lifestyle

IDAI Bagikan Sejumlah Tips untuk Lindungi Anak dari Bahaya Asap Karhutla

Penulis Rangga Bijak Aditya
Oct 25, 2026
Ilustrasi anak gunakan masker. (Foto: Pexels/Gustavo Fring)
Ilustrasi anak gunakan masker. (Foto: Pexels/Gustavo Fring)

ThePhrase.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan sejumlah langkah pencegahan untuk melindungi anak-anak dari dampak buruk asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Paparan asap dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, terutama pada anak yang memiliki penyakit penyerta.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi IDAI, dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp. Respi. (K), mengatakan bahwa anak dengan penyakit jantung bawaan maupun anak yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit dan memiliki gangguan kesehatan paru-paru berisiko lebih tinggi terdampak asap karhutla.

“Ini perlu menjadi perhatian pada anak-anak dengan penyakit jantung bawaan ataupun anak-anak yang dirawat di rumah sakit, namun kondisinya terganggu kesehatannya, seperti dari sistem paru-paru dan kondisi lainnya akan berisiko lebih tinggi terpapar dari asap karhutla,” ujar Fifi dalam sebuah diskusi daring di Jakarta pada Jumat (16/10) dikutip Antaranews.

Menurutnya, asap karhutla berpotensi menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperburuk asma, memicu bronkiektasis, serta meningkatkan risiko penyakit paru-paru kronis. Paparan tersebut juga dapat menimbulkan stres oksidatif dan peradangan pada saluran pernapasan.

Tips Lindungi Anak dari Paparan Asap Karhutla

Untuk mengurangi risiko tersebut, orang tua disarankan memantau kualitas udara secara berkala melalui Air Quality Index (AQI) atau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Selain itu, keluarga dapat menyiapkan ruang bersih di rumah dengan pintu dan jendela seminimal mungkin, serta menggunakan alat pembersih udara portabel yang tidak menghasilkan ozon.

“Kalau misalnya menggunakan AC agar AC-nya diatur, tidak dengan kondisinya menarik udara segar dari luar ke dalam. Kita upayakan modenya closed vent atau air recirculation,” tuturnya.

Ia menyarankan, selama kabut asap terjadi, anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela tertutup. Sementara itu, kualitas udara dalam ruangan juga perlu dijaga dengan menghindari aktivitas yang menghasilkan asap, seperti merokok, membakar kayu, menggunakan lilin, maupun menyemprotkan aerosol.

Orang tua juga perlu membatasi aktivitas fisik berat di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Jika anak harus keluar rumah, anak berusia dua tahun ke atas disarankan memakai masker dan kacamata untuk mengurangi paparan partikel asap serta iritasi mata.

Bagi anak yang memiliki asma, alergi, atau penyakit kronis lainnya, obat rutin dan inhaler pereda cepat perlu dipastikan tersedia. Apabila anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk, atau menolak makan dan minum, orang tua harus segera mencari pertolongan medis.

“Segera cari bantuan medis bila anak mengalami kesulitan bernapas, sangat mengantuk atau menolak makan dan minum,” tandasnya. (Rangga) 

Tags Terkait

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic