sportPiala Dunia 2026

Gianni Infantino Minta Maaf atas Kontroversi Penjualan Saham Piala Dunia, UEFA Tetap Ngotot Lengserkan dari Presiden FIFA

Penulis Ahmad Haidir
Oct 16, 2026
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan permintaan maaf. Foto Instagram Gianni Infantini.
Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan permintaan maaf. Foto Instagram Gianni Infantini.

Thephrase.id - Presiden FIFA, Gianni Infantino, menyampaikan permintaan maaf kepada anggota Dewan FIFA dalam pertemuan di Zurich, Swiss, Kamis, 15 Oktober 2026, setelah sebelumnya tidak melibatkan dalam pembahasan rencana penjualan sebagian kepemilikan bisnis Piala Dunia melalui proyek FIFA Forward Enterprise (FFE).

Permintaan maaf tersebut belum menjawab sejumlah persoalan yang dipertanyakan anggota dewan beranggotakan 37 orang itu, terutama mengenai alasan dan proses penyusunan proyek FFE. Infantino meminta seluruh pertanyaan disampaikan secara tertulis untuk dijawab dalam pertemuan berikutnya pada Desember 2026.

Sikap Infantino mendapat tanggapan berbeda dari para petinggi sepak bola dunia karena sebagian besar anggota dewan masih mendukung kepemimpinannya. Sedangkan sejumlah perwakilan Eropa tetap menginginkan pergantian Presiden FIFA menjelang pemilihan pada Maret 2027.

Wakil Presiden FIFA sekaligus Ketua Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Debbie Hewitt, menegaskan bahwa permintaan maaf Infantino belum mengubah pandangannya mengenai masa depan kepemimpinan organisasi sepak bola dunia tersebut.

"Saya hanya bisa berbicara atas nama diri sendiri. Tidak ada yang berubah. Saya tidak mendapatkan informasi baru yang membuat pandangan saya berbeda dibandingkan sebelum menghadiri pertemuan, selain bahwa kami memiliki Presiden FIFA yang meminta maaf dan berjanji akan memberikan informasi yang telah kami minta," ujar Hewitt dilansir The Athletic.

Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB), Bernd Neuendorf, juga mendesak perubahan menyeluruh dalam tata kelola FIFA dan menilai pembenahan organisasi tidak mungkin dilakukan selama Infantino masih memegang jabatan tertinggi.

"Hal pertama yang kami perlukan adalah reformasi, semua orang mengetahui hal itu. Seluruh tata kelola harus direformasi. Namun, saya sangat yakin hal tersebut tidak mungkin dilakukan dengan Gianni sebagai orang yang bertanggung jawab di FIFA. Kami membutuhkan awal yang benar-benar baru secara politik, sosok baru untuk mewakili FIFA," kata Neuendorf.


Mayoritas Anggota FIFA Masih Mendukung Infantino

Penolakan dari sejumlah pemimpin sepak bola Eropa tidak sepenuhnya mencerminkan sikap anggota FIFA dari kawasan lain. Anggota Dewan FIFA sekaligus Presiden Federasi Sepak Bola Mauritania, Ahmed Yahya, menyebut mayoritas anggota masih menginginkan Infantino bertahan dan menganggap permintaan maaf serta kesediaannya melakukan reformasi sebagai langkah untuk melanjutkan pekerjaan organisasi.

Dukungan tersebut turut berkaitan dengan keputusan FIFA meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola menjadi total 6,35 miliar dolar AS (Rp114 triliun) untuk siklus empat tahun mendatang. Dana tersebut  akan disalurkan kepada konfederasi, federasi anggota, dan pemangku kepentingan lainnya, dengan setiap federasi nasional disebut akan menerima 25 juta dolar AS per tahun atau 25 kali lipat dibandingkan jumlah ketika Infantino mulai menjabat pada 2016.

Di tengah dukungan tersebut, UEFA masih berupaya mencari kandidat untuk menghadapi Infantino dalam pemilihan Presiden FIFA 2027 sebelum batas pendaftaran pada 18 November 2026. Nama Arsene Wenger dan Lise Klaveness sempat disebut sebagai calon potensial meskipun keduanya belum menunjukkan ketertarikan untuk maju.

Perselisihan antara UEFA dan FIFA juga belum berakhir karena organisasi sepak bola Eropa tersebut masih melanjutkan langkah hukum terhadap FIFA serta pihak-pihak yang mendukung proyek FFE di Swiss dan Amerika Serikat. Sedangkan usulan Eropa untuk melarang penangguhan hukuman otomatis satu pertandingan ditunda sambil menunggu peninjauan prosedur disiplin.

Kontroversi lain yang turut dipersoalkan mencakup keputusan FIFA memberikan penghargaan perdamaian kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan penangguhan larangan bermain satu pertandingan terhadap Folarin Balogun. Pertemuan selama tiga setengah jam itu tidak menghasilkan penjelasan maupun dokumen baru mengenai kedua persoalan tersebut, sementara pertanyaan terkait penghargaan perdamaian diteruskan kepada komite tanggung jawab sosial FIFA.

Infantino kembali menyampaikan permintaan maaf atas kurangnya komunikasi dalam penyusunan proyek FFE. Ia menyatakan bahwa tujuannya adalah meningkatkan pendanaan pengembangan sepak bola, tetapi Neuendorf menilai penyesalan tersebut hanya berkaitan dengan kegagalan memberi tahu anggota dewan, bukan terhadap proyek yang sejak awal memicu penolakan.

"Hal itu menarik karena dia mengatakan permintaan maafnya disebabkan oleh tidak adanya pemberitahuan kepada dewan, yaitu karena kurangnya komunikasi. Saya tidak mendapatkan kesan bahwa dia menyesali proyek itu sendiri," tutur Neuendorf.

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic