lifestyle

Emotional Labor dalam Hubungan, Tuntutan untuk Mengelola Perasaan Dua Orang

Penulis Ashila Syifaa
Nov 01, 2026
Ilustrasi emotional labor. (Foto: Magnific.com)
Ilustrasi emotional labor. (Foto: Magnific.com)

ThePhrase.id – Dalam hubungan romantis, pernahkah merasa selalu menjadi pihak yang harus memulai pembicaraan setelah bertengkar, memahami perubahan suasana hati pasangan, atau mencari cara agar konflik tidak semakin membesar? Hal ini bisa menjadi pertanda emotional labor atau kerja emosional dalam hubungan.

Hal ini mungkin terlihat sebagai bentuk perhatian kepada pasangan. Namun, ketika tanggung jawab untuk menjaga keharmonisan hubungan secara terus-menerus dibebankan pada satu pihak, emotional labor ini bisa menjadi beban yang melelahkan.

Mengenal Emotional Labor dalam Hubungan

Istilah emotional labor pertama kali diperkenalkan oleh sosiolog Arlie Russell Hochschild pada 1983 melalui bukunya ‘The Managed Heart: Commercialization of Human Feeling’. Konsep ini awalnya digunakan untuk menjelaskan tuntutan pekerjaan yang mengharuskan seseorang mengelola dan menampilkan emosi tertentu sesuai ekspektasi profesional.

Dalam konteks hubungan personal, istilah ini banyak digunakan untuk menggambarkan pekerjaan emosional yang tidak terlihat, seperti memahami perasaan pasangan, menjaga komunikasi, meredakan konflik, hingga memastikan kebutuhan emosional masing-masing terpenuhi.

Misalnya, seseorang selalu berusaha mengetahui ketika pasangannya sedang mengalami masalah, menginisiasi percakapan setelah pertengkaran, atau memikirkan cara menyampaikan pendapat agar tidak menyinggung perasaan pasangannya.

Hal-hal tersebut sebenarnya merupakan bagian dari kepedulian dalam hubungan. Namun, masalah muncul ketika hanya satu pihak yang terus mengambil inisiatif dan merasa bertanggung jawab atas kondisi emosional keduanya.

Umumnya tanggung jawab ini lebih cenderung jatuh kepada perempuan, karena ekspektasi sosial berdasarkan gender. Sejak kecil, perempuan sering dibentuk untuk menjadi sosok yang lebih peka, sabar, perhatian, dan mampu memahami perasaan orang lain.

Ekspektasi tersebut kemudian terbawa ke dalam hubungan romantis. Perempuan kerap diharapkan menjadi pihak yang lebih dahulu menyadari masalah, menjaga komunikasi, mengalah ketika terjadi konflik, hingga memastikan hubungan tetap berjalan harmonis.

Melansir Verywell Mind, fenomena hermeneutic labor yaitu pekerjaan untuk membaca, menafsirkan, dan memahami perasaan pasangan yang tidak selalu disampaikan secara langsung. Beban ini dapat membuat seseorang terus-menerus memikirkan kondisi emosional pasangannya, bahkan ketika tidak sedang menghadapi konflik.

Padahal, memahami pasangan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Bukan hanya perempuan yang perlu belajar membaca suasana hati, sementara pasangannya tidak memiliki inisiatif yang sama untuk memahami kebutuhan emosionalnya.

Ketika kerja emosional tidak dilakukan secara seimbang, seseorang dapat mengalami kelelahan emosional. Ia mungkin merasa harus selalu menjaga suasana hati pasangan, menghindari pembicaraan yang berpotensi memicu konflik, hingga mengesampingkan perasaannya sendiri demi mempertahankan hubungan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menimbulkan frustrasi, rasa tidak dihargai, dan kesepian. Bahkan, seseorang bisa merasa kehabisan energi untuk menjalani hubungan yang seharusnya menjadi tempat saling memberikan dukungan.

Melansir Fimela, fenomena emotional labor relationship sebagai kondisi ketika seseorang terus-menerus menjadi penenang dan penjaga kestabilan emosi pasangan hingga kebutuhan dirinya sendiri terabaikan.

Hal ini menunjukkan bahwa hubungan yang terlihat baik-baik saja belum tentu berjalan secara seimbang. Bisa jadi, keharmonisan tersebut selama ini dipertahankan melalui usaha emosional yang lebih banyak dilakukan oleh satu orang.

Pada dasarnya, memahami perasaan dan memberikan dukungan kepada pasangan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat. Namun, tanggung jawab tersebut tidak seharusnya hanya dibebankan kepada satu pihak. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic