
ThePhrase.id - Amerika selama ini menggunakan dua kekuatan untuk memenangkan perang terhadap negara lawannya, yakni militer dan media. Maka, meski secara militer kalah tetapi Amerika bisa memenangkan opini publik melalui propaganda media yang dikuasainya. Namun hal itu tidak dengan perang melawan Iran tahun 2026 ini, Amerika tidak hanya kalah secara militer tetapi juga gagal memenangkan hati publik global setelah banyaknya media alternatif yang menyiarkan perang itu.
Dari peperangan yang sudah berlangsung selama lebih dua bulan ini, secara militer dan opini Amerika sudah kalah terhadap Iran. Lamanya perang ini sendiri sudah menjadi tanda kekalahan Amerika karena di luar perkiraan Amerika yang memprediksi Iran akan kalah setelah gugurnya Ali Khamenei, pemimpin tertingginya Iran. Namun ternyata, wafatnya Ali Khamenei, justru menjadi pemantik perlawanan dan jadi alasan Iran mengerahkan kekuatan militer yang dibangunnya selama ini.
Ada beberapa faktor penyebab kekalahan Amerika terhadap Iran. Pertama, Alutsista atau alat utama sistem senjata. Kecanggihan peralatan dan senjata militer Amerika dapat diimbangi Iran. Rudal dan dron Iran mampu menembus sistem pertahanan udara yang diklaim Amerika -Israel sebagai pertahanan udara tercanggih di dunia. Akibatnya kota-kota utama Israel dan 16 pangkalan militer Amerika di Timur Tengah hancur berantakan. Jebolnya sistem pertahanan ini juga membuat kapal induk USS Abraham Lincoln yang menjadi simbol supremasi Amerika di lautan menjadi sebongkah besi terapung yang harus ditarik ke pinggir. Demikian juga jet tempur siluman F-35 yang diklaim AS sebagai pesawat tempur anti-radar berjatuhan ditembak Iran menggunakan sistem pertahanan udara terbarunya.
Amerika menyerang dengan menggelar semua kekuatan militernya di depan dengan asumsi akan menundukkan Iran dalam waktu singkat. Sementara Iran merespons dengan persiapan perang jangka panjang. Maka ketika Amerika sudah mulai kehabisan napas karena banyaknya logistik yang terkuras, Iran baru menyerang dengan drone murah dan rudal-rudal stok lama yang sudah tersimpan puluhan tahun.
Kedua, runtuhnya citra dan propaganda Amerika. Perkembangan teknologi informasi dengan maraknya media sosial dan media alternatif lainnya telah menggerus posisi media mainstream sebagai pintu utama informasi. Media alternatif itu menjadi alat pembanding bagi publik untuk menakar akurasi isi berita-berita propaganda yang disiarkan media arus utama yang pro Amerika-Israel. Selama ini, media arus utama itu menyiarkan propaganda tentang alasan Amerika menyerang negara sasaran. Amerika menggunakan semua media termasuk film-film Hollywood sebagai alat propaganda membentuk opini ketangguhan tentara Amerika di lapangan. Seperti film Rambo, First Blood II, yang mendeskripsikan seorang anggota pasukan khusus John Rambo, menghadapi pasukan Vietkong dan Rusia di perang Vietnam.
Faktanya, dalam perang Vietnam (1955–1975), Amerika kalah yang ditandai dengan penarikan mundur militer AS dari Vietnam. BBC melaporkan, tahun 2008 Kongres AS mengumumkan total pengeluaran untuk perang Vietnam adalah US$686 miliar, atau jika dihitung dengan kurs saat ini, angkanya lebih dari US$950 miliar atau Rp14.323 triliun. Laporan itu mencatat lebih dari 58.000 tentara AS yang tewas dan hilang di Vietnam.
Demikian juga dengan perang di Afganistan (2001-2021), yang dimulai setelah serangan WTC Twin Tower di New York, pada 11 September 2001. Amerika Serikat dengan dukungan NATO menyerang Afganistan dengan dalih memburu teroris yang bersembunyi di negara itu. Ibukota Afganistan Kabul dikuasai dengan mengusir Taliban yang memerintah negara itu. Perang ini juga berakhir dengan kekalahan Amerika pada Agustus 2021, ditandai penarikan pasukan AS secara tergesa-gesa dengan meninggalkan semua peralatan perangnya di Afganistan. Tercatat, selama perang ini, 2.459 personel militer Amerika Serikat tewas dan Amerika menghabiskan lebih dari 1 USD Triliun (Rp.14.000 triliyun).
