
ThePhrase.id - Para peziarah dan jemaah haji yang akan melaksanakan ibadah haji tidak akan mengalami teriknya musim panas lagi selama seperempat abad ke depan.
Juru bicara Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (NCM) Hussein Al-Qahtani, mengatakan bahwa ibadah haji tahun ini menandai terakhir kalinya ibadah haji akan berlangsung di musim panas untuk waktu yang lama.
Mulai tahun 2026, delapan musim haji berikutnya akan berlangsung di musim semi, diikuti oleh delapan musim di musim dingin, kemudian musim gugur dengan suhu yang secara bertahap meningkat, sebelum kembali ke musim panas setelah sekitar 25 tahun, ungkap Al-Qahtani, dikutip dari the Islamic information, Selasa (28/4/2026)
Ibadah Haji 2026 diperkirakan akan berlangsung antara tanggal 25 dan 30 Mei, yang berarti bertepatan dengan musim semi. Dalam beberapa tahun terakhir para Jemaah haji melaksanakan ibadah di bawah suhu yang secara teratur mencapai 45 hingga 47 derajat Celcius di Masjidil Haram (Masjid Agung) dan tempat-tempat suci di sekitarnya.
Mengapa Haji Berganti Musim?
Perubahan ini terkait dengan kalender Hijriah lunar, yang kurang lebih 11 hari lebih pendek daripada tahun Gregorian. Hal ini menyebabkan ibadah haji bergeser lebih awal setiap musim, berputar melalui waktu yang berbeda dalam setahun selama periode sekitar 33 tahun.
Badan Meteorologi Nasional Arab Saudi telah menerbitkan kalender haji 25 tahun yang memetakan bagaimana tanggal ibadah haji akan selaras dengan musim Gregorian hingga tahun 2050, sehingga memberi kemudahan dan kejelasan kepada para jemaah dan pihak berwenang dalam perencanaan penyelenggaaan ibadah haji jangka panjang untuk pertama kalinya.
Apa Dampaknya bagi Para Jemaah Haji?
Peralihan ke musim semi membawa kondisi yang jauh lebih sejuk bagi jutaan orang yang setiap tahunnya melakukan perjalanan ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah di Masjidil Haram dan melakukan perjalanan ke Arafah, Mina, dan Muzdalifah.
Transisi musim ini diharapkan dapat meringankan beban fisik para jemaah haji, khususnya bagi para lanjut usia (lansia) dan mereka yang memiliki masalah kesehatan, sekaligus mendukung pengelolaan keramaian lalu lintas manusia, logistik, dan perencanaan tindakan keselamatan.
Peralihan ini bukan berarti cuaca sudah dingin. Akhir Mei di Mekkah masih membawa panas, tetapi kondisinya jauh lebih terkendali daripada puncak musim panas, ketika suhu di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi (Masjid Nabi) seringkali melebihi 45 derajat Celcius. (Z. Ibrahim)