
Thephrase.id - Kasus pembajakan siaran sepak bola kembali memasuki babak baru setelah pemimpin jaringan streaming ilegal asal Inggris, Mark Gould, menghadapi ancaman tambahan hukuman penjara hingga 10 tahun apabila gagal mengembalikan dana sebesar 2,35 juta poundsterling atau sekitar Rp47,9 miliar dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.
Vonis lanjutan ini muncul setelah sebelumnya ia dijatuhi hukuman 11 tahun penjara atas keterlibatannya dalam penyediaan siaran ilegal Premier League melalui layanan bernama Flawless service pada 2023, yang menjadi salah satu operasi pembajakan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan The Athletic, Pengadilan Derby Crown Court kemudian mengeluarkan perintah penyitaan aset pada awal pekan ini, yang mewajibkan Gould mengembalikan seluruh keuntungan hasil kejahatan tersebut sebagai bagian dari proses hukum lanjutan.
Dalam pengungkapan kasusnya, jaringan Flawless diketahui memiliki sekitar 30 pekerja dan melayani hingga 50.000 pelanggan aktif, sekaligus menghasilkan lebih dari 7 juta poundsterling atau setara Rp142,7 miliar dalam periode lima tahun operasi ilegalnya.
Penyelidikan terhadap jaringan ini tidak berhenti setelah vonis awal dijatuhkan, karena aparat penegak hukum terus menelusuri aliran dana dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam ekosistem distribusi siaran ilegal tersebut.
Empat terdakwa lain yang juga dinyatakan bersalah dalam jaringan yang sama, termasuk yang mengoperasikan layanan dengan nama Shared VPS, Optimal, dan Cosmic, diperintahkan mengembalikan total 1,4 juta poundsterling atau sekitar Rp28,5 miliar jika tidak ingin menghadapi tambahan hukuman penjara.
Secara keseluruhan, nilai penyitaan terhadap lima terdakwa mencapai 3,75 juta poundsterling atau setara Rp76,4 miliar, menjadikannya salah satu jumlah terbesar kedua yang pernah diperintahkan pengadilan Inggris dalam kasus pembajakan siaran olahraga.
Dana hasil penyitaan dari aktivitas kriminal tersebut akan dialokasikan kepada kas negara, lembaga peradilan, serta aparat penegak hukum sebagai bagian dari upaya menekan kejahatan serupa di masa mendatang.
Kasus Flawless berawal dari penuntutan privat yang dilakukan oleh pihak Premier League bersama organisasi antipembajakan FACT sejak 2017, yang kemudian berkembang menjadi penyelidikan besar lintas lembaga.
"Saya sangat puas dengan keputusan penyitaan dalam jumlah sebesar ini," ujar Doug Love.
"Penting untuk memastikan bahwa pelaku yang terdorong oleh keserakahan tidak bisa menikmati hasil kejahatan mereka, dan siapa pun yang tergoda melakukan pelanggaran serupa harus jera melihat hukuman penjara yang dijatuhkan serta besarnya nilai penyitaan dalam kasus ini," tegasnya.
Tren hukuman berat terhadap pelaku streaming ilegal juga terlihat di berbagai negara Eropa, termasuk kasus di Spanyol. Pekan lalu seorang operator yang dijuluki 'Dash, The Iranian' dijatuhi denda 7,5 juta poundsterling atau sekitar Rp152,9 miliar serta hukuman penjara 23 bulan setelah penyelidikan selama delapan tahun.
Fenomena konsumsi siaran ilegal pun masih tinggi, sebagaimana terungkap dalam sebuah survei terhadap lebih dari 5.000 pelanggan yang menunjukkan bahwa 47 persen responden mengaku menonton pertandingan sepak bola melalui layanan streaming ilegal.