Munculnya media alternatif ini telah berkontribusi terhadap runtuhnya kepercayaan dunia terhadap Amerika karena banyaknya fakta-fakta yang terkuak di balik propaganda Amerika selama ini. Sangkalan Amerika tentang pesawat F35 yang ditembak jatuh di Iran Tengah dijawab Iran dengan video puing-puing pesawat itu dan warga Iran yang mencari pilot dan kopilotnya yang melarikan diri. Klaim-klaim Amerika tentang serangan militernya menyasar instalasi milter Iran direspon Iran dengan merilis video peluncuran rudal dan drone yang menyasar pangkalan dan fasilitas militer Amerika lainnya.
Ketiga, perlawanan warga dunia dan publik Amerika. Selain melawan Iran, dalam perang ini pemerintah Amerika juga menghadapi warganya sendiri. Berbeda dengan Iran yang didukung penuh rakyatnya, Amerika harus berhadapan dengan rakyatnya sendiri yang memprotes perang karena berdampak pada ekonomi di dalam negeri Amerika. Protes itu terus berlangsung hingga saat ini, sejak aksi serentak 8 juta warga Amerika di seluruh negara bagian yang turun ke jalan meneriakkan "No Kings" pada akhir Maret 2026. Publik Amerika menilai perang ini tidak ada hubungannya dengan ancaman langsung terhadap kepentingan dalam negeri Amerika. Presiden Donald Trump menyerang Iran karena termakan hasutan Israel yang menganggap Iran sebagai ancaman terhadap kepentingannya di Timur Tengah.
Selain itu, Amerika juga berhadapan dengan komunitas internasional yang mengecamnya sebagai pemantik perang yang selalu ikut campur dengan urusan negara lain. Perang ini telah membuat terganggunya stabilitas ekonomi global karena terhambatnya pengiriman minyak dari teluk Persia akibat blokade selat Hormuz. Beberapa negara sekutu Amerika di NATO pun tidak mau ikut terseret perang dengan Iran. Komunitas internasional sudah mengetahui tentang kampanya Amerika menyerang Iran untuk menghancurkan nuklir Iran hanya sebagai dalih semata, karena tujuan sejatinya adalah Amerika ingin memguasai sumber minyak negera-negara teluk.
Keempat, moralitas bertempur pasukan. Jauhnya jarak dan lamanya berada di wilayah operasi membuat tantara Amerika mengalami Combat Fatigue atau kelelahan fisik dan mental ekstrem akibat berada di garis depan pertempuran. Hal ini berdampak pada moral dan semangat bertempurnya. Spil-spil informasi di media sosial tentang keluhan prajurit Amerika karena tertundanya rotasi pasukan dan perpanjangan waktu di garis depan membuat semangatnya menurun dan tidak memiliki alasan moral untuk memenangkan peperangan ini.
Sementara di sisi lain, heroism dan keberanian pasukan Garda Revolusi Iran menyerang kapal-kapal perusak Amerika di Teluk Oman dengan boat-boat kecil menjadi provokasi kepercayaan diri Iran untuk menghadapi Amerika di segala medan pertempuran. Aksi-aksi pasukan Iran memanjat kapal-kapal tanker yang dianggap melanggar ultimatum di Selat Hormuz menjadi isyarat bahwa Iran memegang kendali penuh terhadap kawasan itu. Narasi Iran berperang melawan penjajah membela tanah air menjadi alasan moral sangat kuat bagi pasukan Iran untuk memenangkan pertempuran. Doktrin perang suci dan kehormatan tertinggi mati membela negara adalah credo yang tertanam dalam diri setiap tantara Iran. Doktri yang tak dimiliki pasukan Amerika dan sekutunya.
Keinginan Amerika mengulangi keberhasilannya di Irak, Libya, Suriah dan Venezuela sepertinya tak akan terjadi dalam perang melawan Iran. Di tengah desakan negara-negara dunia dan gempuran rudal dan drone Iran, Presiden AS Donald Trump terus berhalusinasi berteriak seolah sebagai pemenang dan penentu di Selat Hormuz. Teriakan untuk mengulur waktu sambil mencari cara untuk keluar dari perang ini dengan tetap punya muka di depan warga dunia. (Aswan AS)