Eniya Listiani Dewi, Ilmuwan Perempuan Hebat pada Bidang STEM

- Advertisement -spot_img

ThePhrase.id – Eniya Listiani Dewi adalah salah satu ilmuwan dan peneliti perempuan Indonesia yang berprestasi. Bergelut di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) selama berpuluh-puluh tahun, fokus Eniya adalah pada energi, lebih tepatnya pada penelitian sel bahan bakar atau fuel cell.

Dirinya terkenal di bidang penelitian dengan fokus energi baik di dalam negeri maupun secara internasional karena penelitiannya yang membuahkan hasil vital bagi pengembangan energi baru terbarukan berbasis hidrogen.

Pasalnya, Eniya mengembangkan penelitian sel bahan bakar (fuel cell), yakni mengubah gas hidrogen dan oksigen menjadi listrik melalui proses elektrokimia. Listrik yang dihasilkan ini tentunya ramah lingkungan karena buangan yang dikeluarkan hanyalah air.

Eniya Listiani Dewi. (Foto: brin.go.id)

Saat ini, Eniya merupakan peneliti di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Sebelumnya, ia merupakan bagian dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT), yang kemudian dilebur menjadi lembaga riset BRIN.

Bersama lembaga milik pemerintah ini, ia telah menorehkan penelitian demi penelitian. Yang paling baru adalah mengembangkan temuan air untuk menjadi pengganti bahan bakar minyak (BBM), melalui proses elektrolisis yaitu memisahkan hidrogen dan oksigen dari H2O.

Penelitiannya berfokus pada pengembangan hidrogen dan fuell cell sebagai kontribusi pada target Energi Baru Terbarukan (EBT) yang ditargetkan oleh pemerintah sebesar 23 persen pada tahun 2025. Ia berharap penelitiannya dapat menjadi ekonomis dan berkontribusi pada pemenuhan target tersebut.

“Saya harap temuan Energi Baru Terbarukan (EBT) saya ini dapat lebih ekonomis. Seperti kita tahu kebijakan EBT 23% pada tahun 2025 dan saat ini baru 13%, dalam 7 tahun ini upaya apa yang bisa kita lakukan. Pemerintah perlu mendorong inovasi ini, dan dengan dibangunnya pembangkit listrik tenaga EBT merupakan bentuk concern pemerintah,” tutur Eniya, dilansir dari laman BRIN (10/07/2018).

Pendidikan

Eniya Listiani Dewi. (Foto: ft.untidar.ac.id)

Eniya menempuh pendidikan strata satu hingga strata tiganya di Negeri Sakura Jepang. Ia menamatkan pendidikan sarjana hingga doktoral di Universitas Waseda, Jepang. Tiga tingkat pendidikan tersebut ia tempuh dengan beasiswa.

Saat S1, ia mendapatkan beasiswa dari Science and Technology Advance Industrial Development (STAID) Kementerian Negara Riset dan Teknologi. Sedangkan jenjang yang lebih tinggi ia tempuh dengan beasiswa dari lembaga yang berbeda. Selama 9 tahun, ia menempuh pendidikan S1-S3 dalam bidang science engineering.

Penghargaan

Berbagai hasil penelitiannya telah membuahkan beragam penghargaan,  baik dari dalam negeri naupun luar negeri.

Penghargaan yang berasal dari dalam negeri antara lain  Habibie Award pada tahun 2010 pada bidang Ilmu Rekayasa dan menjadi yang termuda mendapatkan penghargaan tersebut.

Eniya Listiani Dewi (tengah) saat menerima BJ Habibie Technology Award. (Foto: brin.go.id)

Penghargaan lain adalah Bacharuddin Jusuf Habibie Technology Award (BJHTA) di tahun 2018 berkat mengembangkan teknologi fuel cell dengan metode transfer elektron. Bahkan, ia merupakan wanita pertama yang berhasil mendapatkan penghargaan tersebut.

Eniya juga telah memenangkan sejumlah penghargaan-penghargaan lainnya, seperti Indonesia Young Best Scientist Award XII (2004), Satyalancana Karya Satya X Tahun (2009), Duta Iptek Indonesia (2012), Satyalancana Karya Satya XX (2013), Soegeng Sarjadi Award (2014), Satyalancana Wira Karya (2016), dan masih banyak lagi.

Sedangkan untuk penghargaan dari luar negeri antara lain MIZUNO Award dan KOUKENKAI Award (2003), Universitas Waseda Jepang, Asean Young Science and Technology Awards (2005), ASEAN Outstanding Engineering Achievement Award (2006), Asia Excellence Award (2009), dan lain-lain.

“Memang harus termotivasi dan memiliki target. Buat saya, mendapatkan penghargaan tiap tahun dan menghasilkan jurnal itu adalah target sebagai seorang profesor yang saya tularkan kepada seluruh anggota tim peneliti saya,” tutur Eniya.

Tentang Perempuan di Bidang STEM

Eniya Listiani Dewi. (Foto: brin.go.id)

Eniya merupakan sedikit perempuan Indonesia yang bergelut pada bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Ia berharap bahwa para perempuan Indonesia untuk dapat berperan aktif dalam bidang ini dan didukung dalam lingkungan kerja dan keluarganya.

Dilansir dari laman BRIN, dari  55 persen lulusan sarjana di seluruh Indonesia yang mana adalah perempuan, hanya 38 persennya yang terjun ke dunia kerja.

Menurut Eniya, pegawai perempuan di BRIN jumlahnya sebesar 35 persen dan yang berkarier di STEM hanya 25 persennya saja. Untuk itu, agar perempuan dapat lebih berperan aktif pada bidang STEM, Eniya mengatakan perlunya dukungan untuk men-support dan membuka jalan bagi perempuan berkarir di bidang STEM. [rk]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you