
ThePhrase.id - Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Do’a adalah senjatanya orang Mu’min”. Memohon kepada Allah melalui do’a agar diselamatkan dari pemimpin/penguasa yang dzalim, merupakan salah satu jalan keluar yang diajarkan dalam agama Islam. Sebab penguasa, meskipun penampilannya baik dan terlihat bersih, bukan menjadi jaminan dia tulus kepada rakyatnya atau bangsanya. Bisa jadi, itu hanya caranya berpenampilan agar dipercaya dan mendapatkan dukungan.
Agar terhindar dari penguasa yang hanya mengutamakan dirinya, keluarganya, kelompoknya dan mengabaikan rasa keadilan demi kepentingan-kepentingan mereka yang diselubungi niat jahat, rakyat haruslah mendo’akan pemimpinnya agar diberi hidayah dan meluruskan niatnya.
Penguasa yang baik adalah penguasa yang jujur dan tidak dzalim kepada rakyatnya. Penguasa yang bersungguh-sungguh bekerja untuk membawa negerinya menjadi makmur dan sejahtera.
Penguasa yang adil dan jujur itu kedudukannya sangat tinggi, karena pada hakekatnya mereka bisa saja bertindak semena-mena sebab hukum merekalah yang menjalankannya.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil, kelak di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya di sebelah kanan Allah Azza wa Jalla……. yaitu mereka yang berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan apa saja yang mereka pimpin.” (HR. Muslim).
Sebuah percakapan antara Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, diceritakan dalam sebuah hadits dari ‘Auf bin Malik Al Asyja’i radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Pemimpin-pemimpin terbaik kalian adalah yang kalian cinta kepada mereka dan mereka mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian kebaikan dan kalian mendo’akan pemimpin kalian kebaikan. Tapi pemimpin-pemimpin terburuk kalian adalah yang kalian benci sama mereka dan mereka benci sama kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka juga mendo’akan keburukan untuk rakyatnya.” (HR. Muslim).
Lalu sahabat berkata:
‘Ya Rasulallah, kalau kami mendapatkan penguasa yang seperti itu, apa kami tidak bergerak memberontak terhadap mereka?'”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat.”
Lalu beliau (Nabi) mengatakan:
“Siapa yang mendapati pemimpinnya melakukan kemaksiatan, maka hendaklah dia membenci kemaksiatan yang dilakukan oleh pemimpinnya tersebut.”
Jika ada pemimpin yang dzalim, maka bencilah dengan kedzalimannya. Ini sebuah prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tidak berontak kepada pemimpin yang dzalim, tapi juga tidak menyukai kedzalimannya.
Lalu bagaimana menyikapi ketika mendapatkan penguasa atau pemimpin yang dzalim?
Dalam riwayat Imam Bukhari dalam Kitab “Adabul Mufrad”, dikatakan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: “Kalau ada di antara kalian yang memiliki pemimpin/atasan/penguasa/pemerintah yang kalian menghawatirkan tindakannya yang semena-mena, maka hendaklah kalian berkata:
(Allaahumma rabbas samaawaatis sab’i, wa rabbal ‘arsyil ‘adziim)
Artinya: “Ya Allah Rabb langit yang tujuh lapis dan Rabbnya Al-Arsy Al-Adzim.”
Setelah memanggil Allah dengan nama-Nya dan dengan kekuasaan-Nya, lalu berikutnya mengatakan:
Artinya: “Jadilah Engkau pelindungku/penyelamatku Ya Allah dari Fulan bin Fulan (sebutkan namanya) bersama kelompoknya/partainya/bala tentaranya. Lindungi aku dari kedzaliman yang mungkin mereka lakukan kepadaku, atau melampaui batasnya. Orang yang berlindung kepadaMu akan mulia, pujianMu sangat agung Ya Allah, dan tiada yang berhak disembah kecuali Engkau.”
Inilah yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim ketika takut dengan kedzaliman penguasa atau atasannya yang semena-mena. (Z. Ibrahim)