trending

Jepang Buang Limbah Nuklir ke Laut, Apa Dampaknya ke Perairan Indonesia?

Penulis Nadira Sekar
Aug 29, 2023
Foto: Ilustrasi Pembuangan Limbah (freepik.com photo by teksomolika)
Foto: Ilustrasi Pembuangan Limbah (freepik.com photo by teksomolika)

ThePhrase.id - Jepang akhirnya merealisasikan wacana pelepasan limbah radioaktif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima yang rusak ke Samudera Pasifik.

Sejak terjadinya bencana tsunami pada tahun 2011 yang mengakibatkan kerusakan pada PLTN Fukushima tersebut, lebih dari satu juta ton air limbah yang telah mengalami proses pengolahan terakumulasi di lokasi tersebut. 

Badan Pengawas Nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa (IAEA), yang dikenal sebagai Badan Energi Atom Internasional, telah mengeluarkan laporan yang memberikan dukungan terhadap keputusan tersebut. 

Melansir Republika.co.id, IAEA menyampaikan bahwa hasil analisis independen yang dilakukan di lokasi tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi tritium dalam air yang akan dibuang berada jauh di bawah batas operasional sebesar 1.500 becquerel per liter (Bq/L). Batas ini enam kali lebih rendah daripada batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk air minum, yakni 10.000 Bq/L, yang merujuk pada tingkat radioaktivitas.

Meski demikian, sejak pengumuman rencana ini dua tahun lalu, rencana tersebut telah menuai kontroversi yang cukup besar baik dari masyarakat Jepang maupun dari berbagai negara tetangga.

Dilansir dari BBC.com, berdasarkan survei yang dilakukan oleh surat kabar Asahi Shimbun, dilaporkan bahwa hanya 53% masyarakat Jepang yang mendukung keputusan tersebut, sedangkan 41% menyatakan tidak mendukungnya. Selain itu, pakar hak asasi manusia PBB serta aktivis lingkungan hidup juga turut menentang rencana tersebut.

China menjadi negara yang paling vokal dalam penentangan keputusan ini. Pihaknya mengklaim bahwa Jepang telah melanggar kewajiban moral dan hukum internasional, serta menempatkan kepentingan egoisnya di atas kesejahteraan jangka panjang seluruh umat manusia. 

Tidak seperti China, Korea Selatan – yang memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki hubungan dengan Jepang – tidak begitu vokal dalam mengungkapkan kekhawatirannya. Pemerintah Seoul telah mengumumkan bahwa mereka "menghormati" hasil penelitian IAEA dan memberikan dukungan terhadap rencana tersebut.

Namun, sikap ini telah menimbulkan kemarahan di kalangan masyarakat Korea Selatan. Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa sekitar 80% dari masyarakat mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap potensi dampak dari pelepasan air limbah tersebut.

Bagaimana Respons Pemerintah Indonesia?

Melansir detik.com, Profesor Hefni Effendi, Kepala Pusat Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) di IPB University, menjelaskan bahwa Indonesia tidak dapat serta-merta menolak tindakan yang diambil oleh Jepang. Ini disebabkan oleh keterlibatan Indonesia dalam konvensi internasional seperti Konvensi London tentang Pencegahan Pencemaran Laut.

Namun demikian, Hefni menyarankan agar pilihan terbaik adalah untuk tidak membuang limbah radioaktif ke perairan lepas, mengingat khawatirnya tentang pencemaran lintas batas atau transboundary pollution melalui arus laut.

Pendapat ini sejalan dengan pandangan Yudi Utomo Imardjoko, seorang pakar nuklir dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menyatakan bahwa limbah nuklir mengandung zat radioaktif dengan masa paruh yang panjang. Peluruhannya dapat berdampak merugikan terhadap ekosistem perairan dunia.

Zat radioaktif dapat memiliki dampak yang bervariasi terhadap hewan dan manusia. Bagi manusia, efeknya termasuk pusing, sakit kepala, epilepsi, kehilangan kesadaran, potensi kanker, dan bahkan risiko kematian jika paparannya tinggi. Untuk hewan, zat radioaktif dapat menyebabkan kematian, terutama pada biota laut yang terkontaminasi.

Meski demikian, melansir CNNIndonesia.com, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa pembuangan limbah nuklir dari Fukushima ke laut yang sedang berlangsung saat ini tidak akan berdampak pada kondisi laut di Indonesia.

Djarot Sulistio Wisnubroto, seorang profesor riset di Pusat Riset Teknologi Daur Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Radioaktif di BRIN, membandingkannya dengan insiden kebocoran Reaktor Fukushima pada tahun 2011.

Setelah kejadian tersebut, berdasarkan pemantauan oleh para ahli, ia menjelaskan bahwa tidak ada dampak signifikan yang ditemukan di perairan Indonesia. Padahal, pada saat kecelakaan terjadi, banyak kontaminan radioaktif dilepaskan ke laut.

Ia menjelaskan bahwa limbah nuklir yang dibuang ke laut adalah limbah yang telah diolah dengan zat radioaktif yang rendah sehingga tidak akan memiliki efek negatif pada biota laut maupun manusia.

Selain itu, Djarot memprediksi bahwa arus laut yang berasal dari Fukushima akan lebih cenderung mengarah ke timur daripada ke selatan atau Indonesia. Namun, ia mencatat bahwa setelah jangka waktu tertentu, terdapat kemungkinan arus laut tersebut akan menuju ke selatan.

"Namun patut diketahui bahwa Jepang melepas air terolah tersebut selama 30 tahun, jadi sangat perlahan. Bersamaan dengan itu tritium juga akan meluruh (waktu paruh tritium 12,5 tahun, artinya dalam jangka waktu tersebut konsentrasinya tinggal separuhnya). Jadi kalau sampai perairan Indonesia maka kadarnya sudah bisa diabaikan," jelasnya. [nadira]

 

 
Related News

Popular News

 

News Topic