
ThePhrase.id - Tren foto bergaya tahun 1980-an yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence) tengah ramai di media sosial. Hanya dengan mengunggah foto dan menuliskan prompt, foto modern dapat berubah menjadi potret retro lengkap dengan gaya rambut, pakaian, dan nuansa kamera lawas.
Prosesnya memang terlihat sederhana. Namun, di balik gambar yang dihasilkan dalam hitungan detik, terdapat pusat data yang membutuhkan listrik dan sistem pendinginan. Salah satu sumber daya yang ikut digunakan dalam proses tersebut adalah air bersih.
Ketika AI bekerja, server di pusat data menghasilkan panas. Untuk menjaga perangkat tetap bekerja secara efisien, sebagian fasilitas menggunakan air dalam sistem pendinginannya. Air juga dapat digunakan secara tidak langsung melalui pembangkitan listrik yang memasok energi ke pusat data.
Lantas, berapa banyak air yang dibutuhkan untuk membuat satu foto AI?
Menurut Ekopakwater.com, penelitian memperkirakan penggunaan air untuk 10 hingga 50 pertanyaan ChatGPT setara dengan satu botol air berukuran 500 mililiter. Namun, angka tersebut dapat berbeda bergantung pada lokasi dan waktu permintaan.
Seiring berkembangnya berbagai alat AI dan meluasnya pusat data, kebutuhan air yang berkaitan dengan teknologi ini juga diperkirakan meningkat. Pencarian menggunakan AI generatif, misalnya, diperkirakan mengonsumsi energi hingga 10 kali lebih besar dibandingkan pencarian internet biasa. Untuk pertanyaan yang lebih kompleks, angka tersebut dapat meningkat hingga 50 kali lipat.

Dalam beberapa tahun mendatang, sistem AI berukuran besar juga diperkirakan dapat mengonsumsi energi setara dengan kebutuhan energi seluruh negara.
Meski satu permintaan mungkin membutuhkan air dalam jumlah kecil, persoalannya terletak pada skala penggunaan.
Menurut studi terbaru dari United Nations University (UNU), konsumsi air yang berkaitan dengan AI berpotensi setara dengan kebutuhan dasar air domestik tahunan 1,3 miliar orang pada akhir dekade ini. Sementara itu, jejak lahannya diperkirakan dapat melampaui 14.500 kilometer persegi, atau sekitar dua kali luas wilayah metropolitan Jakarta.
Tren foto 80-an mungkin hanya berlangsung sementara. Namun, kebutuhan air di balik AI akan terus menjadi persoalan selama penggunaannya berkembang.
Karena itu, pembahasan mengenai dampak AI tidak cukup berhenti pada seberapa cepat gambar dihasilkan. Perusahaan teknologi juga perlu memperhatikan sistem pendinginan yang hemat air, penggunaan air daur ulang, dan transparansi mengenai jejak lingkungan teknologi mereka.
Seperti ditegaskan Kaveh Madani dari United Nations University, persoalan ini bukan alasan untuk menolak AI, melainkan dorongan agar teknologi tersebut digunakan secara bertanggung jawab.
“Ini adalah seruan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab dan menangani dampak-dampak yang tidak disengaja secara proaktif,” ujar Kaveh.
Pada akhirnya, membuat satu foto AI bukan berarti seseorang sedang menghabiskan persediaan air dunia. Namun, ketika jutaan orang melakukan hal yang sama, pertanyaan mengenai sumber daya yang digunakan teknologi tersebut menjadi semakin penting. Sebab, di balik foto retro yang muncul di layar, ada air yang ikut terpakai. [nadira]