trending

Gelombang Panas Terburuk Melanda Eropa, Lebih dari 1.300 Orang Meninggal

Penulis Ashila Syifaa
Jun 30, 2026
Ilustrasi gelombang panas di Eropa. (Foto: Magnific/ilovehz)
Ilustrasi gelombang panas di Eropa. (Foto: Magnific/ilovehz)

ThePhrase.id - Gelombang panas terburuk melanda Eropa dalam beberapa pekan terakhir. Suhu yang menembus rekor di sejumlah negara telah memicu krisis kesehatan, mengganggu berbagai sektor kehidupan, dan menjadi peringatan nyata akan dampak perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gelombang panas tersebut telah menyebabkan lebih dari 1.300 kematian sejak 21 Juni 2026 dan berdampak pada lebih dari 150 juta orang di seluruh Eropa.

Sementara itu, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan bahwa gelombang panas ini dipicu oleh fenomena heat dome atau kubah panas, yaitu kondisi ketika udara panas terperangkap di bawah sistem tekanan tinggi sehingga suhu terus meningkat selama beberapa hari. Fenomena ini bermula dari Semenanjung Iberia sebelum meluas ke Eropa Barat, Eropa Tengah, Eropa Selatan, hingga kawasan Balkan.

Sejumlah negara mencatat rekor suhu tertinggi, di antaranya:

  • Jerman: Suhu mencapai 41,7 derajat Celsius, dengan 252 stasiun cuaca mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah.
  • Hungaria: Mencetak rekor suhu bulan Juni sebesar 40,7 derajat Celsius.
  • Polandia: Suhu mencapai 40,5 derajat Celsius, menjadi rekor tertinggi nasional.
  • Republik Ceko: Mencatat rekor suhu tertinggi baru.
  • Austria: Suhu di Wina mencapai 40 derajat Celsius.
  • Inggris: Rekor suhu bulan Juni mencapai 37,3 derajat Celsius selama tiga hari berturut-turut.
  • Belanda: Mencatat rekor suhu bulan Juni sebesar 39,4 derajat Celsius.
  • Denmark: Mencapai suhu tertinggi sepanjang sejarah, yakni 37 derajat Celsius.
  • Swiss: Kota Basel mencatat rekor suhu bulan Juni sebesar 39 derajat Celsius.
  • Prancis: Suhu maksimum mencapai 43,8 derajat Celsius. Sebanyak 58 wilayah berstatus siaga merah akibat panas ekstrem dan meningkatnya risiko kebakaran hutan.
  • Spanyol: Mengalami hari-hari terpanas sepanjang sejarah untuk bulan Juni, dengan sejumlah wilayah mencatat suhu di atas 40 derajat Celsius.

Tingginya angka korban jiwa di Eropa juga dipengaruhi sejumlah faktor. Banyak bangunan di kawasan tersebut dirancang untuk mempertahankan panas saat musim dingin sehingga tidak dilengkapi pendingin ruangan. Selain itu, sekitar 22 persen penduduk Uni Eropa berusia 65 tahun ke atas, kelompok yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan akibat suhu ekstrem. Kondisi semakin diperparah oleh kelembapan udara yang tinggi dan suhu malam yang tetap panas sehingga tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendinginkan diri.

Menurut WMO, Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat akibat perubahan iklim. Frekuensi, intensitas, dan durasi gelombang panas diperkirakan akan terus meningkat seiring krisis iklim yang semakin memburuk.

Apakah Gelombang Panas akan Terjadi di Indonesia?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena gelombang panas (heatwave) secara teknis tidak terjadi di Indonesia karena letak geografisnya berada di wilayah ekuator dengan karakteristik atmosfer yang berbeda. 

Meski demikian, Indonesia tetap dapat mengalami peningkatan suhu udara yang signifikan saat musim kemarau. Dengan tingkat kelembapan yang tinggi, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kelelahan akibat panas (heat exhaustion) hingga serangan panas (heatstroke), meskipun suhu udara tidak setinggi di Eropa. [Syifaa]

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic