
ThePhrase.id - Persahabatan selama ini dikenal sebagai sumber dukungan emosional dan rasa aman. Namun, tidak sedikit orang yang mulai merasakan kelelahan dalam hubungan pertemanan. Kondisi ini dikenal dengan istilah friendship fatigue, yaitu keadaan ketika interaksi dengan teman yang seharusnya menyenangkan justru terasa menguras energi secara mental dan emosional.
Friendship fatigue bukan berarti seseorang tidak lagi peduli pada teman-temannya. Sebaliknya, kondisi ini sering dialami oleh individu yang terbiasa hadir, mendengarkan, dan memberi dukungan, tetapi tidak memiliki cukup waktu untuk memulihkan energi emosionalnya sendiri. Kelelahan ini biasanya muncul secara perlahan dan sering tidak disadari.
Dalam kehidupan modern, tekanan sosial menjadi salah satu faktor utama. Komunikasi yang serba cepat melalui pesan instan dan media sosial membuat banyak orang merasa harus selalu responsif. Selain itu, menjaga banyak hubungan sekaligus juga dapat meningkatkan beban emosional, terutama ketika seseorang merasa bertanggung jawab atas perasaan orang lain.
Secara psikologis, setiap individu memiliki kapasitas energi emosional yang terbatas. Ketika kapasitas tersebut terus digunakan tanpa jeda istirahat, rasa lelah akan muncul. Inilah yang membedakan friendship fatigue dari konflik pertemanan. Tidak ada pertengkaran atau masalah besar, tetapi ada kejenuhan yang perlahan tumbuh.
Menurut Verywell Mind, teman yang selalu menjadi tempat curhat tanpa memberi dukungan kembali atau yang membiarkan hubungan terasa satu arah bisa menjadi tanda hubungan yang secara mental menguras energi karena tidak adanya timbal balik emosional.
Beberapa tanda friendship fatigue antara lain mulai malas membalas pesan, merasa berat untuk bertemu teman, cepat lelah setelah bersosialisasi, serta muncul keinginan untuk menyendiri. Dalam banyak kasus, individu juga merasa bersalah karena menarik diri, meskipun yang dibutuhkan sebenarnya adalah ruang untuk diri sendiri.
Melansir Verywell Mind, ketika seseorang merasa bahwa hubungan mulai mengganggu keseimbangan emosinya, misalnya karena selalu memberi lebih banyak dukungan daripada menerima, hal itu bisa menjadi indikator bahwa hubungan tersebut mulai menjadi beban.
Jika tidak dikelola dengan baik, friendship fatigue dapat berdampak pada kesehatan mental. Hubungan sosial yang terasa membebani dapat meningkatkan stres dan membuat seseorang merasa tertekan. Padahal, persahabatan yang sehat seharusnya memberi rasa nyaman dan saling mendukung.
Para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana untuk mengatasi kondisi ini. Salah satunya adalah menetapkan batasan yang jelas dalam berinteraksi. Tidak semua pesan harus dibalas seketika, dan tidak semua ajakan harus dipenuhi. Memberi diri waktu untuk beristirahat dari aktivitas sosial merupakan hal yang wajar. Langkah ini sejalan dengan saran dari pakar hubungan, bahwa membatasi waktu dengan teman yang menguras energi dapat membantu mempertahankan kesehatan mental tanpa perlu memutus hubungan sepenuhnya.
Selain itu, komunikasi yang jujur juga penting. Menyampaikan kebutuhan akan ruang atau waktu tanpa menyalahkan pihak lain dapat membantu menjaga hubungan tetap sehat. Fokus pada kualitas hubungan, bukan jumlah teman, juga dapat mengurangi beban emosional.
Friendship fatigue bukan tanda bahwa persahabatan gagal. Kondisi ini justru menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga hubungan sosial. Dengan keseimbangan yang tepat, persahabatan tetap dapat menjadi sumber energi dan dukungan dalam kehidupan sehari-hari. [Syifaa]