Intan Andaru, Dokter-Sastrawan yang Gemar Mengabdi di Papua

- Advertisement -spot_imgspot_img

ThePhrase.id – Intan Andaru menjalani dua profesi sekaligus. Ia merupakan seorang dokter dan juga sastrawan. Intan juga sedang menjalani pendidikan spesialisnya pada bidang bedah urologi di Universitas Airlangga (Unair).

Sedangkan sebagai sastrawan, Intan telah mengeluarkan berbagai buku yang diterbitkan oleh penerbit-penebit terkemuka. Buku-bukunya adalah Perempuan Bersampur Merah (2019), Kami yang Tersesat pada Seribu Pulau (2018), 33 Senja di Halmahera (2017), Teman Hidup (2017), dan Namamu dalam Doaku (2015).

Dokter Intan Andaru dengan anak-anak sekolah di Halmahera Selatan. (Foto: instagram/andaruintan)

Buku-bukunya terinspirasi dari fenomena yang ia amati saat bertugas sebagai dokter dan juga tentang dunia medis. Intan mengabdi dan memiliki banyak pengalaman di daerah terpencil di Indonesia.

Perempuan kelahiran tahun 1990 ini memilih untuk menjadi dokter PTT, yakni dokter yang telah lulus dan memiliki STR (Surat Tanda Registrasi) yang bertugas di daerah terpencil secara sukarela demi memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan. Daerah tempatnya bertugas adalah di pedalaman Halmahera-Maluku Utara dan di Asmat, Papua.

Karyanya kemudian berisikan sosio-kultur terkait kejadian yang ia lihat dan rasakan. Meski begitu, pada awalnya, tulisan Intan bergenre romansa. Makin ia memiliki banyak pengalaman di daerah terpencil di Indonesia, makin ia ingin menulis budaya yang ia temui.

Dokter Intan Andaru. (Foto: instagram/andaruintan)

“Awalnya genre tulisan saya lebih ke romance. Sekarang ingin mengangkat budaya di daerah yang pernah saya singgahi,” ujar Intan dilansir dari tribunnews (22/07/2018).

Ternyata Intan telah menyukai dunia menulis sejak masih duduk di sekolah dasar (SD). Ia mengikuti lomba Bahasa Indonesia dan dari situ lah imajinasinya dalam mengarang makin berkembang. Kendati begitu, ia yang masih duduk di bangku SD tidak tahu harus diapakan setelah menulis. Barulah setelah duduk di bangku kuliah Intan menekuni hobi menulisnya lebih lanjut.

Salah satu bukunya mendapat banyak perhatian karena mengangkat sejarah tragedi kerusuhan agama di maluku Utara pada tahun 1998. Buku tersebut berjudul 33 Senja di Halmahera.

Dokter Intan Andaru dengan masyarakat Papua. (Foto: instagram/andaruintan)

Karya lainnya yang berjudul Perempuan Bersampur Merah juga ternyata diminati umum. Dapat dilihat melalui banyaknya penelitian yang dilakukan dari buku tersebut. Dilansir dari laman resmi Unair, setidaknya telah ada 10 artikel penelitian yang meneliti buku tersebut.

Bagi Intan, yang penting dalam menulis sebuah buku adalah bukan jumlah copy yang terjual. Tetapi bagaimana gagasan sang penulis dapat sampai kepada pembaca.

Berkat karya-karya cemerlangnya, Intan terpilih untuk mengikuti Residensi Penulis ASEAN-Jepang dengan karyanya yang memperkenalkan sosio-kultur Indonesia pada tahun 2017. Ia juga terpilih sebagai salah satu penerima Hibah Perempuan Pekerja Seni Cipta media Ekspresi pada tahun 2018.

Dokter Intan Andaru sedang mengobati salah satu warga di Asmat, Papua. (Foto: instagram/andaruintan)

Baru-baru ini (2021), Intan juga memenangkan Juara III Festival Sastra Universitas Gadjah Mada atas cerpen-cerpen tulisannya yang mengisahkan tentang eksploitasi Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam di Papua. Intan juga terpilih sebagai Penulis Emerging Indonesia Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2021.

Selain menulis, Intan juga pernah mendirikan komunitas RAK KACA (Gerakan Suka Membaca) di Halmahera Selatan. Inisiatifnya ini terbit dari melihat rendahnya literasi masyarakat di sana. Karena ia merupakan seorang pecinta literasi, munculah keinginan mendirikan komunitas tersebut dan juga perpustakaan umum pada tempatnya menjalankan PTT.

Perpustakaan Komunitas RAK KACA yang digagas dokter Intan Andaru di Halmahera Selatan. (Foto: instagram/andaruintan)

Intan yang sedang menempuh studi spesialis bedah urologi saat ini sedang fokus merampungkan pendidikannya sembari memiliki target menerbitkan novel yang pernah ia tulis selama berada di Papua.

“Pilihlah sesuatu bidang yang membuat bahagia, belajar setinggi-tingginya, dan tekuni hingga menjadi seseorang yang ahli di bidangnya,” pesan Intan, dikutip dari laman resmi Unair. [rk]

- Advertisement -spot_img

You might also likeRELATED
Recommended to you