
ThePhrase.id - Isu tak lazim mencuat menjelang Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 setelah muncul laporan yang menyebut adanya dugaan praktik suntikan pada organ intim atlet lompat ski putra demi memperoleh keuntungan teknis.
Badan Antidoping Dunia (WADA) menyatakan terbuka untuk melakukan penelusuran lebih lanjut apabila muncul bukti konkret bahwa metode tersebut digunakan untuk meningkatkan performa atlet di cabang olahraga lompat ski.
Laporan awal berasal dari media Jerman, Bild, yang pada Januari 2026 mengungkap bahwa sejumlah atlet diduga menyuntikkan asam hialuronat ke penis mereka sebelum proses pengukuran resmi kostum lomba dilakukan.
Asam hialuronat merupakan zat yang tidak termasuk dalam daftar terlarang olahraga dan secara medis dapat digunakan untuk menambah lingkar penis sekitar satu hingga dua sentimeter, yang dalam konteks lompat ski dinilai berpotensi memengaruhi luas permukaan kostum.
Federasi Ski Internasional (FIS) menjelaskan bahwa peningkatan luas permukaan kostum dapat berdampak pada daya jelajah atlet saat melayang di udara karena karakteristik aerodinamika menjadi faktor penting dalam cabang olahraga tersebut, sehingga setiap perubahan dimensi kostum memiliki konsekuensi teknis.
"Setiap sentimeter tambahan pada kostum sangat berarti, jika kostum memiliki luas permukaan lima persen lebih besar, maka atlet bisa terbang lebih jauh," kata Direktur Lomba Lompat Ski Putra FIS, Sandro Pertile.
Isu tersebut turut mencuat dalam konferensi pers Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina, ketika Direktur Jenderal WADA Olivier Niggli dimintai tanggapan terkait laporan Bild mengenai praktik tersebut.
"Saya tidak mengetahui detail tentang lompat ski dan bagaimana hal tersebut bisa meningkatkan performa, tetapi jika sesuatu muncul ke permukaan, kami akan meninjaunya dan melihat apakah hal itu berkaitan dengan doping, sementara metode peningkatan performa yang bukan doping bukan ranah yang kami tangani," ujar Olivier Niggli.

Presiden WADA asal Polandia, Witold Banka, menanggapi isu tersebut dengan nada bercanda namun tetap terbuka terhadap kemungkinan penelusuran lebih lanjut.
"Lompat ski sangat populer di Polandia, jadi saya berjanji akan melihat isu ini," kata Witold Banka.
FIS melalui Direktur Komunikasi Bruno Sassi membantah keras tudingan tersebut dan menegaskan bahwa tidak pernah ada indikasi, apalagi bukti, yang menunjukkan atlet menggunakan suntikan asam hialuronat untuk meraih keuntungan kompetitif.
"Tidak pernah ada indikasi, apalagi bukti, bahwa ada atlet yang menggunakan suntikan asam hialuronat untuk mencoba memperoleh keuntungan kompetitif," ucap Bruno Sassi.
Dalam regulasi FIS, setiap awal musim para atlet lompat ski wajib menjalani pengukuran tubuh menggunakan pemindai tiga dimensi dengan hanya mengenakan pakaian dalam elastis yang ketat, di mana toleransi ukuran kostum dibatasi hanya dua hingga empat sentimeter serta tinggi selangkangan kostum harus sesuai dengan tinggi selangkangan atlet dengan tambahan maksimal tiga sentimeter untuk atlet pria.
Asam hialuronat yang disuntikkan ke tubuh diketahui dapat bertahan hingga 18 bulan, sementara dalam sejarah lompat ski tercatat pernah terjadi upaya manipulasi kostum, termasuk kasus pada Kejuaraan Dunia Ski di Trondheim, Norwegia, ketika atlet Norwegia Marius Lindvik dan Johann Andre Forfang menerima sanksi larangan bertanding selama tiga bulan akibat manipulasi kostum.
Meskipun kemudian dipastikan kedua atlet tidak mengetahui tindakan tersebut dan tetap dijadwalkan tampil di Olimpiade Musim Dingin yang secara resmi dimulai pada Jumat, 6 Februari 2026, dengan nomor lompat ski putra dimulai pada Senin, 9 Februari 2026. (Rangga)