lifestyleRelationship

Food Divorce, Tren Pasangan yang Pilih Makan Terpisah demi Kurangi Konflik

Penulis Ashila Syifaa
Aug 30, 2026
Ilustrasi food divorce. (Foto: Drazen Zigic on Magnific)
Ilustrasi food divorce. (Foto: Drazen Zigic on Magnific)

ThePhrase.id - Tren dalam hubungan terus berkembang, kini muncul istilah 'food divorce' yang ramai diperbincangkan di media sosial. Meski terdengar sebagai perceraian, istilah ini sebenarnya merujuk pada pasangan yang tetap hidup bersama tetapi memilih untuk berbelanja, memasak, hingga makan secara terpisah.

Fenomena ini muncul seiring beragamnya pola makan dan gaya hidup pasangan. Perbedaan pilihan makanan, jadwal kerja, kebutuhan diet, alergi, hingga penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1 disebut menjadi sejumlah faktor yang membuat pasangan tidak lagi memiliki pola makan yang sama.

Istilah food divorce belakangan mendapat perhatian di mana banyak pasangan yang memilih memisahkan urusan makanan untuk mengurangi perdebatan saat waktu makan. Dalam praktiknya, pasangan tetap menjalani hubungan seperti biasa, tetapi tidak lagi merasa harus menyantap menu yang sama atau makan pada waktu yang sama.

Perbedaan pola makan dalam sebuah hubungan bukanlah hal yang baru, namun dengan banyaknya pilihan diet semakin membuat permasalahan makanan menjadi lebih kompleks. Misalkan, salah satu pasangan mungkin sedang menjalani pola makan tinggi protein, mengurangi karbohidrat atau gula, sementara pasangannya tetap ingin menikmati makanan yang lebih bebas. 

Peneliti kebijakan pangan dari City St George’s University of London, Dr Leila Fathi, menjelaskan bahwa perubahan hubungan seseorang dengan makanan juga dapat dipengaruhi penggunaan obat GLP-1. Efek seperti berkurangnya nafsu makan dan rasa mual dapat membuat seseorang memiliki keinginan makan yang berbeda dari pasangannya. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mendorong pasangan menyiapkan dan mengonsumsi makanan secara terpisah.

Meski menggunakan kata “divorce”, food divorce tidak otomatis berarti hubungan pasangan sedang bermasalah. Bagi sebagian pasangan, makan terpisah justru dapat menjadi cara untuk mengurangi konflik kecil yang berulang. Mereka tidak perlu terus bernegosiasi mengenai makanan yang harus dimasak, jumlah kalori, waktu makan, atau kebiasaan masing-masing.

Dengan kata lain, persoalannya bukan terletak pada apakah pasangan menyantap makanan yang sama, tetapi bagaimana mereka mengelola perbedaan tersebut.

Di sisi lain, memisahkan aktivitas makan sepenuhnya juga memiliki konsekuensi. Makan bersama selama ini bukan hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga menjadi salah satu kesempatan pasangan untuk berbicara, bertukar cerita dan beristirahat bersama setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

Riset mengenai kebiasaan makan bersama menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi berbagi makanan dengan kesejahteraan dan hubungan sosial. World Happiness Report 2025, misalnya, menemukan bahwa orang yang lebih sering berbagi makanan dengan orang lain cenderung memiliki evaluasi kehidupan yang lebih tinggi. Namun, penelitian tersebut juga menekankan bahwa hubungan tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa makan bersama secara langsung menyebabkan seseorang menjadi lebih bahagia. 

Karena itu, food divorce tidak selalu harus diterapkan secara ekstrem. Pasangan tetap dapat memiliki menu masing-masing tetapi menyempatkan diri duduk bersama saat sarapan atau makan malam. [Syifaa]

Artikel Pilihan ThePhrase

- Advertisement -
 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic