi.
“Keselamatan seluruh penumpang harus menjadi prioritas tertinggi dalam setiap kebijakan transportasi ke depan,” pungkasnya. (Rangga)