
ThePhrase.id - Istilah functional freeze belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya TikTok. Banyak orang merasa istilah ini begitu relevan dengan kondisi mereka sehari-hari. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan functional freeze?
Melansir Today.com, functional freeze merujuk pada kondisi fisik, emosional, dan mental ketika seseorang kehilangan dorongan untuk memulai atau menyelesaikan tugas, termasuk hal-hal yang tergolong ringan. Meski keinginan untuk beristirahat muncul, pikiran justru terus dipenuhi rasa kewajiban dan tekanan untuk tetap berjalan.
Kondisi ini kerap muncul setelah periode stres berkepanjangan, kelelahan ekstrem, atau perasaan kehilangan arah dan tujuan hidup. Functional freeze memang bukan diagnosis psikologis resmi, namun dampaknya nyata. Seseorang dapat merasa terputus dari diri sendiri maupun dari kehidupan yang sedang dijalani.
Secara kasat mata, orang yang mengalami functional freeze sering kali tetap terlihat produktif. Mereka masih bekerja, memenuhi kewajiban, dan menjalani rutinitas harian seperti biasa. Namun di balik itu, muncul perasaan lelah yang tidak kunjung reda, gelisah tanpa sebab jelas, sulit berkonsentrasi, serta kesulitan menuntaskan hal-hal yang sudah dimulai.
Psikolog Nicole LePera menjelaskan bahwa dalam kondisi ini, tubuh seolah berada dalam mode membeku, sementara pikiran terus dipenuhi daftar hal yang “seharusnya” dilakukan. Ketika seseorang tidak juga bergerak atau beristirahat dengan benar, rasa bersalah pun muncul dan justru memperparah keadaan.
Penjelasan serupa disampaikan oleh Liz Tenuto, praktisi somatic exercise yang dikenal sebagai “The Workout Witch”. Mengutip CNBC Make It, Tenuto menyebut functional freeze sebagai respons alami tubuh dan pikiran terhadap stres atau rasa kewalahan. Seseorang bisa menjalani hari dengan sangat produktif, namun setelah seluruh kewajiban selesai, tubuh seakan “jatuh”. Waktu kemudian dihabiskan berjam-jam di tempat tidur, doom scrolling, atau menonton sesuatu tanpa tujuan yang jelas.
Menurut Tenuto, tanda-tanda functional freeze dapat berupa mati rasa secara emosional, menarik diri dari lingkungan sosial, gangguan tidur, kelelahan berkepanjangan, hingga keluhan fisik tanpa penyebab medis yang jelas. Dalam situasi ini, tubuh sebenarnya sedang berupaya menghemat energi sebagai mekanisme bertahan hidup.
Untuk keluar dari kondisi tersebut, para ahli sepakat bahwa pendekatan yang digunakan perlu dilakukan secara lembut dan bertahap. Aktivitas sederhana seperti menghabiskan waktu di alam, tertawa, bernapas secara sadar, atau membagi pekerjaan ke dalam durasi pendek dapat membantu mengurangi beban. Gerakan ringan atau somatic movement seperti yoga, peregangan perlahan, dan berjalan santai juga dianjurkan untuk membantu tubuh kembali merasa aman dan rileks.
Meski kerap dianggap sepele, functional freeze bisa menjadi sinyal penting bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian lebih. Jika rasa kehilangan motivasi, mati rasa, dan kelelahan terus berlanjut hingga mengganggu kehidupan sehari-hari, para ahli menyarankan untuk mencari bantuan profesional agar proses pemulihan dapat dilakukan dengan cara yang tepat. [nadira]