
Thephrase.id - Piala Dunia 2026 telah menjadi isu besar dalam sepak bola internasional seiring munculnya dinamika politik yang melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan memunculkan respons dari sejumlah negara.
Keterlibatan Trump mulai memantik kontroversi setelah kebijakan larangan perjalanan yang diberlakukannya mencakup beberapa negara yang telah memastikan kelolosan ke putaran final Piala Dunia 2026.
Polemik tersebut kemudian berlanjut ketika Trump menerima FIFA Peace Prize pada undian Piala Dunia 2026 pada Desember 2025, yang disusul pernyataan bernada ancaman terhadap negara-negara Eropa terkait sikap mereka dalam isu Greenland.
Dalam konteks tersebut, wacana boikot Piala Dunia 2026 mencuat dari berbagai negara, termasuk kekuatan besar sepak bola dunia, dengan setidaknya tujuh negara menyatakan sikap atau tanggapan terkait kemungkinan penolakan untuk berpartisipasi.
Jerman menjadi negara pertama yang dikaitkan dengan opsi boikot setelah politisi Jurgen Hardt menyebut bahwa tim nasional asuhan Julian Nagelsmann dapat mempertimbangkan ketidakhadiran sebagai bentuk respons atas kebijakan politik Trump.
Namun, Federasi Sepak Bola Jerman kemudian mengeluarkan klarifikasi resmi yang menegaskan bahwa opsi boikot tidak masuk dalam agenda organisasi tersebut saat ini.
"Sebagaimana telah disampaikan Presiden DFB Bernd Neuendorf, boikot terhadap Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada saat ini tidak sedang dipertimbangkan," tegasnya.
Prancis, yang juga pernah menjuarai Piala Dunia, turut menghadapi dorongan serupa, meski Menteri Olahraga Prancis Marina Ferrari menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada keputusan untuk mengambil langkah boikot.
"Saya tidak akan memprediksi apa yang mungkin terjadi, tetapi pada tahap ini boikot belum menjadi pertimbangan," bebernya.
Denmark yang belum memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 masih memiliki peluang melalui jalur play-off, namun federasi sepak bola negara tersebut mengakui adanya perhatian khusus terhadap potensi penolakan suporter untuk melakukan perjalanan ke Amerika Utara.
Federasi Sepak Bola Denmark menyatakan bahwa mereka memahami konteks situasi yang berkembang dan terus memantau dinamika yang ada.
"Kami menyadari situasi sensitif yang sedang berlangsung saat ini," imbuhnya.
Belgia memilih untuk menempatkan fokus utama pada aspek olahraga, sembari tetap mencermati perkembangan politik di luar lapangan.
"Saat ini kami berfokus pada persiapan olahraga menuju Piala Dunia, sambil tetap memantau perkembangan di luar ranah olahraga," tuturnya.
Belanda turut menghadapi tekanan domestik setelah sebuah petisi yang menentang partisipasi mereka di Piala Dunia 2026 berhasil mengumpulkan lebih dari 100.000 tanda tangan, meski federasi setempat menyatakan belum ada rencana untuk meninjau ulang keikutsertaan.
Afrika Selatan juga masuk dalam daftar negara yang didorong untuk menarik diri, dengan politisi Julius Malema secara terbuka menyerukan federasi sepak bola nasional agar mengambil langkah tegas.
"SAFA harus mengambil keputusan untuk menarik diri dan tidak terlibat dalam Piala Dunia yang digelar di Amerika," ucapnya.
Sementara itu, ketegangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat kembali berdampak pada sepak bola setelah sebagian delegasi Iran mengalami penolakan visa menjelang undian Piala Dunia 2026.
Meski akhirnya sejumlah perwakilan tetap hadir di Washington D.C., Presiden Federasi Sepak Bola Iran Mehdi Taj termasuk dalam jajaran pejabat yang tidak mendapatkan izin masuk ke Amerika Serikat.