
ThePhrase.id - Eskalasi perang Amerika Serikat-Israel versus Iran tidak hanya berpotensi menyebabkan krisis energi maupun ekonomi global, tapi memunculkan kekhawatiran adanya aksi teror oleh kelompok ekstrimis.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo merespons situasi itu dengan menginstruksikan Densus 88 Antiteror Polri untuk meningkatkan pengawasan akan ancaman teror yang menganggu masyarakat.
Pertanyaannya, apakah kelompok teroris di Indonesia saat ini masih ada dan menjadi ancaman bagi stabilitas masyarakat?
Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia (JMI) Islah Bahrawi menegaskan kelompok teroris di Indonesia masih ada dan tidak akan pernah mati, wabilkhusus mereka yang terafiliasi dengan ideologi kanan maupun kiri.
Saat ini, kekuatan kelompok teroris di Indonesia melemah karena pijakan organisasinya masih sangat konvensional, hanya berbasis pada jaringan. Sementara itu, mata rantai jaringannya disebut sudah berhasil diputus Densus 88 Antiteror Polri.
Seakan menolak kalah, Islah menyebut mereka mulai menanggalkan tradisi konvensionalnya dan bermetamorfosis ke dalam bentuk non jaringan. Tetap berkelompok tapi tidak terafiliasi dengan kelompok lainnya. Cara kerjanya pun berubah, mereka bergerak dalam dunia digital.
"Jaringan-jaringan digital inilah kemudian yang mendorong beberapa orang untuk melakukan aksi-aksi sendiri atau yang disebut dengan lone actor," kata Islah kepada ThePhrase.id, Rabu (4/3).
Menurut Islah, teroris akan lebih sering menggunakan pola baru ini dengan menargetkan anak muda untuk menjadi pelaku teror. Dalam aksinya, mereka mempersiapkan dan melakukan aksi teror seorang diri. Kelompok ini menamakan dirinya The True Crime Community.
"Nah ini menghasilkan aksi teror seperti di SMA 72 di Jakarta Utara beberapa waktu lalu dan juga beberapa kejadian sejenis yang terjadi di Sulawesi dan di Kalimantan," ucapnya.
Di tengah kompleksitas persoalan agama hingga politik di Indonesia, kata Islah, pola baru terorisme tersebut menjadi gerakan yang tidak bisa diprediksi.
Islah menyebut aksi teror yang melandai hari-hari ini bukan pertanda tercerabutnya akar terorisme di Indonesia, melainkan hanya proses hibernasi sesaat. Mereka akan kembali melakukan aksi teror ketika momentumnya tercipta.
Perang AS-Israel dan Iran Alarm Kebangkitan Teroris
Islah menyebut situasi di Timur Tengah, khususon yang menyangkut isu Palestina akan menjadi alarm kebangkitan teroris dari masa hibernasi. Perang yang kini tengah berlangsung menjadi trajektori dalam melancarkan aksi terornya.
Menurutnya, aksi teror yang selama ini digalakkan berangkat dari sentimen anti Barat, anti Amerika, dan anti Israel. Kedua negara ini disebut menjadi wacana utama perlawanan "umat muslim" di Timur Tengah, sebagaimana yang dilakukan kelompok Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir.
Mereka, lanjut Islah, tidak memandang konflik di Timur Tengah, lebih-lebih yang menyangkut dengan Palestina sebagai konflik politik, melainkan sebagai isu Islam melawan Barat.
Wacana itu kemudian dialirkan ke Indonesia melalui tangan-tangan kelompok teroris seperti Al-Qaeda hingga ISIS yang kemudian melahirkan organisasi Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan lainnya. Kelompok tersebut memberikan trajektori gerakan teror di Indonesia.
"Nah, ini adalah bukti bahwa gerakan-gerakan teror di Indonesia yang terorganisir terutama itu ditentukan oleh konflik apa yang terjadi di Timur Tengah," tuturnya.
Senyampang, perang yang sedang berlangsung antara AS-Israel melawan Iran dinilai akan menstimulus kelompok militan ekstrim kanan untuk melakukan aksi teror di Indonesia.
Selain itu, langkah Presiden Prabowo Subianto yang terkesan tunduk terhadap Presiden Amerika Donald Trump dengan bergabung Board of Peace (BoP) hingga perubahan sikap terhadap Palestina, juga rentan mendapat perlawanan dari kelompok ekstrim kanan.
"Ini yang kemudian bisa membangkitkan gerakan-gerakan teror di Indonesia atas nama Palestina, atas nama Iran, dan tentu saja atas nama Islam," katanya.
Antisipasi Aparat dan Masyarakat
Potensi terjadinya aksi teror akibat perang di Timur Tengah perlu untuk diantisipasi semua pihak, tak terkecuali aparat dan masyarakat.
Aparat dinilai perlu beradaptasi dengan perbedaan metode yang digunakan antara teroris terdahulu dengan saat ini. Dulu, teroris berbasis jaringan dan organisasi yang bekerja secara berantai dari satu orang ke orang lain sehingga aparat mudah dalam surveilans, profiling, dan mapping.
Kini, teroris lebih bertumpu pada ruang digital dengan keterpaparan mandiri (lone actor). Menurut Islah, dibutuhkan kepiawaian dan keterampilan karena teori intelijen lama hampir tidak terpakai dalam pola baru mereka.
"Ketika hari ini terkonversi ke wilayah-wilayah digital, memang aparat keamanan kita harus lebih berhati-hati dan harus lebih jeli karena wilayahnya berbeda tapi jurisdiksinya sama. Wilayah digital dan wilayah fisik ini kan sebenarnya jauh sekali," terangnya.
Sementara itu, masyarakat juga diminta selalu waspada dan membentengi diri sendiri, keluarga, dan warga setempat dari ideologi-ideologi kekerasan. Langkah itu, kata Islah, disebut community policing atau pemulisian komunitas.
Di tengah situasi ekonomi dan politik di Indonesia maupun global yang tidak menentu, masyarakat diminta untuk lebih waspada dengan upaya agitasi, penghasutan, hingga pemecahbelahan.
"Masyarakat juga harus bisa membangun kesadaran bersama, bahwa kita harus berdiri dalam tujuan damai dibanding dengan konflik-konflik," pungkasnya.
Di lain kesempatan, Juru Bicara Densus 88 Polri Kombes Mayndra menyampaikan instruksi dari Kapolri untuk meningkatkan pengawasan terhadap ancaman teror menjelang Idul Fitri 1447 dan di tengah memanasnya situasi global.
"Sebagaimana arahan Kapolri, terhadap adanya penilaian bahwa situasi global sedang memanas saat ini, yang mana selain melibatkan banyak negara juga melibatkan banyak kelompok dan kepentingan," kata Mayndra, Selasa (3/3).
Dia pun menegaskan jajarannya siap meningkatkan pengawasan terhadap ancaman teroris yang menggangu masyarakat.
"Oleh karena itu, Densus 88 turut meningkatkan pengawasan terhadap ancaman terorisme yang berpotensi mengganggu kemanan masyarakat," tandasnya. (M Hafid)