lifestyle

Job Hugging: Ketika Bertahan di Pekerjaan Jadi Pilihan di Tengah Ketidakpastian

Penulis Firda Ayu
Aug 09, 2026
Ilustrasi job hugging (Foto: magnific.com/diana.grytsku)
Ilustrasi job hugging (Foto: magnific.com/diana.grytsku)

ThePhrase.id – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan pasar kerja yang tidak menentu, memiliki pekerjaan yang stabil kini menjadi sesuatu yang berharga, terutama bagi para generasi muda seperti Gen Z dan Milenial. 

Jika dulu loyalitas terhadap satu perusahaan sering dianggap sebagai nilai utama dalam berkarier, kini banyak orang memilih bertahan di pekerjaan karena alasan yang lebih kompleks. Mulai dari kebutuhan finansial, tekanan hidup, hingga kekhawatiran sulit mendapatkan pekerjaan baru.

Fenomena ini dikenal sebagai job hugging, yaitu kondisi ketika seseorang memilih tetap bertahan di pekerjaannya meski sebenarnya sudah tidak merasa puas atau ingin mencoba peluang baru.

Menurut Alodokter, ada banyak alasan yang membuat seseorang mengalami job hugging. Ketakutan tidak mampu beradaptasi di lingkungan kerja baru, rasa tidak percaya diri terhadap kemampuan diri, hingga kekhawatiran gagal menghadapi tantangan baru sering menjadi penghalang untuk melangkah.

Selain itu, tanggung jawab sehari-hari dan kebutuhan akan penghasilan yang stabil juga membuat banyak pekerja muda lebih memilih bertahan di zona aman. Belum lagi adanya pandangan dari lingkungan sekitar yang menganggap terlalu sering berpindah pekerjaan sebagai tanda kurang loyal atau tidak memiliki arah karier yang jelas.

Meski terlihat sebagai pilihan yang aman, terus bertahan di pekerjaan yang sudah tidak memberikan kepuasan juga dapat membawa dampak dalam jangka panjang.

Meski terlihat sebagai pilihan aman, job hugging bukanlah kondisi tanpa konsekuensi. Ketika seseorang bekerja tanpa motivasi dan merasa tidak berkembang, kondisi tersebut dapat memengaruhi produktivitas, kreativitas, hingga kesehatan mental. Rasa lelah secara fisik dan emosional atau burnout bisa muncul, sementara kesempatan untuk mengembangkan keterampilan dan mengejar jenjang karier baru semakin terbatas.

Jika berlangsung terus-menerus, mengabaikan kebahagiaan dalam pekerjaan juga dapat meningkatkan risiko munculnya masalah psikologis, seperti rasa cemas berlebih hingga depresi.

Dalam jangka panjang, kebahagiaan yang terus terabaikan dapat meningkatkan risiko gangguan mental, seperti gangguan kecemasan atau depresi.

Namun, menghadapi job hugging bukan berarti harus langsung mengambil keputusan besar seperti resign. Yang terpenting adalah memahami kondisi diri dan mulai menyusun langkah secara perlahan.

Tips Menghadapi Job Hugging

  • Refleksi diri secara berkala: Coba evaluasi kembali alasan kamu bertahan di pekerjaan saat ini. Refleksi dapat membantu membedakan antara loyalitas dengan rasa takut yang membelenggu.
  • Tingkatkan keterampilan dan pengetahuan: Ikuti pelatihan atau kursus untuk meningkatkan keterampilan. Semakin banyak kemampuan yang dimiliki, kamu akan semakin berani untuk melepaskan diri dari situasi kerja yang toxic.
  • Bangun kepercayaan diri: Jangan abaikan hal-hal kecil yang berhasil kamu capai. Mencatat perkembangan dan kontribusi selama bekerja dapat membantu menyadari nilai diri serta kemampuan yang selama ini mungkin tidak terlihat.
  • Diskusikan kondisi dengan orang tepercaya: Cobalah berbagi cerita dengan mentor atau teman yang suportif. Terkadang, mendengar sudut pandang orang lain bisa menyadarkanmu akan pilihan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
  • Rencanakan perubahan secara bertahap: Rasa cemas bisa diredam dengan rencana yang matang. Mulailah merapikan portofolio, memperluas koneksi, atau mencari informasi pekerjaan lain sambil tetap menjalankan pekerjaan saat ini. Dengan persiapan yang matang, perubahan bisa terasa lebih aman dan terarah. [fa]

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic