
ThePhrase.id - Pemerintah terus memperluas jaringan gas bumi rumah tangga (jargas) sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemanfaatan gas bumi domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Pengembangan jargas ditargetkan mencapai 1 juta sambungan rumah (SR) pada 2028.
Target tersebut disampaikan Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI Purnawirawan Dudung Abdurachman saat meninjau kesiapan pengoperasian jargas di Gresik, Jawa Timur, pada Jumat (18/9/2026).
Lantas, apa manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dari semakin luasnya jaringan gas bumi ini?
Salah satu perbedaan utama jargas dengan LPG terletak pada sistem distribusinya. Jika LPG digunakan dalam bentuk tabung yang perlu dibeli dan diganti ketika habis, jargas menyalurkan gas bumi langsung ke rumah melalui jaringan pipa.
Sistem ini membuat masyarakat tidak perlu bergantung pada ketersediaan tabung LPG di tingkat konsumen selama jaringan dan pasokan gas beroperasi. Kebutuhan energi untuk memasak juga dapat dipenuhi melalui jaringan yang sudah terhubung ke rumah.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sendiri mencatat pengelolaan jargas telah menjangkau sekitar 827 ribu sambungan rumah di 18 provinsi dan 74 kabupaten/kota. Melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2026-2029, pemerintah menargetkan pengembangan sekitar 350 ribu sambungan rumah setiap tahun melalui berbagai skema pendanaan.
Selain dari sisi kemudahan, jargas juga diharapkan dapat memberikan biaya energi yang lebih terjangkau. Hal ini terutama relevan bagi masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menggunakan gas sebagai bagian dari kebutuhan sehari-hari.

Dudung menyebut penggunaan gas melalui jaringan berpotensi menekan pengeluaran masyarakat. Ia mencontohkan biaya yang sebelumnya mencapai Rp70.000 dapat turun menjadi sekitar Rp20.000.
“Otomatis kalau misalnya gas itu dengan harga yang tadi saya sebutkan Rp 70.000, terutama bagi perekonomian, UMKM, yang kemudian akhirnya cuma Rp 20.000, ini akan sangat membantu, artinya meringankan beban masyarakat. Mudah-mudahan ke depannya lagi akan dikembangkan semakin banyak Jargas,” kata Dudung.
Besaran biaya yang dibayarkan masyarakat tentunya tetap bergantung pada ketentuan harga gas dan pola penggunaan di masing-masing wilayah. Namun, apabila biaya penggunaannya lebih rendah, jargas dapat membantu mengurangi pengeluaran energi rumah tangga maupun biaya operasional UMKM.
Perluasan jargas juga berkaitan dengan kebutuhan energi nasional. Pemerintah menyebut sekitar 80% kebutuhan LPG nasional masih dipenuhi melalui impor. Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber daya gas bumi yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.
Jargas menjadi salah satu infrastruktur yang memungkinkan gas bumi tersebut digunakan langsung oleh masyarakat di wilayah yang telah memiliki jaringan dan pasokan yang memadai.
Gambaran dampaknya terlihat dari proyek jargas di Gresik dan Sidoarjo. Dengan 14.586 sambungan rumah, penggunaan LPG 3 kilogram di kedua wilayah tersebut diperkirakan berkurang sekitar 36.600 tabung per bulan.
Artinya, ketika jaringan gas semakin luas dan dapat beroperasi secara optimal, sebagian kebutuhan energi yang selama ini dipenuhi LPG dapat dialihkan ke gas bumi.
Dengan demikian, perluasan jargas tidak hanya menawarkan alternatif bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan energi sehari-hari, tetapi juga dapat memberikan manfaat dari sisi biaya dan ketahanan energi. [nadira]