
ThePhrase.id – Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih belum berhasil dipadamkan hingga Jumat (7/8). Api pertama kali muncul pada Senin (3/8) sekitar pukul 17.00 WIB di Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, kemudian meluas hingga ke sejumlah wilayah lain, termasuk Watu Gede di Kabupaten Probolinggo dan mengarah ke Jemplang, Kabupaten Malang.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief menjelaskan luas savana Gunung Bromo yang terbakar diprediksi mencapai 80 hektare berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
"Hingga Rabu (5/8) malam terpantau sekitar 80 hektare savana yang sudah terbakar berdasarkan informasi dari TNBTS dan luasan tersebut bisa bertambah seiring belum juga padam dan masih ada titik api," kata Oemar di Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (6/8).
Operasi pemadaman hingga kini terus dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas BNPB, BPBD Jawa Timur, BPBD Kabupaten Malang, BPBD Kabupaten Probolinggo, BPBD Kabupaten Lumajang, Balai Besar TNBTS, Polisi Kehutanan, TNI, Polri, relawan, serta masyarakat peduli api. Berbagai upaya dilakukan, termasuk pembuatan sekat bakar, penyemprotan menggunakan truk tangki air, hingga pemadaman manual di sejumlah titik api.
Karena lokasi kebakaran berada di lereng Kaldera Bromo dengan medan yang curam dan sulit dijangkau, BPBD Jawa Timur juga mengerahkan drone water spray berkapasitas 150 liter untuk membantu penyiraman sekaligus memetakan titik api di area yang sulit diakses.
Selain itu, BNPB menyiapkan dua unit helikopter water bombing untuk memperkuat pemadaman dari udara, serta menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) apabila kondisi atmosfer memungkinkan.
Meski sejumlah titik api sempat tidak terlihat pada Rabu (5/8) malam, kobaran api kembali muncul pada Kamis (6/8) dini hari.
"Pada Rabu (5/8) sekitar pukul 22.00 WIB titik api sebetulnya sudah tidak terlihat. Namun pada Kamis (6/8) pukul 04.00 WIB api kembali muncul. Kondisi itu dimungkinkan terjadi karena masih adanya bara yang menyimpan panas dan ditambah hembusan angin cukup kencang di lokasi," kata Kepala Balai Besar TNBTS Rudijanta Tjahja Nugraha.
Proses pemadaman hingga kini masih menghadapi sejumlah kendala. Selain kontur lereng yang terjal, petugas juga harus menghadapi vegetasi berupa semak dan serasah yang mudah terbakar, angin kencang yang mempercepat rambatan api, serta keterbatasan sumber air. Bahkan, untuk mengambil pasokan air, petugas membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan pulang-pergi.
Untuk mempermudah akses bantuan water bombing dan modifikasi cuaca dari pemerintah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Kabupaten Probolinggo juga telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla hingga Oktober 2026.
Hingga Jumat (7/8), belum ada laporan korban jiwa akibat kebakaran tersebut. Tim gabungan masih terus melakukan upaya pemadaman untuk mencegah api meluas ke kawasan konservasi lainnya. BNPB juga mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk mematuhi penutupan sementara sejumlah jalur wisata agar operasi penanganan kebakaran dapat berlangsung optimal. [fa]