lifestyle

Fenomena Lifestyle Downgrade, Ketika Menurunkan Gaya Hidup Bukan Lagi Pilihan

Penulis Ashila Syifaa
Oct 11, 2026
Ilustrasi lifestyle downgrade. (Foto: Magnific)
Ilustrasi lifestyle downgrade. (Foto: Magnific)

ThePhrase.id - Setelah istilah “in this economy” ramai digunakan, kini muncul fenomena lifestyle downgrade atau menurunkan standar gaya hidup di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak. Pertanyaan seperti “In this economy, apa saja yang sudah di-downgrade?” pun mulai ramai bermunculan di media sosial. Lantas, apa sebenarnya yang terjadi dan bagaimana cara menghadapinya?

Tanpa disadari, gaya hidup menjadi bagian dari keseharian masyarakat, mulai dari pilihan hobi, gadget, hingga makanan. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, sebagian orang mulai menyesuaikan standar konsumsi dan lebih selektif dalam mengatur pengeluaran agar kondisi keuangan tetap terjaga, terutama bagi mereka yang sudah berumah tangga.

Menurut pakar ekonomi dan bisnis sekaligus dosen Universitas Gadjah Mada, Wisnu Setiadi Nugroho, fenomena lifestyle downgrade merupakan respons rasional rumah tangga terhadap ketidakpastian ekonomi, bukan sekadar pilihan gaya hidup.

Dalam rumah tangga, terdapat sejumlah kebutuhan mendasar yang harus tetap dipenuhi, seperti pangan, kesehatan, dan pendidikan. Karena itu, ketika pendapatan tertekan atau kondisi ekonomi tidak menentu, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengurangi pengeluaran yang lebih fleksibel.

Fenomena ini terlihat dari ramainya masyarakat membagikan pengalaman lifestyle downgrade di media sosial, seperti Threads. Sebagian orang memilih menyesuaikan gaya hidup demi memenuhi kebutuhan lain dan lebih mengutamakan fungsi daripada gengsi. Misalnya, beralih dari mobil premium ke mobil konvensional yang lebih terjangkau, seperti Low Cost Green Car (LCGC), untuk menekan biaya pengeluaran.

Tak hanya itu, penyesuaian gaya hidup juga terlihat dari pola konsumsi makanan dan minuman. Sebagian orang yang sebelumnya rutin membeli kopi di coffee shop kini memilih membuatnya sendiri di rumah agar pengeluaran lebih hemat.

Meski tidak selalu mudah, lifestyle downgrade dapat menjadi salah satu cara untuk beradaptasi di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun, penyesuaian ini tidak hanya terjadi dalam pola konsumsi masyarakat, tetapi juga mulai menjadi sorotan di pasar kerja. Sejumlah pekerja menyoroti kecenderungan perusahaan yang menawarkan gaji yang lebih rendah, sehingga membuat mereka perlu mempertimbangkan kembali ekspektasi pendapatan dan kebutuhan hidup.

Fenomena ini memang dapat menjadi pilihan gaya hidup bagi sebagian orang. Namun, bagi individu atau rumah tangga dengan kondisi yang relatif stabil dan berada pada usia produktif, penurunan standar hidup bisa jadi bukan lagi pilihan, melainkan keterpaksaan akibat tekanan ekonomi dan keterbatasan finansial.

Meski begitu, menurut Wisnu, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah skala fenomena ini dan kelompok masyarakat yang mengalaminya. Jika hanya terjadi pada sebagian kecil masyarakat, penyesuaian gaya hidup ini masih dapat dipandang sebagai langkah sementara. Namun, jika meluas, terutama di kalangan kelas menengah yang berkontribusi besar terhadap konsumsi nasional, fenomena ini dapat menjadi sinyal peringatan bagi pemerintah. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic