e-biz

Energi Terbarukan Jadi Mesin Pertumbuhan Baru di Asia Tenggara

Penulis Nadira Sekar
Jun 30, 2026
Foto: dok. PNRE
Foto: dok. PNRE

ThePhrase.id - Energi terbarukan semakin menunjukkan potensinya sebagai salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru di Asia Tenggara. Tidak lagi sekadar menjadi bagian dari agenda transisi energi, sektor ini kini juga menarik minat investor karena dinilai mampu memberikan keuntungan finansial yang menjanjikan.

Salah satu contohnya terlihat di Filipina melalui Citicore Renewable Energy Corporation (CREC), pengembang pembangkit listrik tenaga surya yang mencatat peningkatan nilai perusahaan dalam setahun terakhir. Hingga Triwulan II 2026, kapitalisasi pasar CREC meningkat dari sekitar US$600 juta menjadi mendekati US$900 juta, atau tumbuh hampir 50 persen dibandingkan saat investor strategis mulai masuk pada 2025.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan prospek industri energi terbarukan yang semakin menjanjikan di Asia Tenggara. CREC sendiri saat ini memiliki kapasitas pembangkit listrik tenaga surya lebih dari 1.200 MWdc dan menjadi salah satu pengembang energi surya terbesar di Filipina. Posisi tersebut menjadikannya sebagai pemain strategis di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih di kawasan ASEAN.

Potensi inilah yang lebih dulu dibaca oleh Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Pada pertengahan 2025, perusahaan mengakuisisi 20 persen saham CREC melalui investasi senilai sekitar US$120 juta. Setahun berselang, investasi tersebut mulai membuahkan hasil dengan perolehan dividen serta tingkat pengembalian investasi (ROI) mencapai 43,4 persen.

Energi Terbarukan Jadi Mesin Pertumbuhan Baru di Asia Tenggara
Foto: Infografis Capaian CREC Filipina (dok. ThePhrase.id/Nadira)

Corporate Secretary Pertamina NRE, Sri Nur Hidayati, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa investasi di sektor energi bersih tidak hanya menawarkan prospek jangka panjang, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata.

“Keberhasilan ini semakin memperkuat komitmen Pertamina NRE dalam mengembangkan portofolio investasi yang sehat, produktif, dan berkelanjutan,” ujar Sri.

Di luar aspek ekonomi, kerja sama lintas negara di sektor energi terbarukan juga membuka peluang yang lebih luas, mulai dari pengembangan proyek bersama, transfer teknologi, hingga peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Kolaborasi semacam ini dinilai dapat memperkuat ekosistem energi bersih regional sekaligus mendukung ketahanan energi jangka panjang.

Chief Investment Officer Danantara Investment Management, Pandu Patria Sjahrir, menilai investasi di industri energi terbarukan regional memiliki nilai strategis yang melampaui aspek finansial. Menurutnya, kerja sama tersebut berpotensi mendorong perdagangan produk panel surya, transfer teknologi, hingga pengembangan tenaga kerja Indonesia di sektor energi bersih yang terus berkembang di kawasan.

Di tengah percepatan transisi energi global, perkembangan ini menunjukkan bahwa energi hijau tidak lagi dipandang semata sebagai komitmen lingkungan, melainkan juga sebagai sektor ekonomi baru yang mampu menciptakan nilai tambah dan peluang pertumbuhan bagi negara-negara di Asia Tenggara. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic