features

Eksodus Kader NasDem ke PSI, Bukti Kuatnya Sinar Jokowi dan Ahmad Ali

Penulis M. Hafid
Feb 05, 2026
Preside ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali. Foto: Istimewa
Preside ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali. Foto: Istimewa

ThePhrase.id - Gelombang besar menghantam NasDem. Kader pentolannya satu persatu "digondol" partai lain. Ahmad Ali yang menjabat Wakil Ketua Umum (Waketum) NasDem memilih berlabuh ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Minggatnya ke PSI diakui tanpa berkomunikasi lebih dulu, bahkan tidak ada permintaan izin ke partai yang sudah membesarkan namanya. "Belum ada, sama seperti saat saya masuk NasDem, tidak ada konfirmasi, kan?" kata Ali, Sabtu (27/9/2025).

Kepergiannya lantas memantik tokoh NasDem yang lain untuk mengikuti jejaknya. Wakil Ketua DPW NasDem Jakarta, Bestari Barus pun turut hengkang ke PSI dan keduanya dilantik sebagai pengurus teras pada hari yang sama, Jumat 26 September 2025.

Rusdi Masse Mappasessu tidak ingin ketinggalan, dia turut berlabuh ke partai berlambang gajah pada saat Rakernas di Makassar pada Kamis (29/1) lalu. Bahkan, dia memilih mengundurkan diri dari kursi Wakil Ketua Komisi III DPR RI yang didapatkan usai menggantikan Bendahara Umum NasDem, Sahroni usai tersandung kasu etik.

Ali menegaskan dirinya tidak pernah mengajak Rusdi untuk sama-sama bergabung ke partai yang dinahkodai putra bungsu Jokowi, Kaesang Pangarep.

Namun, hubungan keduanya dianggap melebihi persaudaraan sedarah. Sejak itu, ada janji yang dipegang keduanya, janji untuk tidak saling meninggalkan di dalam politik.

"Kami berdua berkomitmen bahwa ketika saya keluar dari Partai NasDem, bagi kami berpolitik, kami berjanji untuk tidak saling meninggalkan," ujar Ali di Makassar, Kamis (29/1).

Eksodus Kader NasDem ke PSI  Bukti Kuatnya Sinar Jokowi dan Ahmad Ali
Tiga mantan kader NasDem, Bestari Barus (Kiri) Ahmad Ali (tengah), dan Rusdi Masse (kiri) dalam acara Rakernas PSI. Foto: Istimewa

Hengkangnya tiga pentolan itu dinilai menjadi mimpi buruk bagi NasDem lantaran langkah ketiganya diikuti tokoh-tokoh lain. Eksodus politik terjadi.

Pengamat Politik dari Citra Institute, Yusak Farchan menilai migrasi tiga pentolan NasDem ke PSI bukan tanpa sebab. Ada banyak faktor yang membuat ketiganya pindah haluan politik.  

"Tapi yang cukup dominan tentu karena kekecewaan kader tersebut kepada NasDem," kata Yusak kepada ThePhrase.id beberapa waktu lalu.

Beberapa kader senior NasDem dikabarkan kecewa kepada Surya Paloh atas perlakukan berbeda di antara para kader. Paloh disebut lebih menganakemaskan kader mudanya dibanding yang senior.

Kader senior itu mengaku sudah berdarah-darah membesarkan NasDem, tapi tidak mendapat balasan yang setimpal. Salah satunya, kader muda diberi jabatan strategis di alat kelengkapan dewan (AKD) DPR.

Kekecewaan itu berlanjut saat beberapa kader hendak mencalonkan sebagai kepala daerah, tapi dipersulit untuk mendapatkan rekomendasi dan dukungan dari partai.

Akibatnya, tak sedikit kader yang kecewa memilih hengkang dari NasDem dan berlabuh ke partai lain, sebagaimana yang dilakukan oleh Ahmad Ali dkk.

"Kalau Ahmad Ali dkk nyaman di NasDem, tak mungkin mereka pindah partai," ujarnya.

Di sisi lain, Yusak menilai langkah ketiganya pindah ke PSI menjadi tanda renggangnya hubungan Jokowi dan Surya Paloh. Hubungan keduanya dianggap tidak semesra sebelumnya.

Menurutnya, Jokowi dan Paloh sempat memiliki hubungan mesra saat keduanya berada di kongsi politik yang sama.

Tapi sejak pencapresan Anies (Baswedan) oleh NasDem dan sejak Prabowo menjadi presiden, ada dinamika politik yang membuat hubungan keduanya naik turun," ucapnya.

Di era pemerintahan Prabowo, NasDem berada di persimpangan jalan antara merapat ke Prabowo atau tetap setia dengan Jokowi.

Eksodus Kader NasDem ke PSI  Bukti Kuatnya Sinar Jokowi dan Ahmad Ali
Peneliti Senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli. Foto: istimewa

Sementara Peneliti Senior Bidang Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai migrasi kader partai ke partai lainnya merupakan hal yang lumrah terjadi. Meski begitu, tak jarang pilitisi yang kerap berpindah disebut sebagai kutu loncat.

Sebagaimana Yusak, Lili juga menyebut ada banyak faktor yang membuat Ali dkk hengkang ke PSI. Namun, selain faktor kecewa kepada NasDem, ada kepentingan mendapatkan jabatan, ekonomi, hingga perlindungan hukum, turut menjadi alasan kepindahannya.

"Artinya, bisa jadi karena ada kekecewaan di NasDem lalu pindah ke PSI karena ada kesempatan untuk mendapatkan posisi strategis dalam partai, sehingga kemudian bergabung dengan PSI," kata Lili saat berbincang dengan ThePhrase.id.

Pandangan berbeda disampaikan Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro. Menurutnya, migrasi ketiganya tidak lepas dari kedekatan Jokowi dengan PSI, bahkan digadang-gadang menjadi Ketua Pembina di partai itu.

Meski sudah tidak menjabat sebagai presiden, Jokowi disebut masih memiliki pengaruh yang cukup besar di kancah politik nasional. Pengaruh itu bisa membawa PSI ke panggung parlemen.

Selain itu, kata Agung, politisi tersebut menilai PSI kian menggeliat dan cukup menjanjikan, lebih-lebih mesin politiknya sudah panas saat pemilu masih jauh.

Namun, Agung mengungkapkan alasan utama di balik eksodusnya pentolan politisi itu lantaran kepentingannya tidak terakomodir di NasDem.

"Ada banyak faktor yang membuat pindah, tapi yang jelas kepentingan dari kader-kader eks partai parlemen yang bermigrasi ini tidak terakomodasi dengan baik sebetulnya di partai yang lama," kata Agung kepada ThePhrase.id.

Magnet Politik PSI

Berlabuhnya pentolan NasDem ke PSI tidak semata pilihan random mereka, melainkan ada sosok patron politik tertentu yang menjadi magnet dan menariknya ke PSI.

Adalah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) sosok pantron utama yang membuat Ali dkk memilih PSI sebagai kendaraan politiknya. "Bagi kami, Pak Jokowi itu sudah dianggap sebagai patron politik PSI," kata Ali akhir Januari lalu.

Sementara Bestari Barus dan beberapa kader lainnya menjadikan Ali sebagai alasan kepindahannya ke PSI. Bestari menyebut ada banyak kader NasDem di daerah yang turut bergabung ke PSI lantaran adanya Ali.

"Salah satu penariknya mungkin ya dengan bergabungnya Pak Ahmad Ali kali ya ke PSI, gitu. Kemudian menginspirasi banyak pihak," kata Bestari akhir Januari lalu.

Jokowi dan Ali menjadi tokoh sentral migrasinya beberapa politisi ke PSI. Keduanya nilai memiliki kedekatan yang cukup erat sejak pilpres 2014 dan 2019 lalu.

Menurut Yusak, NasDem kala itu tercatat sebagai teman pertama PDIP dalam mencalonkan Jokowi sebagai presiden. Sejak saat itu, banyak kader NasDem yang punya ikatan historis dengan Jokowi.

"Banyak kader NasDem yang memiliki hubungan historis dan elektoral dengan Jokowi," ujar Yusak.

Oleh sebab itu, kader NasDem menjadi target empuk untuk diseret ke PSI. Selain karena hubungan historis, juga karena NasDem dan PSI punya ideologi dan basis massa yang hampir sama, yakni sama-sama partai nasionalis.

Selain itu, Yusak menyebut merapatnya Jokowi ke PSI membuat banyak orang menganggap sebagai potensial. Tak dipungkiri bahwa pamor Jokowi kian meredup jika dibanding dengan saat masih sebagai presiden.

"Tapi sisa-sisa kekuatannya masih terasa. Ini yang membuat orang melirik PSI," ungkapnya. "Tidak mungkin orang-orang seperti Ahmad Ali, Rusi Masse, dan Bestari Barus masuk PSI tanpa melihat faktor Jokowi".

Bagi mereka, lanjut Yusak, Jokowi masih menjadi pemberi gransi yang dapat mengamankan masa depan politiknya.

"Sementara bagi Jokowi, Ahmad Ali bisa difungsikan sebagai stricker dan pengepul suara terutama di daerah masing-masing. Jadi ada proses take and give," paparnya.

Eksodus Kader NasDem ke PSI  Bukti Kuatnya Sinar Jokowi dan Ahmad Ali
Pengamat politik dari Citra Institute Yusak Farchan. Foto: Istimewa

Mantan Wali Kota Solo itu dianggap menyadari bahwa dalam membesarkan PSI adalah dengan cara melakukan "transfer pemain" yang berpengalaman.

Metode itu, kata Yusak, pernah dilakukan NasDem saat baru bertransformasi dari ormas ke partai politik. Paloh mengajak politisi partai lain yang sudah teruji atau sudah duduk di DPR untuk bergabung ke partainya.

"Strategi ini cukup berhasil membuat NasDem besar," tuturnya.

Setali tiga kepeng, Lili juga menyebut Jokowi menjadi alasan dari eksodusnya politisi partai lain ke PSI. Tidak hanya itu, PSI sendiri juga bergantung ke nama besar Jokowi.

"PSI sangat tergantung pada figur Jokowi. Mereka yang pindah dan masuk PSI juga karena figur Jokowi. Jadi episentrum PSI ada di Jokowi," tuturnya.

Sementara bagi Agung, alasan Jokowi menjadi nama penting di balik migrasinya beberapa politisi papan atas itu lantaran infrastruktur politiknya masih kuat, kendati sudah setahun lebih purna tugas sebagai presiden.

Sehingga, motif di balik bergabungnya kader NasDem ke PSI, selain karena motif ideologis dan pragmatis berupa insentif politis, ekonomis, dan yuridis, juga ada motif strategis lantaran meroketnya pamor PSI akibat Jokowi.

"Ingin berperan lebih besar dan potensi ini memang mengemuka katika PSI tampil dengan jokowi effect-nya," tuturnya.

Tekad Mengalahkan NasDem

Sekretaris Jenderal (Sekjen) NasDem Hermawi Taslim sempat menanggapi kepindahan koleganya ke PSI. Dia menyebut mereka pindah lantaran tidak terpilih sebagai anggota DPR pada pemilu 2024.

Dengan nada sarkas, Hermawi mengaku senang karena mantan kadernya didapuk sebagai pengurus teras di PSI yang tidak lolos ambang batas parlemen.

"NasDem senang karena eks kadernya dipakai di partai lain, ini satu bukti bahwa kaderisasi NasDem diakui dan dianggap baik oleh partai lain, minimal oleh partai yang belum lolos ambang batas parlemen," ujarnya.

Setelah resmi berbaju PSI, ketiga kolega Hermawi itu lantas berjanji memenangkan partai berlambang gajah di beberapa wilayah, termasuk yang menjadi basis NasDem, seperti di Sulawesi.

Ali bahkan bertekad merebut wilayah itu dari partai lamanya dan dijadikan kandang gajah. Baginya, itu suatu yang mudah dilakukan usai bergabungnya Rusdi ke barisannya.

"Bergabungnya dia ini momentum besar bagi PSI di Sulawesi. Saya berani mengatakan bahwa dengan kehadiran Pak Rusdi, insya Allah Sulawesi secara keseluruhan ini akan menjadi Kandang Gajah di Indonesia," kata Ali di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (29/1).

Ali mengklaim dirinya dan Rusdi berhasil menggusur posisi Golkar yang sejak puluhan tahun menjadikan wilayah itu sebagai area kekuasaannya. Sejarah itu tercipta saat dirinya dan Rusdi bergabung ke NasDem.

"Sehingga keyakinan itu, pengalaman itu, menambah keyakinan saya bahwa insyaallah sejarah itu kami akan ulangi. Dan bahkan mungkin tidak hanya di Sulawesi, kami tahu cara untuk memenangkan partai ini di Indonesia," tuturnya.

Yusak menyebut hadirnya ketiga tokoh senior itu tidak lantas membuat PSI dengan mudah mendongkel partai lain dan membawanya ke Kompleks Senayan.

Baginya, ada beberapa faktor yang bisa membawa PSI lolos parlemen. faktor pertama, soal besaran parliamentary threshold atau ambang batas parlemen yang saat ini masih 4%.

"Kalau angka parliamentary threshold diturunkan, katakanlah di bawah 3%, tentu peluang PSI semakin terbuka. Tapi kalau tetap 4%, PSI harus bekerja lebih ekstra," katanya.

PSI juga bisa saja lolos dengan mudah ke parlemen ketika relasi politik antara Jokowi dan Prabowo masih terjalin hingga 2029. Menurut Yusak, Prabowo butuh ceruk suara yang dimiliki PSI, sementara PSI juga membutuhkan garansi dari Prabowo agar by pass ke Senayan.

Oleh sebab itu, Yusak menyebut Jokowi akan terus berupaya agar Prabowo tidak berpaling dari Gibran pada pilpres yang akan datang. "Jokowi akan bekerja agar Prabowo tidak punya pilihan lain kecuali Gibran sebagai cawapresnya," tegasnya.

Nada berbeda disampaikan Lili, bahwa PSI tidak lantas mendapat jalan mudah dalam bertarung pada pemilu mendatang. Tantangan pertama, PSI harus menjaga tingkat popularitas dan penerimaan publik terhadap Jokowi.

Apabila popularitas Jokowi yang sudah tidak lagi punya jabatan publik terus merosot, maka PSI akan melewati jalan terjal menuju Senayan, lebih-lebih tone negatif terhadap Jokowi kian melambung. "Apalagi jika PSI dicitrakan jelek sebagai partai nepotisme dan pragmatis," tuturnya.

Kehadiran tiga pentolan NasDem juga menjadi tantangan tersendiri bagi PSI, sebab mereka tidak serta merta mendapat respons positif. Menurutnya, akan ada banyak pihak yang menganggap ketiganya sebagai sosok oportunis dan pragmatis yang kemudian distigmakan sebagai kutu loncat.

Di sisi lain, keinginan Ali dkk mengalahkan NasDem bisa saja berhasil. Sebab, kata Lili, sejak ketignya pindah membuat citra partai besutan Surya Paloh menurun dan dianggap sebagai partai yang tidak solid dan diterpa banyak masalah.

Persepsi itu dapat menggerus elektabilitas NasDem. Kendati dapat dikalahkan, lanjut Lili, NasDem diyakini akan tetap menjadi partai yang lolos ke parlemen.

"Karena sudah memiliki segmentasi pemilih, baik karena faktor Surya Paloh maupun figur-figur di NasDem, baik pusat maupun daerah," tandasnya.

Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustofa tak gentar dengan kepindahan kadernya dan akan kehilang ceruk suara di Sulawesi. Baginya, wilayah timur Indonesia itu akan tetap menjadi kekuatan NasDem.

Sejak Rusdi Masse mundur, pihaknya langsung menunjuk Sekretaris DPW NasDem Sulsel yang juga Bupati Sidenreng Rappang (Sidrap) Saharuddin Arif.

“Ya kita tetap konsen agar Nasdem di wilayah Timur tetap menjadi kekuatan utama Nasdem. Makanya penggantinya yang memang sudah memahami betul situasi peta kondisi yang ada di wilayah Timur, khususnya di Sulawesi Selatan,” kata Saan. (M Hafid)

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic