
ThePhrase.id - Dunia fashion tidak pernah kehabisan cara untuk mendefinisikan ulang gaya hidup kita. Jika beberapa waktu lalu tren quiet luxury sempat mendominasi dengan kemewahan yang tenang, kini muncul sebuah estetika baru yang sedang hangat diperbincangkan, yakni Literary Chic.
Sesuai namanya, gaya ini terinspirasi dari dunia literatur, akademik, dan intelektualitas yang kemudian diterjemahkan ke dalam cara berpakaian sehari-hari. Bukan sekadar soal busana, literary chic juga mencerminkan identitas dan minat seseorang. Estetika ini lekat dengan sosok yang gemar membaca, memiliki ketertarikan pada seni dan budaya, serta memandang pengetahuan sebagai bagian dari gaya hidup.
Popularitasnya pun terus meningkat. Bahkan, Pinterest memasukkan Poetcore sebagai salah satu tren yang diprediksi akan banyak diminati sepanjang 2026. Estetika ini memiliki keterkaitan erat dengan dunia sastra, puisi, dan nuansa romantis yang penuh refleksi.
Ciri paling mencolok dari tren ini adalah bagaimana buku beralih fungsi menjadi aksesori utama. Penampilan seorang pencinta literary chic biasanya dilengkapi dengan:
Menariknya, fenomena ini mulai dilirik oleh dunia luxury fashion. Banyak desainer ternama yang merilis koleksi tas dan aksesori mewah yang terinspirasi langsung dari bentuk buku maupun karya sastra klasik.

Selain itu, literary chic juga banyak mengadopsi elemen gaya prep dan akademik. Beberapa fashion item wajibnya antara lain:
Meski begitu, tren ini sama sekali tidak kaku. Kamu tetap bisa bereksplorasi dengan gaya feminin, minimalis, bahkan kasual, selama vibe keseluruhan tetap memancarkan kesan intelektual dan berbudaya.
Meningkatnya minat terhadap literary chic juga dianggap sebagai respons terhadap kejenuhan banyak orang terhadap tren yang datang dan pergi begitu cepat. Di tengah budaya media sosial yang serba instan dan berorientasi pada viralitas, semakin banyak orang yang mencari gaya yang terasa lebih personal, autentik, dan memiliki makna.
Karena itu, literary chic bukan sekadar tren fashion musiman. Gaya ini mencerminkan perubahan cara pandang terhadap identitas diri, di mana kecintaan pada buku, pengetahuan, dan kreativitas menjadi sesuatu yang layak ditampilkan. [nadira]