sportTimnas Indonesia

Kasus Passportgate Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Kembali Memanas di Belanda, 133 Laga Terancam Diulang

Penulis Rangga Bijak Aditya
May 02, 2026
Putusan pengadilan terkait status kewarganegaraan yang dijadwalkan keluar pada Senin, 4 Mei 2026 bisa memicu situasi krisis dalam sepak bola Belanda. (Foto: Instagram Dean James)
Putusan pengadilan terkait status kewarganegaraan yang dijadwalkan keluar pada Senin, 4 Mei 2026 bisa memicu situasi krisis dalam sepak bola Belanda. (Foto: Instagram Dean James)

ThePhrase.id - Putusan pengadilan terkait status kewarganegaraan yang dijadwalkan keluar pada Senin, 4 Mei 2026 bisa memicu situasi krisis dalam sepak bola Belanda. Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) mengingatkan bahwa dampaknya bisa mengacaukan kompetisi kasta tertinggi di negara tersebut.

Perkara yang disidangkan di Utrecht bermula dari gugatan NAC Breda terhadap keabsahan bek Go Ahead Eagles, Dean James, saat kedua tim bertemu pada 15 Maret 2026 dalam laga yang berakhir dengan kemenangan telak 6-0 untuk Go Ahead Eagles.

NAC Breda menilai James tidak memenuhi syarat tampil karena sebelumnya menerima tawaran untuk membela Timnas Indonesia pada Maret 2025, Hal ini membuatnya memperoleh kewarganegaraan Indonesia sekaligus secara otomatis kehilangan status sebagai warga negara Belanda.

Dalam argumentasinya, NAC Breda menyebut perubahan kewarganegaraan tersebut membuat James seharusnya memerlukan izin kerja untuk tetap bermain di Belanda meski masih memegang paspor, sehingga keikutsertaannya dalam pertandingan dinilai tidak sah.

NAC Breda kemudian meminta agar hasil pertandingan dibatalkan dan laga diulang. Akan tetapi permohonan itu ditolak oleh dewan kompetisi KNVB yang memutuskan skor tetap berlaku dan tidak ada pengulangan pertandingan meskipun telah diberi tahu soal status pemain tersebut.

Tidak berhenti di situ, NAC Breda membawa kasus ini ke pengadilan di Utrecht. Kedua pihak telah memaparkan argumen masing-masing dalam persidangan pekan ini dan menunggu keputusan resmi yang akan diumumkan pada Senin, 4 Mei 2026.

Dalam pernyataan resminya pada 15 April 2026, NAC Breda menegaskan bahwa mereka tidak akan memberikan komentar tambahan sampai pengadilan mengeluarkan putusan akhir atas perkara tersebut.

Sementara itu, laporan ESPN.nl mengungkap bahwa pihak KNVB dalam pembelaannya menyebut sedikitnya 11 pemain di Eredivisie berpotensi terdampak oleh persoalan serupa. Mereka telah terlibat dalam setidaknya 133 pertandingan musim ini, sehingga satu keputusan untuk mengulang laga bisa membuka jalan bagi pembatalan banyak pertandingan lainnya.

"Kami berpikir kekacauan akan terjadi karena banyak klub lain telah membuat catatan keberatan," kata Wakil Presiden KNVB, Mariane van Leeuwen, kepada ESPN.nl.

"Jika NAC menang, klub-klub lain juga akan mengajukan gugatan singkat, dan itu bisa berarti kompetisi tidak dapat diselesaikan," lanjutnya.

Di sisi lain, CEO NAC Breda Remco Oversier menyatakan bahwa langkah hukum yang diambil klub semata-mata bertujuan melindungi kepentingan timnya di tengah ketidakjelasan regulasi yang terjadi.

Sesuai aturan, klub-klub di Belanda wajib mengajukan keberatan atas kelayakan pemain maksimal delapan hari setelah pertandingan berlangsung, dan NAC Breda telah memenuhi ketentuan tersebut dalam kasus ini.

Kasus serupa sebelumnya juga sempat diajukan oleh TOP Oss di divisi kedua terkait pemain Willem II, Nathan Tjoe-A-On, akan tetapi klub tersebut menerima keputusan KNVB tanpa melanjutkan perkara ke pengadilan.

Fenomena ini turut berkaitan dengan meningkatnya penggunaan pemain diaspora oleh Indonesia. Negara dengan populasi terbesar keempat di dunia ini dalam beberapa waktu terakhir mengandalkan pemain keturunan, terutama yang berbasis di Belanda, untuk meningkatkan kualitas Timnas Indonesia.

Data dari Direktur Perlindungan WNI, Judha Nugraha, menyebut lebih dari 2,2 juta warga Indonesia tinggal di luar negeri. Sekitar 1,7 juta di antaranya berada di Belanda.  Sementara skuad Timnas Indonesia pada jeda internasional Maret diisi 15 pemain kelahiran Belanda dari total 23 pemain.

Regulasi di Belanda dan Indonesia yang tidak mengizinkan kewarganegaraan ganda bagi orang dewasa membuat pemain yang memilih membela Indonesia secara otomatis kehilangan status kewarganegaraan Belanda, yang berimplikasi pada izin kerja mereka di klub.

Situasi ini tidak hanya dialami pemain yang memilih Indonesia, karena sejumlah pemain internasional Suriname yang bermain di klub Belanda juga sempat mengalami kendala serupa sebelum status mereka diselesaikan.

Kasus Passportgate Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Kembali Memanas di Belanda  133 Laga Terancam Diulang
Kasus passportgate yang melibatkan pemain naturalisasi Timnas Indonesia kembali memanas. (Foto: Instagram Dean James)

Undang-undang kewarganegaraan Belanda secara tegas menyatakan bahwa warga negara dewasa yang secara sukarela memperoleh kewarganegaraan lain akan kehilangan status kewarganegaraan Belanda, kecuali dalam kondisi tertentu seperti melalui pernikahan.

Pemerintah Belanda menyatakan bahwa mereka berupaya membatasi kepemilikan kewarganegaraan ganda, sementara Indonesia juga tidak mengizinkan status tersebut bagi warga di atas usia 18 tahun.

Kasus ini pertama kali mencuat ke publik melalui laporan Voetbal International pada Maret 2025, yang mengungkap potensi dampak dari perubahan kewarganegaraan pemain terhadap status hukum mereka di kompetisi domestik.

Dalam persidangan, laporan tersebut turut disinggung oleh hakim ketika KNVB berargumen bahwa banyak pihak di dunia sepak bola belum sepenuhnya memahami implikasi aturan kewarganegaraan tersebut.

Dean James mengaku sempat kebingungan dengan situasi yang terjadi hingga harus berlatih terpisah dari tim sebelum status izin kerjanya diselesaikan.

"Situasinya sangat aneh, semuanya bermula ketika muncul di media soal banding dari NAC, lalu saya dipanggil keluar dari gym dan diberi tahu bahwa mereka ingin mengajukan keluhan, sementara saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar James disadur The Athletic.

"Saya sempat tidak tahu harus berbuat apa dan kemudian tidak bisa bermain, rasanya seperti kembali ke masa pandemi ketika harus berlatih sendiri, tetapi setelah berdiskusi dengan pengacara, saya tahu masalah ini bisa diselesaikan dan tinggal menunggu proses dari pihak imigrasi," sambungnya.

Pengalaman serupa juga diungkapkan pemain lain seperti Tim Geypens yang mengaku merasa seperti berada di Belanda secara ilegal setelah perubahan status kewarganegaraan, serta Luciano Slagveer yang menilai kurangnya riset menjadi bagian dari penyebab masalah tersebut.

Apabila pengadilan memutuskan memenangkan KNVB, hasil pertandingan antara Go Ahead Eagles dan NAC Breda akan tetap sah tanpa konsekuensi lanjutan.

Akan tetapi, jika gugatan NAC Breda dikabulkan, laga tersebut akan dinyatakan tidak berlaku dan harus diulang, yang berpotensi memicu gelombang gugatan serupa meskipun sebagian besar kasus tidak lagi berada dalam batas waktu delapan hari. (Rangga)

Artikel Pilihan ThePhrase

 
Banyak dibaca
Artikel Baru
 

News Topic