
Thephrase.id - Rui Pinto, sosok di balik Football Leaks, kembali melontarkan kritik terhadap Presiden FIFA, Gianni Infantino, terkait dugaan intervensi dalam kasus Manchester City dan Paris Saint-Germain (PSG).
Manchester City dinyatakan bersalah melanggar aturan finansial Premier League selama periode sembilan tahun. The Citizens tetap membantah melakukan pelanggaran dan masih memiliki waktu hingga Jumat, 2 Oktober 2026 untuk mengajukan banding.
Kasus tersebut sebelumnya menjadi perhatian setelah Football Leaks pada 2018 mempublikasikan sejumlah dokumen melalui media Jerman, Der Spiegel, yang turut menjadi bagian dari informasi yang mendorong penyelidikan Premier League terhadap Manchester City.
Pinto kembali mengangkat tudingan yang pernah muncul pada 2018 mengenai dugaan keterlibatan Infantino ketika masih menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEFA dalam penanganan kasus Manchester City dan PSG.
Menurut laporan Der Spiegel pada saat itu, kedua klub dituding melebih-lebihkan nilai kesepakatan sponsor untuk memenuhi ketentuan Financial Fair Play (FFP). Sedangkan dokumen yang dirilis Football Leaks menyebut adanya upaya untuk mendapatkan hukuman yang lebih ringan pada 2014.
"Pada 2014, ada seorang pria yang sudah mengetahui adanya penyimpangan yang melibatkan Manchester City," tulis Pinto.
"Gianni Infantino yang terkenal buruk, yang saat itu merupakan sekretaris jenderal UEFA, menyalahgunakan kewenangannya, membagikan dokumen rahasia dan, singkatnya, mengakali ruang investigasi dengan melakukan segala cara untuk memastikan Manchester City dan PSG hanya menerima denda, sehingga terhindar dari penyelidikan lebih lanjut yang dapat berujung pada larangan tampil di Liga Champions," lanjutnya.
Pinto juga menegaskan bahwa informasi mengenai dugaan tersebut sebelumnya telah diungkap melalui Football Leaks, sebelum kemudian melontarkan kritik keras terhadap posisi Infantino di sepak bola dunia.
"Semua detail tersebut juga diungkap melalui Football Leaks," ungkap Pinto.
"Mengingat tindakannya sebagai sekretaris jenderal UEFA dan, belakangan, sebagai presiden FIFA, saya hanya dapat mengatakan, menurut pendapat saya yang sederhana, bahwa Gianni Infantino telah menjadi kanker bagi sepak bola dan seharusnya tidak memiliki tempat dalam masa depan olahraga ini," katanya.
Ketika tudingan tersebut pertama kali muncul, UEFA menyatakan bahwa membantu dalam persoalan semacam itu merupakan bagian dari kewenangan sekretaris jenderal, termasuk melakukan pembicaraan, pertemuan, serta memberikan bantuan untuk mencari solusi bagi badan investigasi.
Infantino juga sebelumnya menjelaskan bahwa pekerjaannya sebagai Sekjen UEFA mencakup berbagai bentuk komunikasi dan pertukaran dokumen maupun gagasan terkait banyak persoalan, serta menyatakan dirinya menjalankan tugas secara jujur dan profesional demi kepentingan sepak bola.
UEFA sebelumnya menuduh Infantino melakukan "criminal mismanagement" terkait skema FIFA Forward Enterprise (FFE), sedangkan Asosiasi Sepak Bola Swiss (SFV) menjadi federasi terbaru yang menarik dukungan terhadap Presiden FIFA tersebut.
"Keputusan tersebut diambil setelah penilaian menyeluruh terhadap berbagai perkembangan dalam beberapa bulan terakhir, dari sudut pandang SFV, berbagai insiden menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai kepemimpinan, tata kelola, transparansi, dan proses pengambilan keputusan di dalam FIFA," demikian pernyataan SFV dilansir BBC.
FIFA dan UEFA sama-sama berkantor pusat di Swiss, sementara Infantino dijadwalkan mencalonkan diri untuk periode kepemimpinan keempat dalam pemilihan pada Maret 2027 dengan batas waktu bagi pihak yang ingin mencari kandidat alternatif hingga 18 November 2026.