Imbas Krisis Energi Global, Harga Batu Bara Melonjak Tajam

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Meningkatnya permintaan batu bara pada masa-masa krisis energi di sejumlah negara di dunia membuat harga barang komoditas tersebut melonjak tajam.

Sejak awal tahun 2021, harga batu bara telah meningkat hingga 3 kali lipat. Harga batu bara termal di Asia sendiri telah mencapai rekor tertinggi sepanjang bulan ini, yaitu sebesar US$ 269 per ton.

Sementara itu, seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor batu bara termal termahal di dunia. Bahkan pada tahun 2020, negeri ini telah mengekspor batu bara sebanyak hampir 400 juta ton, atau sekitar 40% dari total batu bara global.

Tambang batu bara di Indonesia (Foto: Ilmu Tambang)

Saham di beberapa produsen batu bara di Indonesia pun melonjak tajam. Saham BUMI misalnya, sejak akhir Agustus 2021 melesat hingga lebih dari 70%. Begitu juga saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melonjak 50%, dan saham PT Indika Energy Tbk (INDY) naik 74% sejak akhir Agustus lalu.

Tak hanya di Indonesia, saham batu bara di beberapa negara di dunia juga turut mengalami lonjakan seperti di Australia dan India.

Terhitung saham Yancoal Australia sejak akhir Agustus lalu mengalami kenaikan hingga lebih dari 80%. Sementara saham Coal India yang juga merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di dunia juga naik hingga 30% sejak akhir Agustus 2021.

Sementara di Rusia, sebagai negara pengekspor batu bara terbesar ketiga di dunia, kini juga harus mengekspor sekitar 142 juta ton batu bara sejak Januari hingga Agustus. Hal ini menunjukkan kenaikan sebesar 11% dari tahun 2019 lalu, sebelum masa pandemi Covid-19.

Saham batu bara naik tajam (Foto: Refinitiv)

Di sisi lain, saham batu bara di Cina beserta negara-negara lain yang kini sedang mengalami krisis energi saat ini juga rupanya sedang mengalami kenaikan.

Sebagai bagian dari negara konsumen terbesar batu bara termal di dunia, Cina saat ini sedang berupaya untuk mengamankan pengiriman dari luar negeri untuk menghadapi pasukan domestik yang jumlahnya terbatas.

Pemerintah Cina bahkan diberitakan telah membatasi aktivitas penambangan dikarenakan adanya kasus kecelakaan fatal pada tahun ini di beberapa lokasi.

Selain itu, Beijing juga kini sedang berupaya mencegah operasi pertambangan kecil yang rentan terhadap keamanan yang longgar dengan cara menerapkan kebijakan reformasi.

Batu bara (Foto: Boombastis)

Lain halnya dengan India. Produksi batu bara di “Negeri Barata” ini mengalami gangguan produksi dan distribusi batu bara akibat hujan lebat yang terjadi sepanjang Juni hingga September yang menyebabkan persediaan barang komoditas di negerinya anjlok ke tingkat yang sangat rendah.

Dilansir dari Asia Nikkei, ahli LNG dan analis senior di Institute of Energy Economics, Hiroshi Hashimoto mengatakan bahwa negara-negara yang kini sedang mengalami krisis energi seperti Cina, India, dan negara-negara Eropa lainnya terpaksa beralih ke batu bara dari gas alam yang harganya melonjak karena sebenarnya harga batu bara masih tergolong murah.

“Batubara cenderung relatif murah. Meskipun berhasil mencetak reli tahun ini, namun harganya masih di bawah sepertiganya dari gas alam cair,” papar Hiroshi.

Menurut laporan riset analis ekuitas di Citigroup Securities di Indonesia, Justian Rama, kemungkinan hingga akhir tahun ini, harga batu bara diperkirakan akan tetap di atas US$ 200 per ton.

“Harga batu bara yang kuat saat ini mungkin memaksa China untuk melonggarkan pemeriksaan keamanan batu bara domestiknya untuk meningkatkan pasokan dan mungkin mulai mempertimbangkan kembali larangan impor Australia,” tandas Rama. [hc]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you