trending

Hantavirus di Indonesia: 23 Kasus Ditemukan, Tiga Orang Meninggal

Penulis Nadira Sekar
May 12, 2026
Foto: Ilustrasi Hantavirus (magnific.com photo by rorozoa)
Foto: Ilustrasi Hantavirus (magnific.com photo by rorozoa)

ThePhrase.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat sebanyak 23 kasus konfirmasi hantavirus ditemukan di Indonesia sejak 2024 hingga minggu ke-16 tahun 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia dengan case fatality rate (CFR) mencapai 13 persen.

Kasus hantavirus tercatat tersebar di sembilan provinsi. DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni masing-masing enam kasus. Jawa Barat menyusul dengan lima kasus, sementara Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara masing-masing mencatat satu kasus.

Selain kasus terkonfirmasi, Kemenkes juga menemukan 251 kasus suspek hantavirus dalam periode yang sama. Melansir jawapos.com, sebanyak 221 kasus telah dinyatakan negatif, empat kasus masih dalam proses pemeriksaan, dan tiga kasus tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen. Saat ini, dua kasus suspek masih dalam pemantauan, masing-masing berada di Jakarta Utara dan Kulon Progo.

Hantavirus sendiri merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui urine, feses, saliva, maupun debu yang terkontaminasi virus lalu terhirup manusia.

Belakangan ini, hantavirus kembali menjadi perhatian setelah muncul laporan kluster kasus di kapal pesiar berbendera Belanda, MV Hondius.

Secara umum, hantavirus terbagi menjadi dua jenis utama, yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan banyak ditemukan di Asia serta Eropa, serta Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan lebih banyak ditemukan di kawasan Amerika. Seluruh kasus di Indonesia diketahui merupakan tipe HFRS.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan hingga saat ini belum ditemukan kasus penularan hantavirus antarmanusia di Indonesia. Penularan antarmanusia disebut sangat jarang terjadi dan umumnya hanya ditemukan pada tipe HPS di Amerika Selatan.

Namun, pemerintah terus memperkuat kewaspadaan melalui pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), pengawasan di pintu masuk negara, serta penguatan kapasitas laboratorium. Kemenkes juga telah menyiagakan 198 rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging dan memperkuat pengendalian populasi tikus guna menekan risiko penularan.

Masyarakat diimbau menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga kebersihan lingkungan, serta menggunakan alat pelindung saat membersihkan area berdebu yang berpotensi terkontaminasi kotoran tikus. Jika mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala, mual, dan tubuh lemas setelah beraktivitas di area berisiko, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. [nadira]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic