
Thephrase.id - Gagasan Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk memisahkan aset komersial dalam sebuah entitas bisnis baru dan menjual 20 persen kepemilikannya kepada investor swasta berubah menjadi salah satu isu paling kontroversial yang dihadapi FIFA dalam beberapa tahun terakhir setelah memicu penolakan luas dari berbagai konfederasi dan pemangku kepentingan sepak bola internasional.
Sebelum rencana tersebut mencuat, posisi Infantino sebenarnya dinilai relatif aman karena selama hampir satu dekade memimpin FIFA ia berhasil meningkatkan distribusi dana kepada 211 asosiasi anggota sekaligus memperbesar investasi untuk berbagai program pengembangan sepak bola di berbagai negara.
Bagi banyak federasi anggota, khususnya dari negara-negara yang sangat bergantung pada bantuan FIFA untuk menjalankan operasional dan program sepak bola nasional, aliran dana yang terus meningkat selama era Infantino dianggap lebih penting dibandingkan berbagai kritik yang selama ini diarahkan kepada kepemimpinannya.
Keberhasilan FIFA mencatatkan pendapatan besar dari penyelenggaraan turnamen dan peningkatan distribusi dana kepada anggota membuat Infantino selama ini memiliki basis dukungan politik yang kuat di dalam organisasi tersebut.
Melansir ESPN, situasi itu berubah ketika muncul informasi mengenai rencana pembentukan anak perusahaan komersial FIFA yang akan membuka ruang bagi investor eksternal untuk memiliki sebagian kepentingan ekonomi dalam kompetisi-kompetisi yang berada di bawah kendali badan sepak bola dunia tersebut.
Kebocoran rencana tersebut langsung memicu reaksi keras dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Konfederasi Sepak Bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia (Concacaf), serta UEFA, sementara sejumlah tokoh internal FIFA, termasuk Chief Operating Officer Kevin Lamour dan penasihat senior Carlos Cordeiro, juga meninggalkan organisasi di tengah memanasnya situasi.
Tekanan yang muncul bahkan mencapai titik ketika UEFA dikabarkan mengancam akan menarik 55 asosiasi anggotanya dari kompetisi FIFA, sebuah langkah yang bisa mengurangi secara signifikan nilai ekonomi dan daya tarik berbagai turnamen internasional yang dikelola federasi tersebut.
Menghadapi gelombang penolakan yang terus membesar, Infantino akhirnya memilih menunda proyek tersebut pada akhir pekan lalu setelah menyadari dukungan yang dibutuhkan untuk meloloskan rencana itu tidak lagi tersedia.
"Saat investor eksternal memperoleh kepentingan kepemilikan dalam kompetisi FIFA, sepak bola akan berubah selamanya. Keuntungan komersial menjadi kewajiban permanen. Harapan investor menjadi tekanan harian," tulis UEFA.
Menurut pandangan para penentang proposal tersebut, masuknya investor eksternal ke dalam struktur kepemilikan kompetisi FIFA dapat mengubah orientasi organisasi dari badan pengatur olahraga menjadi entitas yang harus terus memenuhi ekspektasi keuntungan para pemegang saham.
Selain persoalan tata kelola, kritik juga muncul terhadap proses yang dijalankan FIFA karena asosiasi anggota disebut hanya memiliki waktu terbatas hingga 19 September 2026 untuk menyetujui transaksi tersebut. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai alasan di balik tenggat yang dinilai sangat cepat untuk keputusan dengan dampak jangka panjang terhadap sepak bola global.
Laporan mengenai ketertarikan perusahaan investasi Thrive Capital yang disebut menilai FIFA sekitar 20 miliar dolar AS (Rp360 triliun) juga memancing polemik karena tidak adanya proses penawaran terbuka yang memungkinkan investor lain mengajukan valuasi maupun proposal yang berbeda, sehingga memicu pertanyaan mengenai transparansi dan mekanisme penentuan mitra bisnis yang dipilih.
Di tengah kontroversi yang berkembang, banyak pihak mempertanyakan alasan Infantino mendorong proyek tersebut menjelang periode pemilihan FIFA berikutnya.
Mengingat gagasan itu bukan hanya menghadapi resistensi besar secara politik, tetapi juga dinilai tidak memberikan argumentasi bisnis yang cukup kuat untuk meyakinkan mayoritas anggota bahwa penjualan sebagian kepentingan ekonomi kompetisi FIFA merupakan langkah yang diperlukan bagi masa depan.