
ThePhrase.id - Kebakaran adalah musibah yang tidak terduga. Peristiwa ini bisa terjadi kapan pun dan di mana pun, tak memandang siang atau malam sempit ataupun luasnya lokasi yang dilahap api.
Selain terkadang menimbulkan korban jiwa, kebakaran juga mengakibatkan kerugian materi yang tak sedikit. Karena itu, berbagai upaya dilakukan untuk mencegahnya. Mulai dari menjaga kewaspadaan, memasang alarm atau alat pengaman kebakaran, hingga penyediaan alat pemadam kebakaran.
Umat Islam sendiri telah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar selalu berhati-hati dan waspada terhadap bahaya api dan kebakaran. Beliau mengingatkan jangan membiarkan api dalam keadaan menyala saat tidur.
Api yang dimaksud bisa berupa lampu yang dulu menggunakan minyak, begitu pula dengan lilin saat listrik padam harus diletakkan di tempat yang aman.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Artinya: “Janganlah kalian membiarkan api dalam keadaan menyala di rumah-rumah kalian ketika kalian tidur.” (Muttafaq ‘alaih).
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga telah memberikan tuntunan tentang do’a yang diucapkan saat seorang Muslim melihat kebakaran.
Dikutip dari Kitab Al-Adzkaar karya Imam An-Nawawi, do’a yang dapat diucapkan ketika melihat kebakaran yaitu dengan mengucapkan takbir: Allahu akbar.
Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Amr bin Syu'aib, dari ayahnya, dan dari kakeknya yang menyampaikan bahwa Rasulullah pernah bersabda:
Artinya: “Bila Kalian melihat kebakaran, bertakbirlah, karena Takbir dapat memadamkannya.” (HR. Ibnu Sinni).
Selain mengucapkan takbir saat melihat kebakaran, juga disunnahkan membaca do’a ketika tertimpa suatu musibah atau malapetaka, yaitu:
(Innaalillahi wa innaa ilaihi raajiu'un)
Artinya: “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali."
Selain bertakbir dan do’a singkat diatas, ada juga do’a dari Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i saat melihat kebakaran yaitu:
(Allaahumma innii a’uudzu bika minal hadmi, wa a’uudzu bika minat taraddii, wa a’uudzu bika minal gharqi wal hariiqi, wa a’uudzu bika an yatakhabbathanîsy syaithaanu ‘indal mauti, wa a’uudzu bika an amuuta fii sabiilika mudbiran, wa a’uudzu bika an amuuta ladiighan)
Artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa reruntuhan. Aku berlindung kepada-Mu dari jatuh dari tempat yang tinggi. Aku berlindung kepada-Mu dari tenggelam dan kebakaran. Aku berlindung kepada-Mu dari bujuk rayu setan ketika (menjelang) kematian (sakaratul maut). Aku berlindung kepada-Mu dari mati di jalan-Mu dalam keadaan melarikan diri. Aku berlindung kepada-Mu dari mati karena sengatan binatang.” (HR. Imam an-Nasa’i).
Do’a di atas termasuk dalam kategori doa “isti’aadzah” (memohon perlindungan). Kalimatnya terdiri dari “a’uudzu bika” yang berarti “aku berlindung kepada-Mu.”
Memohon dari sekian banyak perlindungan, termasuk di dalamnya “al-hariiq” (kebakaran). Artinya, doa ini memiliki cakupan yang luas, termasuk memohon perlindungan dari tertimpa reruntuhan, bencana longsor, atau jatuh dari tempat yang tinggi.
Karena itu, do’a ini bisa dibaca oleh siapa saja, baik yang hendak melakukan kerja-kerja sosial seperti relawan bencana dan tim penyelamat, ataupun oleh para pecinta alam, atlet olah raga, dan peneliti lapangan agar terselamatkan dari bencana-bencana yang tidak dikehendaki.
Kelebihan do’a isti’aadzah adalah seperti benteng yang melindungi. Sebab, tidak jarang musibah atau bencana terjadi karena ulah manusia, baik karena kelalaian diri sendiri maupun perilaku buruk orang lain, misalnya kebakaran hutan, pencemaran air laut, pencemaran lingkungan dan lain sebagainya.
Dengan membaca do’a ini, paling tidak ada kesadaran yang muncul dalam diri, bahwa jika kita sepenuhnya memohon perlindungan dari Allah, sudah sepantasnya pula kita juga jangan sampai menjadi penyebab musibah yang menimpa orang lain, terutama dalam hal-hal yang berkaitan dengan lingkungan dan alam. (Z. Ibrahim)