
ThePhrase.id - Harga minyak dunia kembali bergerak di atas US$100 per barel. Harga Brent bahkan sempat menembus US$108 per barel pada awal pekan dan ditutup di level US$108,75 per barel pada Selasa, 15 September 2026.
Kenaikan tersebut terjadi di tengah gangguan pada East-West Pipeline di Arab Saudi. Pipa ini menjadi jalur penting karena memungkinkan Arab Saudi mengirim minyak ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Penghentian operasi pipa tersebut membuat sekitar 4 juta barel minyak per hari yang biasanya mengalir melalui Yanbu berada dalam risiko. Kondisi ini menjadi semakin penting karena jalur pengiriman melalui Selat Hormuz juga masih menghadapi gangguan.
Dengan semakin terbatasnya jalur alternatif, gangguan tambahan di Arab Saudi membuat pasar minyak semakin sensitif terhadap perubahan pasokan.
Besarnya dampak gangguan pasokan terhadap harga minyak juga bergantung pada seberapa besar ruang yang masih dimiliki pasar untuk menyerapnya.
OilPrice mencatat persediaan minyak global yang terpantau turun 95 juta barel sepanjang Agustus. Sejak Februari, penurunannya telah mencapai 507 juta barel. Persediaan minyak yang berada di kapal juga berkurang sekitar 65 juta barel. Kondisi ini membuat ruang bagi pasar untuk mengompensasi gangguan pasokan semakin terbatas.
Chief Executive Officer Chevron Mike Wirth menilai bantalan pasokan yang sebelumnya tersedia di pasar minyak mulai menipis.
“Sulit untuk membayangkan skenario di mana harga melunak, apalagi dengan cepat,” ujar Mike. Menurutnya, risiko harga minyak dalam beberapa bulan ke depan masih mengarah pada kenaikan.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti harga minyak akan terus bergerak naik tanpa koreksi. Pergerakan pada Rabu (16/9) menunjukkan bahwa faktor lain masih dapat menahan kenaikan harga.
Harga Brent turun menjadi sekitar US$107,82 per barel setelah data American Petroleum Institute menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat naik 7,1 juta barel dalam sepekan hingga 11 September. Angka tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penurunan persediaan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak saat ini masih berada di antara dua tekanan. Di satu sisi, gangguan pasokan dari Timur Tengah mendorong harga naik. Di sisi lain, peningkatan persediaan Amerika Serikat dapat memberi ruang bagi harga untuk terkoreksi.
Pergerakan harga minyak dunia juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam melihat harga BBM di dalam negeri. Pada 1 September 2026, Pertamina menaikkan harga sejumlah BBM nonsubsidi. Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter, Dexlite dari Rp19.700 menjadi Rp23.700, sementara Pertamina Dex naik dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.
Namun, kenaikan harga minyak dunia tidak serta-merta membuat seluruh harga BBM di Indonesia ikut naik. Per September 2026, Pertamax masih berada di Rp15.950 per liter, sedangkan Pertalite tetap Rp10.000 per liter.
Hal ini menunjukkan bahwa pergerakan harga minyak dunia memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi harga BBM, tetapi dampaknya ke konsumen Indonesia tidak berlangsung secara otomatis dan seragam. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi juga mempertimbangkan formula pemerintah, nilai tukar rupiah, pajak, serta kondisi daya beli masyarakat.
Ke depan, durasi gangguan pasokan akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah harga minyak. Jika East-West Pipeline dapat kembali beroperasi dan arus minyak melalui jalur lain berangsur normal, tekanan terhadap harga dapat mereda.
Sebaliknya, jika gangguan di Timur Tengah berlangsung lebih lama atau meluas ketika persediaan global sudah menipis, ruang penyangga pasar akan semakin kecil. Dalam kondisi tersebut, harga minyak masih akan sangat sensitif terhadap setiap gangguan baru pada produksi maupun jalur distribusi. [nadira]