
ThePhrase.id - Sejumlah negara mulai mengingatkan masyarakatnya untuk menyiapkan persediaan makanan, air minum, dan kebutuhan pokok di rumah.
Melansir CNN Indonesia, Selasa (27/10/2026), Inggris, Jerman, dan Swedia telah menyebarluaskan panduan kesiapsiagaan kepada masyarakat. Warga diimbau menyimpan bahan pangan tahan lama, obat-obatan, dan air minum untuk menghadapi kemungkinan gangguan pasokan maupun layanan publik.
Jerman menyarankan masyarakat menyiapkan persediaan darurat untuk sepuluh hari, termasuk dua liter cairan per orang setiap hari. Sementara itu, Inggris meluncurkan kampanye Be Ready pada 22 Oktober 2026 yang mendorong setiap rumah tangga memiliki persediaan kebutuhan pokok untuk sedikitnya tiga hari.
Mengutip Tempo, Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting juga memperingatkan kemungkinan negaranya menghadapi perang dalam sekitar 1.000 hari ke depan. Dalam tulisannya di The Telegraph, ia menyebut negara-negara yang berpotensi menjadi lawan Inggris dapat memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan pada 2030.
Selain konflik bersenjata, Streeting menyoroti ancaman serangan siber, kejahatan terorganisasi, dan perubahan iklim yang dapat mengganggu infrastruktur vital. Meski demikian, pemerintah Inggris menegaskan bahwa kampanye Be Ready merupakan upaya memperkuat kesiapsiagaan nasional, bukan respons terhadap peringatan intelijen tertentu.
Di Swedia, pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi kemungkinan serangan bersenjata. Badan Pertahanan Sipil dan Ketahanan Swedia bahkan menyebut situasi keamanan saat ini sebagai yang paling serius sejak Perang Dunia Kedua.
Kesiapsiagaan darurat juga menjadi perhatian Jepang, meski fokus utamanya adalah ancaman bencana alam. Melansir Seoul Economic Daily, pemerintah Jepang berencana mengimbau masyarakat untuk menyimpan persediaan makanan dan air selama sedikitnya tiga hari, atau satu minggu jika memungkinkan.
Imbauan tersebut ditujukan untuk mengantisipasi bencana besar, termasuk gempa megathrust di Palung Nankai dan letusan Gunung Fuji. Bencana semacam ini berpotensi merusak jalan dan jaringan komunikasi sehingga menghambat distribusi bantuan.
Karena itu, pemerintah Jepang menilai persediaan mandiri penting agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar sebelum bantuan tiba. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mengurangi dampak bencana sekaligus memperkuat kesiapan masyarakat menghadapi keadaan darurat. [nadira]