Dr. Barry J. Marshall, Peraih Nobel yang Temukan Bakteri Penyebab Maag

- Advertisment -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Dr. Barry J. Marshall  merupakan dokter asal Australia sekaligus ilmuwan yang berhasil menemukan bakteri penyebab maag. Ia berhasil mendobrak pernyataan medis yang selama ini mengatakan bahwa tukak lambung atau maag merupakan penyakit yang disebabkan oleh stress serta konsumsi makanan pedas dan asam yang dilakukan secara berlebihan.

Pria kelahiran tahun 1951 silam ini berhasil menemukan sebuah fakta baru yang menjelaskan bahwa ternyata suatu jenis bakteri bernama Helicobacter pylori (H. pylori) yang selama ini dapat menyebabkan penyakit maag hingga kanker lambung pada manusia.

- Advertisement -

Penemuannya yang mampu membalikkan doktrin medis ini bahkan membuat dirinya memperoleh penghargaan Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran.

Dr Barry J. Marshall menerima penghargaan Nobel (Dok: Nobel Prize)

Perjuangan dokter yang juga merupakan seorang profesor Mikrobiologi Klinis di Universitas Western Australia ini dalam membuktikan penemuannya tersebut tidaklah mudah.

Dilansir dari The Weird World, pada mulanya, tidak ada satu pun orang yang mempercayai penemuan Dr. Marshall. Dirinya bahkan ditertawakan oleh banyak orang, terutama para ilmuwan dan dokter. Mereka menganggap bahwa teorinya tersebut merupakan omong kosong yang bahkan dilarang untuk diterapkan, sehingga dirinya juga tidak diperbolehkan untuk melakukan tes kepada manusia.

- Advertisement -

Bakteri H. pylori dalam pencernaan manusia (Foto: SehatQ)

Namun hal ini tidak membuat Dr. Marshall menyerah. Dirinya bahkan rela membuktikan kebenaran teori hasil penelitian yang telah ia mulai sejak tahun 1982 tersebut dengan berbagai cara, salah satunya yakni dengan meminum sendiri bakteri H. pylori. Dan benar saja, setelah dirinya meminum bakteri  tersebut, tidak lama kemudian, dirinya merasakan sakit maag yang bisa diatasi dengan menggunakan antibiotik.

Dr. Marshall berhasil membuktikan hipotesisnya atas penelitiannya tersebut pada tahun 1985. Hasil penelitiannya tersebut bahkan diterbitkan di Medical Journal of Australia dan menjadi artikel yang paling banyak dikutip dari jurnal, yang pada akhirnya mampu mengantarkan dirinya sebagai pemenang nobel di tahun 2005. [hc]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you