e-biz

Imbas Rupiah Anjlok, Harga Obat Terancam Naik: DPR Minta Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi

Penulis Rangga Bijak Aditya
Jun 05, 2026
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher. (Foto: Instagram/netty_heryawan)
Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher. (Foto: Instagram/netty_heryawan)

ThePhrase.id - Harga obat di Indonesia berpotensi mengalami kenaikan harga, imbas dari pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6).

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah untuk menyiapkan langkah antisipasi guna memastikan pasokan dan harga obat tetap terjangkau bagi masyarakat.

“Yang harus menjadi perhatian utama adalah jangan sampai masyarakat, terutama pasien yang bergantung pada obat rutin, menjadi pihak yang paling terdampak akibat gejolak ekonomi dan konflik global,” ujar Netty dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (4/6) dilansir laman resmi DPR RI.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah adanya informasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengenai kemungkinan kenaikan harga obat. Kondisi ini dipengaruhi tingginya ketergantungan industri farmasi nasional terhadap bahan baku impor.

Menurut Netty, situasi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan sektor farmasi Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup besar.

Ia menilai ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri membuat sistem kesehatan nasional rentan terhadap gejolak nilai tukar maupun gangguan rantai pasok internasional.

“Kita perlu menjadikan situasi ini sebagai alarm untuk mempercepat kemandirian farmasi nasional. Ketergantungan yang terlalu besar terhadap bahan baku impor membuat sistem kesehatan kita rentan terhadap fluktuasi nilai tukar maupun gangguan rantai pasok global,” katanya.

Netty turut menyampaikan apresiasi terhadap langkah BPOM dan pemerintah yang telah menyiapkan sejumlah strategi mitigasi, seperti diversifikasi sumber bahan baku, peningkatan produksi dalam negeri, penguatan pengawasan, serta percepatan akses terhadap obat-obatan. 

Meski demikian, ia menegaskan seluruh kebijakan tersebut harus berorientasi pada perlindungan masyarakat.

“Pasien hipertensi, diabetes, jantung, kanker, maupun penyakit kronis lainnya membutuhkan obat setiap hari. Karena itu, stabilitas harga dan ketersediaan obat harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Selain itu, Netty mendorong pemerintah memperkuat industri bahan baku farmasi nasional melalui dukungan riset, pemberian insentif kepada industri, dan kolaborasi lintas kementerian.

Ia juga meminta pemerintah melakukan pengawasan rutin terhadap harga obat di pasaran agar tidak terjadi lonjakan yang memberatkan masyarakat.

Netty menegaskan, negara harus menjamin hak masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak, termasuk akses terhadap obat-obatan yang aman, tersedia, dan terjangkau.

“Dalam situasi apa pun, negara harus hadir memastikan masyarakat tetap mendapatkan obat yang aman, tersedia, dan terjangkau. Jangan sampai kondisi global mengurangi hak rakyat untuk memperoleh layanan kesehatan yang layak,” tandasnya. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic