
Thephrase.id - Presiden La Liga, Javier Tebas, kembali melontarkan kritik keras kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino, dengan menyebut kepemimpinan pria asal Swiss tersebut tidak lagi dapat dipertahankan dan mendesak adanya perubahan mendasar di tubuh organisasi sepak bola dunia itu.
Dalam wawancara dengan harian Prancis Le Monde, Tebas menyatakan bahwa masa kepemimpinan Infantino seharusnya sudah berakhir karena sejumlah kebijakan yang dijalankan dinilai tidak membawa perkembangan positif bagi sepak bola secara keseluruhan.
"Bagi saya, masa Gianni Infantino sudah lama berlalu," tegas Tebas.
Tebas menegaskan bahwa pandangannya tidak muncul akibat kontroversi terbaru yang melibatkan FIFA, melainkan berdasarkan penilaiannya terhadap pola kepemimpinan Infantino yang telah ia amati selama bertahun-tahun.
"Saya tidak mengatakan ini karena peristiwa-peristiwa terbaru. Saya sudah lama memperhatikan gaya kepemimpinan seperti ini, meskipun tampaknya banyak orang baru menyadarinya sekarang," lanjutnya.
Menurut Tebas, sejumlah proyek yang didorong FIFA di bawah kepemimpinan Infantino justru berdampak terhadap kompetisi domestik yang selama ini menjadi fondasi utama perkembangan sepak bola di berbagai negara.
"Gianni Infantino bukan seseorang yang berkontribusi terhadap pertumbuhan sepak bola. Sebaliknya, proyek-proyeknya menghancurkan esensi olahraga ini, yaitu liga-liga nasional," bebernya.
Tebas juga menilai bahwa pengelolaan sepak bola dunia tidak boleh hanya berfokus pada kelompok elite, melainkan harus memberi ruang yang lebih besar bagi seluruh elemen yang terlibat dalam ekosistem olahraga tersebut.
"Sepak bola tidak terbatas pada kelompok elite. Bagi saya, era Infantino sudah berakhir. Yang masih harus dilihat adalah kapan itu akan terjadi dan bagaimana proses suksesi akan berlangsung. Saya berharap ini bukan sekadar mengganti beberapa orang dengan yang lain, melainkan sebuah perombakan yang benar-benar nyata," ucapnya.
Pernyataan Tebas muncul ketika posisi Infantino semakin mendapat tekanan dari sejumlah pihak di Eropa yang mempertanyakan kelanjutan kepemimpinannya menjelang pemilihan presiden FIFA berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Maret tahun depan.
UEFA sebelumnya telah menyampaikan pandangannya bahwa keberlanjutan kepemimpinan Infantino di FIFA sulit dipertahankan. Aementara Federasi Sepak Bola Norwegia secara terbuka meminta presiden FIFA tersebut untuk mengundurkan diri dan sejumlah asosiasi sepak bola Eropa menarik dukungan mereka untuk masa jabatan berikutnya.
Tekanan terhadap Infantino juga meningkat setelah muncul berbagai polemik yang melibatkan FIFA dalam beberapa waktu terakhir, termasuk kontroversi terkait rencana penjualan sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta yang pada akhirnya tidak dilanjutkan.
Pada akhir pekan lalu, UEFA mengonfirmasi adanya pembayaran kompensasi kepada seorang mantan pegawai perempuan yang disebut memiliki hubungan pribadi dengan Infantino. Ketika itu, ia masih menjabat sebagai sekretaris jenderal organisasi tersebut lebih dari satu dekade lalu, sementara FIFA membantah berbagai tuduhan yang beredar dan menyebutnya tidak benar.
FIFA kemudian merespons gelombang kritik tersebut melalui pernyataan resmi yang menuding para penentang Infantino berupaya menggulingkannya sebelum proses pemilihan presiden organisasi berlangsung secara demokratis pada tahun depan.
"Mereka yang tidak memiliki dukungan dari asosiasi anggota FIFA seharusnya tidak berusaha mencapai melalui tuduhan, insinuasi, atau misinformasi apa yang tidak bisa mereka capai melalui proses demokrasi yang telah ditetapkan FIFA," kata FIFA.
Di tengah tekanan yang datang dari sejumlah negara dan organisasi sepak bola Eropa, Infantino masih mendapatkan dukungan dari beberapa federasi besar di luar benua tersebut.
Termasuk Meksiko yang menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia serta Argentina yang baru-baru ini mencapai partai final Piala Dunia 2026, sementara UEFA menyatakan opsi boikot terhadap turnamen-turnamen FIFA masih tetap terbuka untuk dibahas pada masa mendatang.