
Thephrase.id - Keberhasilan Michael Carrick dalam memimpin Manchester United meraih kemenangan krusial 3-2 atas Arsenal di Emirates Stadium, London, pada Minggu, 25 Januari 2026 menjadi sinyal kuat bagi manajemen Setan Merah untuk mempertimbangkan namanya sebagai suksesor permanen di kursi kepelatihan.
Sosok pelatih yang dikenal kaya akan pengalaman ini tampak sangat berhati-hati dalam memberikan pernyataan terkait peluangnya menjadi manajer tetap demi menjaga fokus Manchester United yang tengah berada dalam tren positif.
Kegembiraan luar biasa menyelimuti keluarga Carrick saat anak-anaknya turut merayakan gol penentu Matheus Cunha di tribune tim tamu bersama ribuan pendukung setia Setan Merah yang merayakan kemenangan perdana di markas Arsenal dalam delapan tahun terakhir.
Sir Jim Ratcliffe selaku pemilik minoritas Setan Merah menunjukkan ekspresi puas dari tribune direktur setelah menyaksikan performa impresif tim yang jarang terlihat selama dua tahun masa kepemimpinannya di Old Trafford.
Catatan dua kemenangan beruntun di awal masa kepemimpinan Carrick menjadi prestasi yang bahkan sulit dicapai oleh Ruben Amorim yang hanya sanggup meraih hasil serupa satu kali selama 14 bulan masa jabatannya.
Dominasi Carrick semakin terlihat lewat perolehan enam poin dari dua laga besar, jauh lebih efektif dibandingkan capaian Amorim yang membutuhkan lima pertandingan untuk meraih tujuh poin sebelum akhirnya terpuruk dalam kekalahan beruntun.
Koleksi poin Manchester United dalam dua laga terakhir melawan tim penghuni papan atas klasemen tercatat dua kali lipat lebih banyak dibandingkan hasil yang mereka peroleh saat bersua tim-tim papan bawah pada periode sebelumnya.
Fenomena ini mulai meruntuhkan keraguan publik yang sebelumnya skeptis dan mengkhawatirkan pengulangan sejarah masa jabatan Ole Gunnar Solskjaer pada musim 2018-2019 yang sempat menjanjikan di awal namun meredup di akhir.
Strategi Carrick yang kembali menerapkan formasi empat bek serta mengembalikan peran vital Kobbie Mainoo dan Bruno Fernandes terbukti mampu memperbaiki kelemahan taktis yang ditinggalkan oleh rezim kepelatihan sebelumnya.
Keputusan berani Carrick untuk memainkan Patrick Dorgu dibandingkan Matheus Cunha sebagai starter terbukti jitu mengingat sang pemain muda berhasil menyumbangkan gol dalam dua laga berturut-turut di bawah arahannya.
"Anda harus mengendarainya, dan menggunakan emosi, energi, dan kepercayaan diri. Namun Anda juga harus rendah hati dan menyadari bagaimana kita mencapai dua hasil ini. Kita tidak bisa melihat terlalu jauh ke depan. Lagipula kami tidak akan melakukannya, tetapi melihat terlalu jauh ke depan bisa merugikan Anda," beber Carrick dilansir BBC.
"Saya di sini untuk melakukan pekerjaan. Ketika saya datang ke sini kurang dari dua minggu lalu, saya katakan kami akan membuat setiap keputusan demi gambaran yang lebih besar. Kami tidak terbawa suasana. Ini adalah dua hasil yang besar, tapi kami akan tetap membumi. Saya menikmatinya dan saya akan terus melakukan apa yang saya bisa," lanjutnya.
"Dia Cunha melambangkan seperti apa kita sebenarnya. Dia tidak memulai kedua pertandingan tersebut dan dia kecewa karena tidak bermain sejak awal. Namun dia menggunakannya dengan cara yang sangat baik. Dia memberikan dampak yang sangat besar dan dua momen besar. Saya membayangkan dia mencetak gol saat bola keluar dari kakinya. Dia sangat pantas mendapatkannya karena cara dia menerapkan dirinya," tandasnya.