
ThePhrase.id - Pemerintah Indonesia akan menyediakan sekitar 3 juta paket makanan siap saji untuk para jemaah haji pada tahun 2026.
Makanan tersebut dirancang untuk fase Armuzna meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina, ketika kepadatan jemaah mencapai puncaknya dan akses untuk menyiapkan makanan sangat terbatas.
Mengapa Standar Distribusi Makanan Rawan di Kawasan Armuzna?
Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina adalah lokasi yang paling ramai selama pelaksanaan ibadah haji.
Para jemaah di Masjidil Haram dan sekitarnya tidak memiliki akses ke dapur pribadi, dan jadwal ibadah yang padat hingga menyisakan hanya sedikit waktu untuk makan. Pendistribusian makanan dalam kondisi seperti ini secara logistik akan sangat terkendala, dan setiap gangguan serta keterlambatan pasokan makanan dapat mempengaruhi kesehatan jemaah dan pelaksanaan ritual ibadah mereka.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaff mengatakan fase Armuzna adalah fase yang sangat padat dan kompleks. Karena itu, layanan konsumsi harus dipastikan berjalan baik. “Bagi kami, konsumsi bukan sekadar penyediaan makanan, tetapi bagian penting dari ikhtiar menjaga kesehatan dan stamina jemaah agar dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk,” ujar Maria dikutip dari haji.go.id (19/5/2026).
Selama fase Armuzna, imbuh Maria, jemaah haji Indonesia akan memperoleh total 15 porsi makanan dengan cita rasa nusantara yang disediakan oleh pihak syarikah. Selain itu, disiapkan enam porsi makanan pada fase pra-Armuzna pada 7 dan 8 Dzulhijjah, serta pasca-Armuzna pada 13 Dzulhijjah, atau bertepatan dengan 24, 25, dan 30 Mei 2026.
Inovasi Teknologi Untuk Konsumsi Jemaah Haji
Makanan tersebut menggunakan inovasi kemasan makanan yang memanaskan makanan hanya dengan menambahkan air.
Air tersebut memicu reaksi kimia menggunakan bahan-bahan seperti zeolit dan kapur, yang menghasilkan panas yang cukup untuk menghangatkan makanan hingga suhu yang layak untuk dimakan tanpa menggunakan kompor, listrik, atau peralatan tambahan apa pun.
Dikutip dari the Islamic information (18/5/2026), kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria, mengatakan teknologi tersebut telah diuji keamanan pangannya dan bebas dari zat berbahaya. Ia menegaskan bahwa makanan tersebut mencapai suhu yang sesuai berdasarkan pencicipan produk yang dilakukannya sendiri.
Hanya Untuk Jemaah Indonesia
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendukung pendekatan tersebut, dengan menyatakan bahwa pengemasan yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas makanan di seluruh proses distribusi.
Ia juga menegaskan bahwa makanan ini hanya untuk jemaah haji Indonesia dan tidak akan didistribusikan secara lebih luas di Arab Saudi. Makanan tersebut harus memenuhi standar halal dan mendapat persetujuan dari otoritas pangan Indonesia yang berwenang sebelum digunakan.
Zulhas memastikan makanan akan tersedia setiap saat dan dalam jumlah yang cukup, dengan perencanaan yang memperhitungkan potensi gangguan pasokan.
Sementara itu, Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) Moch Irfan Yusuf menyampaikan penyediaan konsumsi bagi jemaah tidak terdampak langsung oleh dinamika harga global, meskipun terdapat fluktuasi harga di pasar lokal Arab Saudi.
Ia menegaskan pihak penyedia katering tidak mengajukan perubahan harga, sehingga layanan konsumsi bagi jemaah tetap berjalan sesuai perencanaan tanpa adanya penyesuaian yang berpotensi mengganggu pelayanan.
Kemungkinan diterapkan di Luar Penyelenggaraan Haji
Teknologi yang sama dapat digunakan dalam penanggulangan bencana, komunitas terpencil, dan keadaan darurat lainnya di mana infrastruktur pemanas tidak tersedia — sehingga relevansinya melampaui konteks penyelenggaraan haji saja. (Z. Ibrahim)