
ThePhrase.id - Batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi juga mengandung makna yang mendalam. Salah satu yang dikenal sakral adalah motif Wahyu Tumurun, yang termasuk motif batik tertua dalam budaya Jawa, khususnya di Yogyakarta dan Surakarta.
Motif ini kerap digunakan dalam acara sakral seperti pernikahan. Belakangan, Wahyu Tumurun menjadi sorotan setelah dikenakan oleh Syifa Hadju dalam prosesi siraman pada Jumat (24/4).
Dalam prosesi tersebut, Syifa Hadju tampil mengenakan kebaya karya Didiet Maulana berwarna biru langit dengan detail manis yang elegan. Penampilannya semakin istimewa dengan balutan kain bermotif Wahyu Tumurun.
“Dengan kain batik tulis Wahyu Tumurun, yang menjadi simbol doa kebaikan, wahyu, dan rahmat bagi pemakainya. Sebuah doa tulus dan suci mengiringi rangkaian prosesi siraman kali ini,” tulis Didiet Maulana dalam unggahan Instagram pada Jumat (24/4).
Keistimewaan ini tentu tidak lepas dari makna di balik motif Wahyu Tumurun yang berarti “wahyu yang turun”. Secara etimologis, kata “wahyu” berasal dari bahasa Arab yang bermakna petunjuk, ilham, atau inspirasi, sementara “tumurun” dalam bahasa Jawa berarti turun atau menurun.
Dengan demikian, penggunaan motif ini mengandung harapan agar pemakainya memperoleh petunjuk, rahmat, dan berkah dari Tuhan dalam menjalani kehidupan serta mencapai cita-cita. Tak hanya itu, kain ini juga menjadi simbol doa untuk meraih kemuliaan hidup.
Selain memiliki makna filosofis yang mendalam, motif Wahyu Tumurun juga memiliki ciri visual yang khas. Motif ini umumnya menggambarkan mahkota terbang yang dihiasi isen berupa bunga-bunga. Dalam beberapa variasi, terdapat pula tambahan ornamen seperti sepasang ayam atau burung yang saling berhadapan.
Sebagai salah satu motif batik tertua, Wahyu Tumurun telah dikenal sejak sekitar abad ke-15 di wilayah Yogyakarta. Batik ini kemudian berkembang ke berbagai daerah dengan modifikasi sesuai nilai dan identitas masing-masing. Meski telah ada sejak lama, pencipta motif ini tidak diketahui dan telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Jawa.
Tak hanya menjadi bagian dari warisan budaya Jawa, batik ini juga merepresentasikan ajaran agama Islam pada masa Kesultanan Yogyakarta.
Menurut Salim A. Fillah, penulis dan pendakwah, motif batik Wahyu Tumurun mulai berkembang pada pertengahan abad ke-16 M, yakni pada masa awal Mataram Islam di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati. Pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma yang berkedudukan di Karta, motif ini kemudian mengalami penyempurnaan.
Selanjutnya, pada masa Kesultanan Yogyakarta, tepatnya di bawah kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono I, motif Wahyu Tumurun dikukuhkan sebagai busana i’tikaf pada 10 malam terakhir bulan Ramadan.
Hal ini menunjukkan bahwa motif Wahyu Tumurun tidak hanya menggambarkan budaya masyarakat Jawa, tetapi juga menjadi ekspresi keimanan dan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam praktiknya, motif ini juga kerap digunakan dalam berbagai prosesi adat, seperti panggih atau temu pengantin sebagai simbol harapan akan rumah tangga yang harmonis, hingga mitoni atau tujuh bulanan dengan doa agar anak yang dilahirkan kelak menjadi pribadi yang sukses. [Syifaa]