
Thephrase.id - Kans Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Asia 2031 terhenti di tengah jalan setelah AFC memutuskan mengakhiri seluruh proses bidding untuk edisi 2031 dan 2035.
Surat resmi penghentian itu dikirimkan kepada seluruh asosiasi anggota, termasuk PSSI, yang sebelumnya telah menyatakan minat untuk ikut dalam proses penentuan tuan rumah.
"Sehubungan dengan Pasal 8.1 Regulasi Penawaran untuk Kompetisi, dengan ini kami menyesal untuk memberitahukan bahwa proses penawaran saat ini untuk Kompetisi akan dihentikan sepenuhnya," tulis surat yang ditandatangani Sekjen AFC, Datuk Seri Windsor John.
Kebijakan ini diambil setelah FIFA mengirimkan komunikasi terbaru terkait rencana perubahan kalender pertandingan internasional.
Dalam usulan tersebut, Piala Asia diminta untuk digelar pada tahun genap, sehingga AFC perlu menyesuaikan keseluruhan jadwal kompetisi agar selaras dengan agenda global.
Dampak dari penyesuaian ini membuat AFC harus mengkaji ulang perencanaan turnamen secara menyeluruh, termasuk tahapan penentuan tuan rumah yang sebelumnya sudah berjalan.
"Keputusan ini diambil untuk menghindari ketidakpastian dalam pengaturan tuan rumah seiring AFC mengkaji implikasi penyesuaian kalender kompetisi," tegas Windsor.
Sebelum keputusan ini keluar, AFC telah lebih dulu mengumumkan daftar negara peminat tuan rumah Piala Asia 2031, dengan Indonesia menjadi salah satu kandidat.

Persaingan tidak ringan karena sejumlah negara lain seperti Australia, Korea Selatan, India, hingga Kuwait juga masuk dalam daftar, sementara Kirgistan, Tajikistan, dan Uzbekistan mengajukan diri secara bersama.
Proses bahkan telah memasuki tahap lanjutan di mana seluruh peserta diminta melengkapi dokumen teknis sebagai bagian dari evaluasi.
Bagi Indonesia, turnamen ini menjadi kesempatan untuk kembali mencatat sejarah setelah sebelumnya menjadi tuan rumah bersama pada Piala Asia 2007 bersama Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Akan tetapi, kebutuhan infrastruktur menjadi tantangan tersendiri, mengingat turnamen saat ini diikuti 24 tim yang membutuhkan kesiapan stadion dalam jumlah besar.
Sebagai perbandingan, Piala Asia 2023 di Qatar menggunakan sembilan stadion untuk menggelar seluruh pertandingan.
"Setelah pertimbangan ini diselesaikan dan proses penawaran baru diluncurkan, kami berharap dapat terus mengandalkan dukungan dan partisipasi penuh dari seluruh asosiasi anggota," tandas Windsor.